{"id":90899,"date":"2020-11-30T07:32:53","date_gmt":"2020-11-30T00:32:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90899"},"modified":"2020-11-29T20:16:12","modified_gmt":"2020-11-29T13:16:12","slug":"es-cincau-es-cendol-dan-es-goyobod-mana-yang-paling-segar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/es-cincau-es-cendol-dan-es-goyobod-mana-yang-paling-segar\/","title":{"rendered":"Es Cincau, Es Cendol, dan Es Goyobod: Mana yang Paling Segar?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara umum, iklim di wilayah kota saya bisa dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah sehingga udaranya paling dingin di Jawa Barat. Maka dari itu, kalau Anda pengguna Twitter, lalu melihat Garut sedang trending, ini biasanya disebabkan karena cuaca. Jika dipetakan, rata-rata suhu di sini mencapai 15 derajat celcius. Bahkan, di kawasan pegunungan bisa lebih rendah dari itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama saya tinggal di wilayah yang dingin, perut saya sering kali keroncongan. Ini sebabnya di usia sekarang, saya masih suka jajan makanan-makanan seperti cilok, cimol, cireng isi, dan cilung. Kebetulan, saya pernah membahas empat makanan berbahan aci tersebut<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cilok-cimol-cireng-isi-dan-cilung-mana-yang-paling-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> <span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, saya kadang geleng-geleng kepala, kenapa cuaca di Garut kalau di siang hari sekalinya panas bisa panas banget. Orang-orang di sini suka tiba-tiba langsung keluar dari kompleks perumahan dan mencari minuman-minuman segar, di antaranya es cincau, es cendol, dan es goyobod.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tiga jenis minuman itu, saya kemudian membandingkan, minuman mana sih yang paling segar. Setidaknya, dalam sudut pandang saya. Kebetulan es cincau, es cendol, dan es goyobod adalah minuman tradisional masyarakat Sunda. Sehingga, minuman-minuman ini eksistensinya bukan di Garut saja. Terlebih, selain karena menyegarkan, tiga jenis minuman ini bisa didapat dengan harga sekitar Rp 3000-5000.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Es cincau<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari saya SD hingga sekarang, es cincau masih menjadi pilihan utama bagi saya. Dulu, saya pernah bertanya sama mang-mang penjual cincau tentang bagaimana proses pembuatan minuman yang dijualnya. Maksud saya, kok bisa tumbuhan atau daun cincau menjadi semacam agar-agar. Kan unik, gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira jawaban mang-mang penjual cincau, proses pembuatan cincau ini diawali dengan peredaman daun cincau dulu. Lalu, daun diremas-remas dan dihancurkan. Kemudian, ia diberi soda kue sebagai bahan pengawet. Bisa berbentuk agar-agar karena daun cincau ini mengandung karbohidrat yang mampu mengikat menjadi molekul-molekul air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya tidak keliru, kata \u201ccincau\u201d ini diambil dari minuman sienchau yang berasal dari kalangan Tionghoa. Soal kesegarannya, ini bisa saya jelaskan begini. Pertama, cincau ini kan macam-macam bentuknya. Ada yang memang bentuknya sesuai warna daunnya yaitu hijau dan melebar besar. Ada juga yang warnanya hitam dan berbentuk kotak-kotak. Saya lebih suka cincau berbentuk kotak-kotak. Sebab, biasanya cincau hitam ini kerap dijadikan campuran es lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, cincau hitam kotak-kotak kalau dipadukan dengan santan berwarna pink, lalu dikasih gula merah, dicampurin es batu, udah paling segar ketimbang cincau hijau yang memang mulai sekarang agak sulit dijumpai penjualnya. Panas terik matahari emang paling top buat minum es cincau, khususnya cincau warna hitam berbentuk kotak-kotak, sih.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Es cendol<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cendol yang saya maksud di sini, bukan cendol dawet. Tapi, es cendol aja. Gambarannya begini, bentuk dari es cendol ini hanya butiran-butiran kecil yang berwarna hijau. Biasanya di bawah airnya, ada gula merah kental yang kudu Anda kocok-kocok pakai sedotan, itu pun kalau beli es cendolnya dibungkus pakai plastik. Berbeda dengan disantap langsung di tempat, yaitu pakai mangkuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minuman khas Sunda yang satu ini sebenarnya awalnya terbuat dari tepung kacang hijau. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, kini cendol terbuat dari tepung beras yang kemudian disajikan dengan es parut, gula merah cair, dan santan. Pedagang minuman ini biasanya mangkal di siang hari saat cuaca sedang panas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, minuman ini cukup manis dan menyegarkan. Namun, saran saya, perhatikan rasa dari es cendol yang kamu pesan. Sebab, biasanya suka kerasa banget tuh bahan pengawetnya..<\/span><\/p>\n<h4>#3 Es goyobod<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waini, barangkali bagi masyarakat luar Sunda, minuman ini belum populer seperti dua minuman di atas. Kebetulan es goyobod ini berasal dari Garut dan sudah bisa didapatkan di daerah Jawa Barat lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Es goyobod ini sama sih seperti cendol, umumnya disajikan dengan tambahan serutan es, sehingga cocok disantap di siang hari. Bedanya, goyobod memiliki lebih banyak isian dibandingkan cendol. Seperti potongan buah nangka dan alpukat misalnya, lalu ada parutan kelapa. Selain itu, tentu yang bikin gemes adalah jeli kenyalnya yang berwarna merah muda dan terbuat dari tepung hunkwe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun goyobod tidak sepopuler cendol, tetapi minuman ini masih tetap bisa ditemukan dengan mudah di daerah Jawa Barat. Nah, kalau kata orang Garut, meminum satu gelas goyobod bisa cukup mengenyangkan, selain menyegarkan tentu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, menurut kamu, mana yang paling segar?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/preman-pensiun-mencerminkan-garut-sebagai-kota-preman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u2018Preman Pensiun\u2019 Mencerminkan Garut sebagai Kota Preman<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Es cincau, es cendol, dan es goyobod adalah minuman tradisional masyarakat Sunda. Sehingga, minuman ini eksistensinya bukan di Garut saja.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":91683,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9679,4525],"class_list":["post-90899","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-es-cendol","tag-es-dawet"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90899","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90899"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90899\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91683"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90899"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90899"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90899"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}