{"id":90319,"date":"2020-11-30T12:50:40","date_gmt":"2020-11-30T05:50:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90319"},"modified":"2020-11-30T12:50:41","modified_gmt":"2020-11-30T05:50:41","slug":"momen-perpisahan-anak-bandel-dengan-ibu-kos-yang-terlewat-dramatis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/momen-perpisahan-anak-bandel-dengan-ibu-kos-yang-terlewat-dramatis\/","title":{"rendered":"Momen Perpisahan Anak Bandel dengan Ibu Kos yang Terlewat Dramatis"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah tiga tahun yang panjang, akhirnya saya memutuskan untuk mencukupkan masa perantauan saya di Surabaya dan melewati momen perpisahan dengan ibu kos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya memutuskannya setelah mempertimbangkan banyak faktor. Termasuk faktor-faktor receh seperti, Surabaya panas, sudah bosan, pengin cari suasana baru, sampai faktor sok-sokan seperti, kondisi di Surabaya nggak mendukung saya buat berkembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga tahun berada di Kota Lapis Kukus, sepekan lalu saya akhirnya mantap untuk pindah ke kota tujuan saya selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mengalami momen boyongan. Sebab, sebelumnya saya juga pernah merasakan momen boyongan saat lulus dari pesantren. Tapi, jujur, baru pada momen boyongan kali ini rasanya kok sungguh mengharukan dan dramatis. Bukan hanya dari saya pribadi, tapi ibu kos pun turut berpartisipasi dalam menciptakan suasana haru nan dramatis tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, bagi saya, banyak momen memorable yang sudah terjadi di kos saya ini. Dan bagi ibu kos, mungkin banyak kebandelan saya yang bakal dia rindukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kos saya terletak di Wonocolo gang III, perkampungan belakang kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Saya berani mengatakan, bahwa kos saya ini adalah satu-satunya kos termurah di area kampus (atau jangan-jangan termurah se-Surabaya). Cukup Rp200 ribu per bulan, dan saya sudah bisa mandi sepuasnya, listrik sak kapoke, dan nggak ada tambahan-tambahan biaya lain. Tapi, ya gitu, Rek, ada harga pasti ada rupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi kos saya bener-bener sangat memprihatinkan. Kamar mandi cuma satu, itu pun dengan saluran air dan WC yang kadang-kadang suka mampet. Keadaan depan kosan yang kemprohnya amit-amit, dan yang paling bikin mangkel, kos saya ini kalau siang panasnya sudah kayak simulasi neraka. Hla pakai asbes, je.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi di dalam kos saya memang bener-bener nggilani karena kasur dan bantalnya nggak saya pakaikan seprai, alhasil bekas iler ada di mana-mana. Belum lagi kalau hujan pasti bocor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saya berani bilang, bahwa kos saya adalah kos paling nyaman dan toleran yang pernah ada dalam kehidupan temen-temen tongkrongan saya. Pasalnya, kos saya ini selalu menjadi jujukan bagi temen-temen tongkrongan. Entah buat mandi, numpang boker, numpang tidur, numpang minta dimasakin nasi, numpang mokel waktu puasa, numpang ngeblong waktu Jumatan, bahkan ada juga temen saya yang numpang tidur tiga sampai lima kali dalam seminggu. Dan itu rutin selama tiga tahun ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena intensitas kunjungan tersebut, akhirnya saya putuskan bikin los saja kos ini buat temen-temen tongkrongan saya. Kuncinya nggak pernah saya bawa ke mana-mana. Pasti saya taruh di atas pintu atau di sepatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mereka bisa bebas keluar-masuk kos saya sewaktu-waktu, kapan pun mereka pengin dan mau. Oleh karena itu, kecuali weekend, bisa dipastikan kos saya nggak pernah sepi dari hilir mudik temen-temen tongkrongan. Dari pagi buta sampai larut malam, pasti ada saja yang datang ke kos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih parah nih, sikap los saya ternyata ditafsiri kebablasan sama temen-temen tongkrongan. Akhirnya mereka kayak bikin hukum sendiri yang intinya, apa pun yang ada di dalam kos saya adalah milik bersama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, nggak heran jika kadang gitu sepatu atau jaket saya dipakai gantian sama temen-temen (seringnya nggak balik), atau laptop saya yang biasanya dipakai giliran buat ngerjain tugas. Kadang juga sebaliknya. Kalau ada barang temen-temen yang ditaruh di kos, pastinya bakal saya pakai juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, gara-gara keseringan keluar-masuk kos, saya sering banget dapet teguran dari ibu kos. Sebulan bisa tiga sampai enam kali ditegur gara-gara urusan ini. Itu belum nanti kalau saya telat bayar kos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya dalam satu bulan, sudah bisa dipastikan ibu kos bakal nyemprot saya pakai ungkapan, \u201cAli! Itu air kan juga bayar, temen-temen kamu jangan dibiarin mandi di sini, dong!