{"id":9039,"date":"2019-08-06T06:00:49","date_gmt":"2019-08-05T23:00:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=9039"},"modified":"2022-02-09T14:30:43","modified_gmt":"2022-02-09T07:30:43","slug":"tugas-takmir-kampus-yang-jarang-diketahui-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tugas-takmir-kampus-yang-jarang-diketahui-orang\/","title":{"rendered":"Tugas Takmir Kampus yang Jarang Diketahui Orang"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">Menjadi takmir atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/rame\/nafkah\/marbot-yang-serupa-remah-remah\/\">marbot<\/a> terkadang dipandang remeh dan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nasib-pendidikan-vokasi-yang-masih-dipandang-sebelah-mata-cPGw\">hanya dipandang sebelah mata<\/a> oleh sebagian orang. Namun mau tidak mau, percaya tidak percaya, suka tidak suka, banyak orang-orang besar dan orang-orang sukses yang berawal dari mengurusi masjid. Bahkan salah satu dosen Tafsir Hadist pernah mengatakan kepada saya bahwa dirinya kena cipratan barokah masjid\u2014padahal katanya beliau hanya numpang mandi dan sering ikut kegiatan masjid.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Berbeda lagi dengan cerita dosen saya yang lain, menurutnya seorang takmir yang mewakafkan dirinya untuk masjid maka ia akan dimuliakan oleh Allah. Silakan buktikan, karena sesungguhnya hal yang kamu lakukan untuk masjid sejatinya akan kembali kepada dirimu sendiri segala kebaikannya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lalu ada lagi cerita pengalaman dari staf kampus, yang pernah naik haji gratis dua kali dan mengepalai jamaah haji lantaran ia mengurusi masjid\u2014menjadi takmir sekaligus marbot. Betapa <em>subhanallah<\/em>-nya menjadi takmir ini.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Seorang teman diskusi pernah memisah istilah takmir dan marbot ini. Takmir bila dihierarkikan dalam kehidupan, maka derajatnya akan lebih tinggi daripada marbot\u2014tugas dan hidupnya enak.\u00a0Tapi kemudian saya membantah\u2014ya tidak juga karena setiap definisi pekerjaan memiliki tanggung jawab dan takdirnya masing-masing.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Secara umum takmir merupakan orang atau kelompok atau organisasi yang mengurusi persoalan masjid\u2014lebih kepada konseptor program kegiatan, menjaga masjid, azan, dan imam, serta mengurusi manajemen masjid itu disebut takmir.\u00a0Marbot lain\u2014ia bersifat lapangan, ya muazin, ya imam, ya bersih-bersih. Nah ini yang mungkin membedakannya, yakni pada perihal bersih-bersihnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Meskipun ada perbedaan signifikan antara takmir dan marbot dari segi definisi dan tupoksi. Namun disisi lain mereka memiliki kesamaan visi menuju Tuhan.\u00a0Tak ada yang lebih disayangi oleh Allah selain Nabi, orang alim saleh, dan takmir alias marbot\u2014<em>hero fii sabilillah<\/em>. Sederhananya barang siapa memakmurkan masjid maka Allah akan memakmurkannya dan barang siapa memarbotkan masjid maka Allah akan balik memarbotkannya. Itu yang kami percayai.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menjadi takmir kampus selama kurang lebih 4 tahun, <em>alhamdulillah<\/em> banyak hal yang saya dapatkan. Baik itu pengalaman berharga dan keluarga baru di lingkaran takmir, serta menjadikan saya lebih dekat kepada Allah\u2014minimal bisa salat jamaah agak tepat waktu.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kali ini saya akan membahas pengalaman\u00a0 saya menjadi takmir sekaligus menjadi marbot di kampus. Apa saja tupoksi yang harus dilakukan seorang takmir yang jarang diketahui orang banyak? Berikut penjelasannya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>1. Membersihkan sampah pembalut<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Orang-orang tak pernah berpikir siapa yang mengosongkan tong sampah di WC perempuan maupun lelaki. Jika di WC cowok banyak puntung rokok berserakan, sedangkan di WC perempuan, pembalut dan bercak darah menjadi pemandangan biasa bagi kami, bahkan kami mengambilnya dengan tangan kosong.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Jadi jangan tahunya kudu harus bersih gitu ya, kalian juga harus tahu bahwa seringkali ada tangan-tangan takmir yang rela mengorbankan dirinya demi kenyamanan kalian dan kebersihan WC di masjid kampus.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>2. Membersihkan sisaan lipstik, celak dan upil di tembok masjid<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Nah ini mungkin terdengar sedikit konyol dan mengada-ada\u2014tapi ini benar-benar terjadi. Kita tahulah kelakuan sebagian mahasiswa perempuan, di tasnya selain terdapat buku tugas,\u00a0 pasti juga ada seperangkat alat kosmetik, sepeti bedak, lipstik, parfum, <em>sunblock<\/em>, masker, <em>skincare<\/em>, dan sebagainya. Apalagi di masjid kampus ada kaca besar untuk mendukung kegiatan cewek-cewek ini berdandan. <em>Sempurna!