{"id":91007,"date":"2020-12-03T07:34:52","date_gmt":"2020-12-03T00:34:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91007"},"modified":"2020-12-04T21:18:18","modified_gmt":"2020-12-04T14:18:18","slug":"pengalaman-saya-yang-pernah-pacaran-dengan-seorang-jamaah-atau-syarifah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-yang-pernah-pacaran-dengan-seorang-jamaah-atau-syarifah\/","title":{"rendered":"Pengalaman Saya yang Pernah Pacaran dengan Seorang Jamaah atau Syarifah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya cinta itu benar-benar tidak bisa direncanakan. Kita nggak tahu kapan dan kepada siapa kelak hati akan jatuh. Anjay, sudah seperti Sujiwo Tejo saja. Akan tetapi, ini beneran, karena selama saya mengarungi samudra kasmaran, tidak pernah ada rencana ingin sama siapa dan kenapa. Keinginan dan ekspektasi mungkin ada, tapi memang sudah dasarnya cinta itu nggak rasional, maka tidak diduga-duga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman asmara saya tidak sampai sejauh orang-orang lain yang cintanya beda agama atau kewarganegaraan. Tidak sejauh itu. Namun, sejauh ini cinta saya pernah beda aliran dan nasab. Iya, nasab. Bukan nasabah, ya. Nasab itu adalah garis keturunan. Beberapa tahun silam, saya menjalin hubungan dengan seorang perempuan &#8220;jamaah&#8221; atau &#8220;syarifah.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk yang belum tahu, &#8220;jamaah&#8221; atau &#8220;syarifah&#8221; adalah sebutan untuk orang-orang Arab Hadrami yang memiliki nasab keturunan langsung ke Nabi Muhammad. Kalau kalian familiar dengan gelar &#8220;Habib,&#8221; mereka itu termasuk daripada jamaah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam tradisi Arab-Indonesia, khususnya yang berasal dari Hadramaut, ada penyebutan untuk orang Arab dan non-Arab. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, jamaah merujuk pada orang-orang Arab Hadrami yang memiliki nasab keturunan langsung ke Nabi Muhammad melalui garis keturunan cucunya, Husein bin Ali. Sedangkan untuk &#8220;orang biasa&#8221; seperti kita ini disebut dengan &#8220;ahwal.&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa disebut ahwal? Yang saya ketahui dari teman saya yang jamaah, katanya karena ahwal berasal dari kosakata bahasa Arab &#8220;\u0627\u0647\u0644&#8221; yang artinya keluarga. Jadi, mereka menggunakan kalimat itu karena konotasi dan arti secara etimologis tetap positif, begitu ceunah, mah. Tambahan informasi lain, para Arab-Indonesia jamaah keturunan Hadrami itu juga disebut dengan sebutan &#8220;sayyid\/syarif &#8221; bagi laki-laki, dan &#8220;sayyidah\/syarifah&#8221; bagi perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, pemahaman untuk para diaspora Hadramaut itu bukan hal baru, sebab dari kecil saya sudah sangat dekat. Di kampung ibu saya, kegiatan keagamaan dan pendidikan dipegang oleh keluarga Hadrami bermarga Alatas yang memiliki yayasan pendidikan dan agama. Ibu saya bersekolah di yayasan tersebut. Bahkan, saudara saya saja ada yang menikahi keluarga tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berlanjut di pesantren, saya mulai mengenal tradisi keislaman yang lebih luas, menyentuh tradisi Islam yang dibawa oleh kelompok Arab-Indonesia asal Hadrami. Saya mulai mengenal maulid, ratib, dan tentu saja mengenal majelis pengajian yang dipimpin oleh seorang Habib. Begitulah, jadi bukan suatu hal yang sangat baru jika bicara soal pemahaman tentang kelompok Arab-Indonesia asal Hadrami tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, seumur-umur saya belum pernah terpikirkan untuk dekat atau jatuh hati dengan seorang syarifah dari jamaah. Tidak sama sekali. Sedikit pun. Seperti kalimat pembuka pada tulisan ini, saya akhirnya percaya bahwa cinta tidak bisa direncanakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin orang-orang yang lain berpikir, ada apa jika berhubungan dengan seorang jamaah, dan maksudnya beda nasab itu apa? Apakah sebuah masalah yang sangat besar dan patut diperhatikan dengan saksama? Bagi orang awam, mungkin jawabannya tidak ada masalah dan santai-santai saja. Namun, bagi yang sedikit memahami tradisi Arab-Indonesia jelas masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasab bagi jamaah adalah sesuatu yang sangat penting, karena termasuk dalam menjaga dan memelihara tradisi. Sebenarnya tidak hanya bagi jamaah, tapi juga orang-orang Arab pada umumnya. Yang saya ketahui begitu. Akan tetapi, bagi jamaah nasab keturunan langsung ke Nabi Muhammad adalah sesuatu yang sangat sakral dan mesti dipertahankan. Oleh karena itu, seorang syarifah atau jamaah perempuan &#8220;dilarang&#8221; untuk menikahi selain jamaah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang mah mikirnya, &#8220;Gokil, Alif bisa dapat pacar orang Arab euyyy.