\u201d, \u201cTemen-temen kamu jangan sering-sering nginep, dong! Parkirnya nggak gratis!\u201d, \u201cMau bayar kapan kamu? Telat terus, telat terus!\u201d, \u201cKalau temen-temen kamu masih sering nginep di sini, kamu harus bayar dobel!\u201d\u00a0 Begitulah, dan semuanya cuma saya anggap sebagai angin lalu, nggak saya gubris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, saya gubris, sih, cuma temen-temen saya ini angil banget og tuturane. Dikasih tahu bukannya kapok dan ngurang-ngurangin main ke kos saya, eh malah sengaja makin intens datang ke kos. Emang niat banget biar saya kena semprot sama ibu kos terus-terusan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kayaknya, aktivitas memarahi saya itu bakal absen dari keseharian ibu kos dalam bertahun-tahun ke depan, terhitung sejak tanggal boyongan saya. Itulah kenapa waktu saya menghadap ibu kos buat melunasi tunggakan sekaligus berpamitan, ibu kos malah kelihatan berkaca-kaca. Kayak nggak rela melepas kepergian saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa Allah, Ali, kok cepet banget to pindahnya.\u201d ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCepet matanya! Sudah tiga tahun loh, Bu. Tiga tahun yang nggak pernah absen dari semprotan Panjenengan,\u201d timpal saya, tentu dalam hati, dooong, huhuhuhu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan selanjutnya adalah adegan yang cukup dramatis. Ibu kos tiba-tiba nyuruh saya duduk di warungnya. Saya dibuatkan teh dan dikasih sarapan. \u201cSebagai ucapan maaf dan terima kasih,\u201d katanya. Maaf karena sering marahin saya, dan terimakasih karena bikin hari-hari dia jadi lebih berwarna berkat kabandelan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTerus kalau kamu pindah, yang bakal jadi langganan buat ibu marahin siapa dong, Li?\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUhuk,\u201d mendengar itu saya autokeselek. \u201cYa malah syukur to, Bu, kalau anak-anak kos yang lain tertib-tertib.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa iya. Tapi, kan nggak ada yang bisa jadi pelampiasan emosi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Woooo bajilak tenan. Ternyata saya cuma jadi bahan pelampiasan emosi thok, to. Eh tapi bener ibu kos, sih. Tanpa anak bandel, hidup ini pasti bakal hampa banget, nggak ada warnanya sama sekali kalau orangnya lurus-lurus semua. Persis seperti yang dikatakan Pidi Baiq, \u201cTanpa anak nakal, reuni (dan hidup ini) nggak bakal rame.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya sudahlah, hidup terus berputar. Saya jelas nggak bisa bandel-bandelan dan bikin jengkel ibu kos saya ini terus-terusan. Sebab, masih ada banyak ibu kos di luar sana yang harus saya bikin dongkol setengah mampus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, buat temen-temen tongkrongan saya, Sohib, Rizquna, Syahrul, Rozi, Aris, Puji, Pandu, Jakfar, dan Dwiki, baik-baik ya di Surabaya. Mohon maaf, saya nggak bisa terus-terusan nampung kalian. Ha yo wegaaahhh, Cuk!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konten-youtube-crazy-rich-surabayans-mengajari-kita-buat-sawang-sinawang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Konten YouTube Crazy Rich Surabayans Mengajari Kita buat Sawang-Sinawang<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aktivitas ibu kos memarahi saya bakal absen dari kesehariannya terhitung sejak tanggal boyongan saya. Itulah kenapa ini jadi dramatis.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":48310,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2564,34],"class_list":["post-90319","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ibu-kos","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90319","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90319"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90319\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/48310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90319"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90319"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90319"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}