{"id":90483,"date":"2020-11-28T06:28:40","date_gmt":"2020-11-27T23:28:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90483"},"modified":"2020-11-26T23:30:08","modified_gmt":"2020-11-26T16:30:08","slug":"terminal-mojok-mengubah-pandangan-saya-tentang-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terminal-mojok-mengubah-pandangan-saya-tentang-jogja\/","title":{"rendered":"Terminal Mojok Mengubah Pandangan Saya tentang Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa minggu ini, saya jadi orang yang sibuk. Bukan bermaksud sombong, tapi memang ada beberapa tugas di sekolah yang datangnya keroyokan kayak anak STM. Ndilalah, deadline-nya mepet-mepet. Hidup udah berasa kata robot aja. Nggak asik blas. Suami pun sama. Sungguh minggu-minggu ini adalah minggu yang melelahkan bagi kami berdua. Bikin saya jadi nggak sempet nulis di <em>Terminal Mojok.<\/em><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, meskipun sibuk kami tidak pernah kehilangan waktu untuk duduk bareng dan ngobrol tentang apa saja. Nah, di salah satu obrolan kami, tiba-tiba suami bilang dia kangen Jogja. Dia menyarankan bagaimana kalau nanti, saat pekerjaan sudah mulai longgar, sekeluarga\u00a0 jalan-jalan ke Jogja? Itung-itung refreshing. Botak juga kali terus-terusan uplek pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya meringis. Dari sekian banyak tempat, kenapa harus Jogja? Padahal terhitung sudah berkali-kali kami sekeluarga ke Jogja. Ternyata, ide jalan-jalan ke Jogja itu berawal dari Indomaret. Jadi, pas beli jajan buat anak-anak di Indomaret, ada lagu tentang Jogja yang kebetulan sedang diputar. Lagu itu begitu membekas dan terngiang-ngiang meski sudah sampai rumah. Saking penasarannya, suami sampai cari tahu di google lagu apa yang tadi dia dengar di Indomaret.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Thanks to Google, akhirnya terjawab sudah rasa penasaran itu. Ternyata, lagu yang suami saya dengar adalah lagu berjudul \u201cSesuatu di Jogja\u201d yang dinyanyikan oleh Adhitia Sofyan. Bukan lagu baru, memang. Tapi itu adalah kali pertama lagunya nyangkut di telinga sampai kebawa ke hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJogja itu penuh kenangan. Bikin kangen.\u201d Begitu suami saya berujar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengarnya, saya jadi pengen ketawa. Secara ajaib kalimat itu mengingatkan saya dengan banyaknya tulisan-tulisan tentang Jogja yang pernah dimuat di Terminal Mojok. Dan ndilalah tulisan-tulisan yang saya ingat adalah tulisan tentang Jogja yang nadanya ngeledek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJogja aslinya nggak begitu kok, Yah.\u201d Kata saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri heran kenapa sampai harus keluar kalimat seperti itu. Lha wong aslinya kan kepenak. Saya tinggal \u2018yain aja ajakan suami buat berlibur ke Jogja. Ini kok malah adu argumen. Tapi, sudah terlambat untuk menyesal. Kata sudah telanjur terucap. Tidak ada pilihan lain selain melanjutkan apa yang sudah saya mulai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, mulailah saya bercerita tentang Jogja versi penulis-penulis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Maklum, suami saya memang bukan pembaca <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Lebih tepatnya, tidak suka membaca. Lha wong tulisan-tulisan saya saja baru kemarin-kemarin dia baca. Itu pun setelah saya ledek, ada tulisan istri dimuat kok nggak pernah dibaca? Hehehe\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengawali cerita dengan menyebutkan bahwa tiap sudut di Jogja bukanlah kenangan tapi penginapan. Bahwa UMR Jogja itu rendah sampai-sampai cara terbaik untuk punya rumah di Jogja adalah dengan menang undian di mal terbesar di Jogja dulu, bahwa Jogja adalah hasil romantisasi para musisi, dan lain-lain. Intinya, saya sampaikan apapun tentang Jogja yang saya ingat pernah saya baca di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tapi maaf, untuk siapa penulisnya, saya lupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi suasana di sana memang bikin kangen, kok!\u201d kata suami setelah mendengar argumen saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya meringis. Diam-diam mengakui juga apa yang baru saja suami katakan. Memang, dari beberapa kota yang pernah kami singgahi, Jogja jadi destinasi yang rasanya membuat kami selalu ingin kembali lagi dan lagi. Nggak tau kenapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini ada kaitannya dengan pepatah Jawa yang menyebutkan \u201cAdoh mambu wangi, perek mambu tai\u201d. Pepatah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan dua saudara yang berbeda perlakuan karena yang satu jauh dari orang tua, yang satu dekat atau tinggal bersama. Nah, yang tinggal jauh ini, mambu wangi, bau harum. Begitu datang langsung dielu-elukan. Tapi, yang tinggal bareng, mambu tai alias bau kotoran. Tidak dihargai padahal merekalah yang mengurus semua kebutuhan tiap harinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali, pepatah itu cocok pula untuk Jogja. Bagi warga Jogja, Jogja mungkin tidak seromantis itu. Tapi, bagi orang di luar Jogja, Jogja itu \u201cmambu wangi\u201d. Jadi wajar rasanya bila kemudian muncul perasaan ingin kembali lagi dan lagi ke Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, jika Jogja adalah agama, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Yang mau bilang Jogja adalah hasil dari romantisasi ya monggo, yang mau keukeuh menyebut tiap sudut di Jogja adalah kenangan seperti suami saya ya silakan.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-celetukan-yang-sering-keluar-saat-nonton-film-horor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">6 Celetukan yang Sering Keluar Saat Nonton Film Horor<\/a><\/b>\u00a0<b><\/b><b>atau artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dyan-arfiana-ayu-puspita\/\"><b>Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel tentang Jogja yang diterbitkan Terminal Mojok membuat penilaian saya tentang Jogja sedikit berubah. Tapi, Jogja tetap saja romantis.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":35538,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[115],"class_list":["post-90483","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90483","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90483"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90483\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90483"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90483"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90483"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}