{"id":90639,"date":"2020-11-27T06:44:42","date_gmt":"2020-11-26T23:44:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90639"},"modified":"2020-11-26T18:19:25","modified_gmt":"2020-11-26T11:19:25","slug":"naik-gunung-untuk-mengobati-patah-hati-itu-niat-yang-konyol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/naik-gunung-untuk-mengobati-patah-hati-itu-niat-yang-konyol\/","title":{"rendered":"Naik Gunung untuk Mengobati Patah Hati Itu Niat yang Konyol"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu manuver hidup saya di sepanjang 2020 ini adalah, mendadak keranjingan naik gunung. Terhitung sejak Juli lalu, per bulan saya mesti punya agenda buat mendaki. Bahkan, sekarang ini saya dan teman saya sedang menyusun agenda buat ekspedisi seven summit. Pelan-pelan dari seven summit Jawa, dilanjutkan seven summit Indonesia. Bismillah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun penyebab di balik keranjingan saya terhadap gunung tidak lain tidak bukan adalah lantaran patah hati yang nggak berkesudahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, saya sebenarnya nggak pernah kebayang bakal menjadi diri saya yang sekarang. Saya kadang heran sama diri sendiri, kok bisa ya orang ringkih nan mageran ini tiba-tiba jadi addict banget naik turun gunung? Sebelum ini, dibanding naik gunung saya jelas lebih memilih kafe atau pantai sebagai destinasi liburan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bahkan sempat berada di posisi sinis banget sama para pendaki. Saya sering banget mencibir mereka, kok ada ya jenis orang yang rela ngeluarin duit banyak, tenaga banyak, dan menantang risiko bahaya cuma buat naik gunung? Apa nikmatnya coba? Eh setelah saya coba sendiri, mendaki gunung ternyata menyimpan kepuasan dan ketenangan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, dengan begitu, saya merasa perlu ngucapin terimakasih kepada pacar, eh, maksudnya mantan pacar yang sudah mutusin saya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Empat tahun dan harus berhenti di jalan, hadeeeh. Sebab, kalau bukan karena diputusin, saya nggak mungkin menemukan diri saya yang lain. Ya walaupun sebagian diri saya yang lain itu adalah kamuuu, jiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memutuskan mendaki juga karena mengikuti saran dari temen-temen dekat saya. Sebab, saya sendiri waktu itu benar-benar kehabisan cara buat move on. Pekerjaan saya juga agak amburadul karena nggak fokus dan kehilangan mood.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi mikir, cupu banget, masa gara-gara satu cewek, seluruh hidup saya jadi luluh lantak begini? Wah, nggak bisa dibiarin nih. Akhirnya, mendaki menjadi salah satu pilihan dan upaya saya buat melupakan mbak mantan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, pertama kali mendaki, niat saya memang buat self healing. Lebih tepatnya buat sembuh dari sakit hati sekaligus ngelupain mantan. Nggak tahu sih, niat ini benar atau salah. Tapi, yang penting kan nggak berniat buat menaklukkan alam, melainkan buat menaklukkan diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendakian pertama saya adalah Gunung Lawu. Pendakian pertama yang sungguh bikin perasaan dan pikiran saya jadi plong dan los dol. Selama berada di atas, bayangan dan kenangan tentang mantan saya buang jauh-jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya bertekad, turun dari gunung, nggak ada lagi kenangan-kenangan manis taek itu. Fokus sama diri sendiri dan yang nggak kalah penting adalah fokus sama kerjaan. Sebab, mengutip pepatah bijak dari almarhum Pakde Didi Kempot, \u201cSing wis yo wis, lara ati ya oleh, ning tetep kerjo lho yo. Sebab urip ora iso diragati nganggo tangismu (Yang sudah ya sudah, sakit hati boleh, tapi tetep kerja lho ya. Sebab hidup nggak bisa dibiayai dengan tangismu).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, apakah setelah turun gunung kondisi hati saya bener-bener membaik? Apakah yang patah langsung tumbuh, yang hilang terus berganti, dan yang hancur lebur bisa terobati? Oh ternyata nggak segampang itu. Justru ingatan tentang mantan malah kian menjadi-jadi. Duh, wis angel tenan tuturane.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, sempat tebersit dalam kepala saya, \u201cBagi orang yang patah hati, naik gunung tetap menjadi hal yang sia-sia.\u201dAtas ketidaksembuhan hati saya ini, jadinya malah gunung yang saya salah-salahin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya saya sadar kalau cara berpikir semacam itu adalah segoblok-gobloknya cara berpikir. Lah ya enak aja mengambinghitamkan gunung. Sementara, pada prinsipnya yang bertanggung jawab atas kesembuhan hati ini seharusnya ya saya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau urusan dalam diri saya atau kita belum selesai, mau naik Gunung Everest terus guling-guling sampai bawah juga nggak bakal ngaruh. Tetap saja nyesek kalau kebiasaan kita cuma mengingat-ingat kenangan bersama mantan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini nih yang bikin naik gunung jadi sia-sia. Gunung sudah memberi sedikit ketenangan dan penawar sakit, eh kitanya saja yang kembali menyakiti diri sendiri. Ingatlah wahai saudaraku senasib-seperambyaran, sesungguhnya mengenang mantan adalah perbuatan menyakiti diri sendiri dan itu termasuk ke dalam perbuatan yang teramat zalim. Catat itu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab gini, Rek, persis seperti yang dibilang sama komika pakar patah hati, Wira Nagara, bahwa naik gunung hanyalah salah satu dari sekian alternatif untuk mengobati luka. Bukan yang bertindak sebagai penyembuh itu sendiri. Sebab, sembuh atau nggak, pada akhirnya balik ke diri masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini pesan penting juga buat temen-temen. Kalau ada teman kalian yang tetep nggak move on walaupun sudah bolak-balik naik gunung, ingat, jangan salahin aktivitas mendakinya. Sudah jelas dirinya sendiri yang bermasalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sering mengalami. Kalau beberapa kali kedapatan lagi galau, pasti ada saja yang ngecengin, \u201cLoh, mana oleh-olehnya dari naik gunung? Self healing terosss, tapi sakit hatinya nggak kelar-kelar.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya saya sih nggak mau banyak komentar. Sebab saya sendiri merasakan, betapa ngilangin sakit itu nggak kayak ngilangin masuk angin, yang tinggal minum Antangin JRG langsung bablas angine.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, sekarang ini saya nyoba ganti niat saja. Naik gunung nggak lagi saya niati sebagai upaya buat self healing, melainkan self reward. Itung-itung buat menghadiahi diri sendiri yang sudah mau survive sama sakit hati yang nggak kunjung sembuh ini.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/forum-diskusi-anak-jurusan-tasawuf-nggak-kalah-absurd-dari-anak-filsafat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Forum Diskusi Anak Jurusan Tasawuf Nggak Kalah Absurd dari Anak Filsafat <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi orang yang patah hati, naik gunung tetap menjadi hal yang sia-sia. Cara berpikir begitu adalah segoblok-gobloknya cara berpikir.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":3210,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[265,4872],"class_list":["post-90639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mendaki-gunung","tag-pencinta-alam"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90639"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90639\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3210"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}