{"id":91245,"date":"2020-11-27T06:26:23","date_gmt":"2020-11-26T23:26:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91245"},"modified":"2022-01-27T16:07:04","modified_gmt":"2022-01-27T09:07:04","slug":"preman-pensiun-mencerminkan-garut-sebagai-kota-preman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-mencerminkan-garut-sebagai-kota-preman\/","title":{"rendered":"&#8216;Preman Pensiun&#8217; Mencerminkan Garut sebagai Kota Preman"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Apakah dengan adanya tayangan pencopet bikin orang-orang jadi takut naik angkot?&#8221; Tanya Aris Nugraha, penulis skenario film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ia melanjutkan, &#8220;Justru, dengan adanya tayangan seperti itu, orang-orang jadi belajar dan berhati-hati saat naik angkot di Bandung.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernyataan Kang Aris, sengaja saya kutip di sini. Tujuannya, untuk men-disclaimer dulu bahwa tulisan ini tidak bermaksud menakuti-nakuti Anda bahwa kota saya adalah kota preman. Namun, supaya ada semacam antisipasi ketika Anda kelak berkunjung ke kota kami. Sebab, saya masih ingat pernyataan lucu dari para pendaki asal Jakarta. Mereka mengatakan tidak takut sama kisah-kisah mistis di Gunung Guntur. Namun, yang mereka takuti ketika ke Garut cuma satu hal: preman-premannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu pun, dalam tulisan saya yang dimuat di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di rubrik Malam Jumat tentang<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/mmh\/corak\/maljum\/mendaki-gunung-guntur-ditampaki-babi-mata-merah-dan-suara-sayup-perempuan-penunggu-gunung\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kisah mistis di Gunung Guntur<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Usai saya bagikan di Facebook tulisan tersebut, komentar para pendaki dari berbagai kota hampir serupa. Betapa ketakutannya mereka sama preman-preman di Garut, bukan malah takut sama hantu-hantunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Saat saya ketik \u201cPreman Pensiun\u201d di kolom pencarian Terminal Mojok, banyak sekali teman-teman penulis dari luar Jawa Barat yang telah membahas film ini. Mulai dari mereview, menghitung keuntungan bisnis kicimpring Kang Mus, hingga kekaguman teman-teman sama beberapa aktor di film ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ada yang perlu diketahui oleh teman-teman di film ini. Adalah kisah di film ini mencerminkan bahwa Garut sebagai kota preman. Pendapat ini, setidaknya menurut saya seorang. Memang, saya pribadi belum pernah ngobrol dengan Kang Aris terkait hal ini meski kami sesama asli orang Garut. Seandainya saya dipertemukan dengan beliau, saya pasti akan mewawancarainya dan mempertanyakan, apa benar filmnya ini diangkat dari preman-preman orang Garut? Dan, jika saya berhasil mewawancarainya, sudah pasti akan saya kirim ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika saya perhatikan, Kang Aris ini sangat peka melihat kondisi kota kelahirannya. Meski, ia belum pernah menyatakan bahwa film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">diangkat dari kisah preman di kotanya. Lantas, bagaimana saya meyakini bahwa film ini mencerminkan Garut sebagai kota preman?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Diceritakan, sinetron maupun film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">diawali dengan kisah Kang Bahar yang merantau dari Garut ke Bandung. Di kota Kembang, ia mengadu nasib. Sebab, masa depannya tidak jelas. Ia menghadapi berbagai rintangan dan ujian. Hingga kemudian menjadikan Kang Bahar sebagai sosok preman yang sangat disegani kawan maupun lawannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita Kang Bahar sama persis seperti preman-preman yang ada di Garut. Ketika mereka merasa tinggal di Garut sudah sumpek, tujuan utamanya adalah menjadi jagoan di Bandung. Di kota yang dijuluki sebagai Paris van Java itu, memang beberapa preman dari Depok, Bogor, dan semacamnya, ada juga di sana. Namun, preman dari Garut kerap kali disegani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Imbasnya adalah dulu sekira 2000-an, bagi lelaki yang berasal dari Garut kalau berkenalan dengan warga Jawa Barat lainnya sering kali disegani. Mendengar kalimat \u201cSaya dari Garut, A.\u201d Langsung mereka bersalaman sembari agak membukukan punggung. Seolah takut sama kami. Padahal, kami tidak bangga disegani. Dan, kami tidak bangga juga ketika membaca data prestasi yang dikukuhkan oleh<\/span><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/doddyhidayat\/551b206da33311ea21b65d4b\/garut-kukuhkan-prestasi-gudang-preman-nasional\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Kompas<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mengenai Garut sebagai gudang preman nasional. Gila.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga sekarang, sebagian orang, khususnya anak-anak jalanan, masih saja ada yang menganggap begitu sama kota Garut. Mereka agak sedikit ketakutan. Dalihnya, kota saya ini bisa menyakiti tanpa perlu memukuli. Alias, jago nyantet. Benar, saya akui, di sini ada daerah perihal persantetan, tetapi saya pikir udah aja lah. Tidak perlu dilebih-lebihkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, alasan film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mencerminkan Garut sebagai kota preman, ini dilihat dari beberapa aktornya seperti Kang Mus alias Epy Kusnandar misalnya, yang memang lahir di Garut. Beliau alumni SMA N 1 Garut. Lalu, ada Kang Cecep alias Abenk Makro yang berasal dari Garut juga dan berprofesi sebagai seorang guru, dan lain sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatikan lah sosok Kang Mus, betapa diseganinya beliau. Lihat lah sosok Kang Cecep yang ambisius sekali. Dua karakter yang membentuk sebagaimana preman-preman di Garut yang seringkali menguasai terminal-terminal di Bandung. Lebih dari itu, saya kemudian masih ingat pernyataan Epy Kusnandar saat pemutaran perdana film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Di XXI Ramayana Mall Garut, ia bilang, \u201cIni karena film orang Garut. Penulis naskah dan sutradaranya sampai pemainnya dari Garut\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikit tambahan, saya tidak akan menyebutkan dua nama sekolah (Anak STM) di Garut yang memiliki rivalitas dengan kebarbaran luar biasa. Siswa di dua sekolah itu sudah macam calon preman saja di masa depannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, dalam hal ini, saya yakin bahwa film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebenarnya diangkat dari kisah preman-preman di Garut yang pernah jaya pada masanya, tepatnya di 80-an. Meskipun, sejauh ini, Kang Aris masih tutup mulut untuk mengatakannya. Dan, mohon jangan tanya kenapa lokasi syuting film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di Bandung, bukan dari Garut yang pada dasarnya pemain, juga sutradaranya berasal dari Garut. Tentu saja nama kota kami tidak begitu menjual.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-sunda-pesta-pernikahan-dianggap-wah-ketika-menggelar-acara-dangdutan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Di Sunda, Pesta Pernikahan Dianggap \u2018Wah\u2019 Ketika Menggelar Acara Dangdutan\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya yakin bahwa film Preman Pensiun sebenarnya diangkat dari kisah preman-preman di Garut yang pernah jaya pada masanya, tepatnya di 80-an.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":53287,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13082],"tags":[4326,7557,6711],"class_list":["post-91245","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sinetron","tag-garut","tag-preman","tag-preman-pensiun"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91245","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91245"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91245\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/53287"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91245"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91245"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91245"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}