\u201d Mohon maaf, kalian cuma lihat enaknya, sebetulnya sangat banyak rintangannya. Kalau kamu tetap keukeuh, saya kasih tahu saja risikonya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama, <\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">hubungannya tidak akan pernah lama. Pasalnya, tradisi tersebut cukup kencang dan dalam, Sob. Bisa saya katakan, dalam tradisi Arab-Indonesia asal Hadrami, menjaga nasab adalah harga yang sangat besar. Nggak percaya? Monggo silahkan tanya ke temanmu yang seorang jamaah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua,<\/i><\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">meskipun bertahan pasti tidak akan pernah tenang. Sekali pun berhasil sampai tahap menikah, kemungkinan besar akan dijauhi dalam keluarga besarnya. Sebab kita dianggap telah memutuskan tali nasab dan keturunan dari Nabi Muhammad. Pasalnya, dalam Islam, nasab itu kan dari laki-laki, gitu. Cerita ini saya dapatkan dari teman saya. Keluarga teman saya ini ada yang sampai menikah dengan seorang jamaah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga, <\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">kamu juga harus berurusan dengan orang-orang yang sangat mencintai komunitas Arab-Indonesia asal Hadrami. Saya sebenarnya juga termasuk cinta, sebab saya mengamalkan ilmu dari pondok bahwa kita harus menghormati anak-cucu keturunan guru. Dan bagi saya Nabi Muhammad adalah seorang guru. Masalahnya, saya dulu malah kebablasan jatuh cinta. Haduhhh~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, orang-orang yang mencintai para sayyid dan sayyidah itu kadang-kadang malah lebih kencang melarang. Yang lebih ekstrem saya temui bahkan sampai menghina-hina. Ya Allah, sampai segitunya, ya. Kenapa saya bisa tahu? Lantaran saya sendiri mengalami hal tersebut ketika saya pacaran dengan seorang jamaah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asli, kalau kita lihat dalam perspektif yang fundamental dalam Islam, sebenarnya Islam adalah agama yang egaliter dan tidak melihat seseorang melainkan dari kadar keimanan. Kalau kita lihat sekilas, tradisi demikian kok agak bertentangan. Dalam masalah ini juga, banyak fatwa dan dalil-dalil yang ternyata mengurusi hal ini. Serius ada, loh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti masalah kufu, atau dalam bahasa Arab &#8220;kafaah&#8221; yang membahas masalah kesepadanan dan lain sebagainya. Lalu, ada lagi dalil hukum yang menyertakan syarat-syarat jika hendak menikahi jamaah, yang dalam salah satu poinnya (saya banyak lupanya, maaf) harus meminta rida wali dari perempuan jamaah. Ada pendapat ulama yang bilang, kalau walinya cukup keluarga. Ada yang bilang, walinya adalah seluruh jamaah keturunan Nabi Muhammad. Hadehhh, coba itu kalau minta rida satu-satu. Saya kutip dari<\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/kita-harus-bisa-memilah-antara-sayid-dan-habib-chc8\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Tirto.id<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, jumlahnya saja sekitar 500 ribu sampai 1,5 juta. Gempor, dah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai sekarang, masalah boleh atau tidaknya seorang ahwal menikah dengan jamaah memang melahirkan perbedaan pendapat. Walaupun memang hari ini banyak jamaah yang tidak memegang secara ketat tradisi menjaga nasab keturunan tersebut. Akan tetapi, ya, tetap lebih banyak yang memegang tradisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada yang salah, dan bagi saya tradisi demikian bukanlah hal yang salah. Setidaknya, biarlah dulu itu jadi kisah dari hidup saya. Saya sudah jauh lebih bahagia dengan pasangan saya yang menggemaskan. Sementara mantan kekasih saya sudah bahagia dengan jalannya sendiri. Tidak hanya saya, kakak tingkat saya saja ada juga yang cintanya terhalang nasab, Sob.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu gimana? Pernah merasakannya juga, nggak?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meskipun-nggak-pernah-pacaran-saya-ogah-ikut-gerakan-indonesia-tanpa-pacaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Meskipun Nggak Pernah Pacaran Saya Ogah Ikut Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran<\/strong><\/a> <b><\/b><b><\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\"><b>Nasrulloh Alif Suherman<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Jamaah&#8221; atau &#8220;syarifah&#8221; adalah sebutan untuk orang-orang Arab Hadrami yang memiliki nasab keturunan langsung ke Nabi Muhammad.<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":92333,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9702,9710,167,9709],"class_list":["post-91007","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jamaah","tag-nasab","tag-pacaran","tag-syarifah"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91007","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91007"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91007\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92333"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91007"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91007"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91007"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}