{"id":90438,"date":"2020-11-27T06:29:03","date_gmt":"2020-11-26T23:29:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90438"},"modified":"2021-08-13T13:12:23","modified_gmt":"2021-08-13T06:12:23","slug":"belajar-sulap-lewat-youtube-adalah-hal-sia-sia-yang-pernah-saya-lakukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-sulap-lewat-youtube-adalah-hal-sia-sia-yang-pernah-saya-lakukan\/","title":{"rendered":"Belajar Sulap lewat YouTube Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum saya mengenal Twitter dan Instagram, saya sempat kepincut dengan seni sulap. Ketertarikan saya di dunia seni sulap barangkali karena terpengaruh tayangan televisi. Maklumlah masa-masa baru memakai Facebook, program sulap di televisi merebak dan berhasil menghipnotis saya untuk turut belajar sulap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program-program sulap seperti &#8220;The Master&#8221; dulu menjadi salah satu tayangan yang wajib saya tonton tiap harinya. Bahkan dari satu season ke season berikutnya. Saya sampai hafal nama-nama pesulap yang tampil. Misalnya Rizuki, Limbad, Rhomedal, Oge Arthemus, hingga Bow Vernon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka itu adalah pesulap. Kalau kamu nggak tahu coba cari sendiri saja di Google. Oleh karena mereka pula, saya jadi tertarik untuk belajar sulap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya pikir sulap itu adalah seni yang keren. Kita bisa memperlihatkan sesuatu yang menakjubkan ke teman. Menunjukkan kemampuan kita untuk menghilangkan koin ataupun memunculkannya kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran saya terpukau oleh permainan sulap yang diperagakan Rynku Viceroy dan yang lain, saya pun mencari trik-trik sulap. Awalnya saya membeli buku sulap berukuran kecil di sebuah bazar buku. Namun, oleh karena hanya mampu menguasai satu trik saja, saya pilih mencari trik lain di Google.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pencarian trik sulap di Google juga tak membuahkan hasil apa-apa. Saya cuma bisa menguasai satu trik sulap tali doang. Itu pun nggak luwes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun mencari trik sulap di YouTube. Dan hasilnya tak terduga, di YouTube banyak video-video tutorial belajar sulap. Bahkan bukan cuma satu alur permainan atau di dunia sulap menyebutnya routine. Belakangan saya mengetahui video-video itu dibuat oleh pesulap-pesulap yang entah beneran mahir atau nggak sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas pesulap-pesulap di video YouTube itu nggak saya kenal. Pesulap yang membongkar trik-trik sulap di YouTube itu kebanyakan mereka yang nggak pernah tampil di layar kaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menemukan trik sulap di YouTube bikin saya seolah menjadi orang yang paling beruntung. Sebab saya bisa mempelajari sulap tanpa repot merogoh kocek sama sekali. Konon biaya pelatihan sulap mahal. Sudah saya cek di internet, media sosial, dan beberapa rekan, memang biaya agar kita mahir sulap untuk satu routine saja mahalnya setengah mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil saya mulai belajar sulap lewat YouTube. Dari satu routine ke routine lainnya, saya mencoba memahami triknya. Ada video trik memindahkan koin, menebak tanggal lahir, menebak nomor kontak, menebak kartu, sampai mengubah kartu dengan sekali kedip. Kelihatannya keren dan saya pun larut untuk belajar sulap via YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menjelajah dari satu channel ke channel lainnya. Ketika saya menganggap bisa melakukan satu trik dari berbagai aliran sulap, dengan bermodal YouTube saya pikir bisa menguasai beberapa jenis aliran sulap juga. Di samping sekadar memindahkan koin atau menyambung kembali tali yang putus, saya mencoba mencari video trik sulap aliran mentalist.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu loh aliran sulap yang diperkenalkan dan dikuasai oleh Deddy Corbuzier. Salah satu yang terkenal adalah membengkokkan sendok. Namun, belum juga menguasai betul, sekadar tahu dasarnya saja tidak, saya kepincut dengan aliran lain, yaitu hipnotis. Saya cari video tutorial hipnotis di YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya, di YouTube nggak ada. Hanya video-video pengantar dari sebuah kursus pelatihan hipnotis. Jadi kalau mau belajar lebih lanjut bisa datang ke tempat pelatihan, alias bayar, Bosqueee. Oleh karena mentalist nggak bisa, hipnotis nggak bisa, escapologist juga nggak mungkin, saya mencoba memfokuskan untuk belajar jenis close-up magic.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa trik close-up setidaknya saya tahu, dan bisa mempraktikkan. Sayangnya saya kurang terampil. Mungkin itu faktor kurang latihan. Oh, barangkali perlu berlatih lebih keras lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bukannya bertambah mahir, lama-kelamaan saya keteteran mengikuti trik-trik yang ada di YouTube. Entah terlalu susah atau bagaimana. Saya mencoba mengikuti gerakan tangan yang diperagakan si pesulap dalam video. Saya tetap nggak bisa mengikuti, hingga akhirnya saya curiga, jangan-jangan video itu bukan triknya alias bohongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asem. Saya ketipu oleh tukang sulap yang biasanya memang menipu. Ketertarikan pada sulap dan hasrat mempelajarinya secara gratisan membutakan mata saya. Waktu menonton videonya, saya nggak kepikiran kalau sebuah video bisa dimanipulasi dengan gampang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saja si &#8220;pesulap&#8221; yang bongkar-bongkar trik sulap justru nggak tahu triknya. Cuma karena pengin banyak viewers, dibikinlah video bongkar trik sulap. Kalau ingatan saya nggak berkhianat, sekitar 2012-2013 sulap masih digandrungi karena tayangan sulap di televisi. Nah si pembuat video mungkin memanfaatkan momentum itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu hal itu sia-sia, saya pun berhenti belajar sulap melalui YouTube. Mungkin kalau saya sungguh-sungguh pengin menguasai ilmu sulap, saya perlu belajar dari ahlinya. Atau minimal membaca buku sulap yang harganya sampai ratusan ribu bahkan jutaan. Bukan buku-buku 20 ribuan yang dijual di bazar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Deddy Corbuzier, sang master sulap Indonesia itu, dalam sebuah acara di televisi telah mewanti-wanti penonton agar jangan belajar sulap via YouTube. Mendengar kata-kata Om Deddy, saya sadar, apa yang saya lakukan untuk belajar sulap di YouTube ternyata hal yang sia-sia dan buang waktu.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@victoria-borodinova-392079\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Victoria Borodinova<\/a> via <a href=\"https:\/\/images.pexels.com\/photos\/3766479\/pexels-photo-3766479.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=750&amp;w=1260\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kita-nggak-perlu-lagi-nonton-berita-di-televisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alasan Kita Nggak Perlu Lagi Nonton Berita di Televisi <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\"><strong>Muhammad Arsyad<\/strong><\/a><strong>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><em>ini<\/em><\/a><em>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Deddy Corbuzier telah mewanti-wanti penonton agar jangan belajar sulap via YouTube. Tapi, saya telanjur melakukannya dan menyesal.<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":91168,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[261,157],"class_list":["post-90438","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-seni","tag-youtube"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90438","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90438"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90438\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91168"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}