<\/em><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sebagian dari mereka tidak segan-segan mengelapkan sisa lipstik di bibirnya, sisa celak di matanya, dan sisaan upil yang mereka dapatkan dengan susah payah itu di tembok-tembok masjid, tentu saja ini menjadi tugas tambahan buat kami. Kami tentu saja tidak tinggal diam\u2014kami sudah membuat pemberitahuan dan pengumuman di kertas maupun lewat pengeras suara. Tapi ya begitu, hanya berakhir sebagai angin lalu. Kami tidak marah, cuma ya mohon pengertiannya. Tugas menjaga kebersihan masjid sebenarnya adalah tugas kita bersama.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>3. Isi ulang sabun<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Setiap seminggu sekali kami harus mengecek sabun, dan apa saja yang perlu diganti. Selain mengepel setiap hari, dan menyikat WC setiap hari, kami juga harus mengganti sabun setiap minggu bahkan kadang-kadang 3 hari sekali kami harus mengganti sabun. Biasanya yang cepat sekali habis di WC cewek, harusnya kan di WC cowok ya? Entah kenapa kok bisa gitu. Tapi setelah diteliti memang jamaah perempuan selalu lebih banyak ketimbang jamaah laki-lakinya sih.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Peran sabun ini tentu saja sangat urgen di toilet masjid. Coba saja kalau tidak ada sabun\u2014saat kalian habis boker dan cebok tanpa sabun itu ibarat makan nasi anget lauk ikan asin tapi tanpa sambel, ada yang kurang bukan?<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>4. Mengecek pengeras suara<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kurang idaman apalagi coba takmir kampus yang multi talenan ini\u2014perihal ngecek pengeras suara pun kami turun tangan. Bukan, kami bukan tidak percaya tukang yang disediakan kampus, hanya saja prosesnya lama, ribet kalau mau bilang ini itu\u2014perizinan lah, bukti pembayaran lah, dan tetek bengek ala birokrat lainnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tapi kami ya tahu diri\u2014kampus tidak hanya berurusan dengan masjid, tapi masih banyak yang harus diurusi. Akhirnya kami berprinsip kalau kami bisa kenapa harus yang lain.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>5. Mendengarkan curhatan takmir yang lain<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mendengarkan curhat seorang kawan takmir lain adalah salah satu hal yang jarang diketahui orang. Takmir bagaimanapun juga adalah tetap seorang manusia. Apalagi takmir kampus yang notabene adalah mahasiswa, pasti tidak jauh-jauh pembahasannya dengan absen, tugas, skripsi, dosen <em>killer<\/em>, dan asmara\u2014jatuh cinta atau patah hati.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mendengarkan curhat teman takmir ini tentu saja menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ini menjadi tugas kami sebagai kanca takmir yang baik. Dua curhatan pokok yang ada di dunia takmir kampus adalah jatuh cinta dan patah hati. Yang disebut terakhir adalah yang sering menjadi tema sentral dalam sesi curhat dan tak jarang sesi curhat ini hanya berakhir sebagai bahan <em>bullyan<\/em> di antara kanca-kanca takmir.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Karena memang, kisah asmara seorang takmir seringkali berakhir dengan derita dibanding dengan bahagia. Setidaknya ini adalah pengalaman yang saya peroleh dari cerita-cerita teman setakmir seperjuangan.\u00a0<em>Mengapa kisah cintaku begitu mambrah-mambrah?<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbeda lagi dengan cerita dosen saya yang lain, menurutnya seorang takmir yang mewakafkan dirinya untuk masjid maka ia akan dimuliakan oleh Allah.<\/p>\n","protected":false},"author":76,"featured_media":9084,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[383,964,1001,234,34,2087,784],"class_list":["post-9039","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-curhat","tag-dosen-killer","tag-jatuh-cinta","tag-kebersihan","tag-mahasiswa","tag-putus-cinta","tag-takmir-masjid"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9039","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/76"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9039"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9039\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9084"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9039"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9039"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9039"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}