{"id":90279,"date":"2020-11-29T07:35:14","date_gmt":"2020-11-29T00:35:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90279"},"modified":"2020-11-26T22:23:23","modified_gmt":"2020-11-26T15:23:23","slug":"salah-paham-istri-soal-karakteristik-suspensi-pada-kendaraan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-paham-istri-soal-karakteristik-suspensi-pada-kendaraan\/","title":{"rendered":"Salah Paham Istri Soal Karakteristik Suspensi pada Kendaraan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, bukannya empuk! Setelah ganti shock malah bantingannya keras?\u201d tanya istri saya tidak terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, masak, sih? Saya sok terkejut, perasaan enak-enak saja. Nah, untuk menghindari kesalahpahaman akhirnya setiap kali keluar mengendarai motor, saya rasakan benar-benar. Bagaimanapun informasi ini saya dapatkan dari orang yang saya sayangi. Saya juga beberapa kali meminta orang lain untuk mencoba: apakah shock-nya masih keras? Namun tetap saja, mereka mengatakan memang shock Mio J ya seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, jika saya bukan seorang montir yang baik mungkin akan mengabaikan permasalahan ini. Lantaran, hanya istri saya yang mengatakan shock-nya keras. Dengan kata lain, bisa saja istri saya tidak memahami karakter shock absorber. Namun, karena saya menyayangi istri saya, saya merasa berkewajiban memberitahu kepadanya bahwa ada yang kurang tepat dengan pemahamannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, saya mengajak istri saya jalan-jalan sore menggunakan Mio J miliknya itu. Seperti biasa, kami suka membahas banyak hal jika sudah di atas motor termasuk hal-hal sepele ini. Itu kami biasakan karena kami sadar, tidak baik saling diam ketika bepergian bersama. Saya selalu memanfaatkan momen seperti ini untuk berbicara dengan orang yang paling dekat dengan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCinta, kenapa kamu bisa mengatakan shock-nya menjadi keras setelah diganti dengan yang baru?\u201d tanya saya mencoba mengulik perasaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu sebelum ganti, shock-nya itu empuk. Setelah melewati polisi tidur, masih ada mentul-mentulnya. Lah, sekarang nggak ada sama sekali. Apa itu bukan keras namanya?\u201d jawabnya seakan tanpa dosa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar jawaban itu, rasanya saya mau tertawa. Oh, betapa bodohnya saya tidak mampu menyadari istri saya ini seorang guru, bukan seorang montir. Jadi mana mungkin bisa memahami karakter shock absorber dengan benar jika tidak diberitahu sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wahai kekasih, kendaraan mentul-mentul setelah melewati poldur itu bukan berarti shock-nya empuk, itu namanya shock-nya mati! *mengambil nafas dalam-dalam* Simak nih penjelasannya<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti namanya, shock absorber memiliki fungsi sebagai peredam kejutan. Kejutan macam polisi tidur, lubang, jalanan bergelombang, dan lompatan. Bisa dikatakan tujuan komponen ini adalah memastikan guncangan tidak terasa dari atas kendaraan, semakin tidak terasa semakin baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, shock ini selalu berpasangan dengan pegas dalam menjalankan tugasnya. Dalam hal ini, yang berfungsi menahan beban kendaraan adalah pegas. Coba kita bayangkan, jika keberadaan pegas ini tidak disandingkan dengan shock, beban kendaraan akan sepenuhnya ditopang oleh pegas. Dengan artian, kendaraan ini akan sangat mudah mentul-mentul mengingat karakter pegas memang seperti itu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita pernah melihat mainan yang biasa ditaruh di atas dashboard yang bentuknya emoticon dan disambung dengan pegas, itu sama karakternya dengan shock yang mati. Kendaraan akan mentul-mentul tanpa henti dan malah membuat mual penumpangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, shock yang mati ini juga bisa menimbulkan kesan keras jika melewati lubang atau polisi tidur dengan kecepatan menengah ke atas. Artinya, saking cepatnya kejutan, membuat pegas tidak mampu mempertahankan karakternya yang mentul-mentul. Maka dari itu, ia dipasangkan dengan shock absorber agar kejutan yang cepat itu bisa tertahan oleh shock.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita bedah seperti apa karakter shock absorber ini. Ini adalah komponen yang bisa menyusut dan membal dengan perlahan ketika batang shock absorber ditekan. Sekali lagi, menyusut dan membalnya selalu perlahan meski diberi gaya yang berbeda-beda. Ya, hal ini sangat berkaitan erat dengan fungsinya yaitu sebagai peredam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama karakter shock absorber ini masih seperti itu: menyusut dan membalnya perlahan, maka secara umum bisa dikatakan normal. Tidak ada istilah shocknya keras. Lalu bagaimana bisa ada perbedaan karakter suspensi kendaraan satu dengan yang lain? Ya seperti Mio J ini lah, shocknya tidak sama dengan Vario yang saya miliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya adalah ada pada pegasnya. Pegas pada setiap suspensi kendaraan akan diperhitungkan oleh sang insinyur, biasanya disesuaikan dengan target pasar. Jika bagi seorang montir, hal itu sih bisa diatur. Sehingga kami bisa menentukan mau dibikin seperti apa suspensinya. Tentu dengan mengganti pegas tersebut dengan yang lebih empuk atau keras, sesuai kebutuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kendaraan saya ini lebih sering dipakai untuk muatan penuh, saya akan mengganti pegasnya dengan yang lebih keras. Namun, seandainya lebih sering dipakai untuk jalan sendiri, lebih baik dijual saja kendaraanya. Hahaha. Eh, bercanda!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya ingin menekankan bahwa terkadang kendaraan yang ringan memiliki karakter suspensi yang terkesan keras seperti Mio J ini. Pasalnya, memang beban kendaraan Mio J ini lebih ringan daripada motor lainnya. Namun, coba saja dinaiki oleh orang-orang gemuk, saya pikir Mio J ini tidak bisa dikatakan memiliki suspensi keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah, berarti selama ini saya salah paham dong, Oppa. Hahaha. Jadi malu!\u201d ucap istri saya begitu lucunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucu, lah. Mungkin juga masih banyak orang lucu di luar sana yang menganggap suspensi empuk adalah yang mentul-mentul. Dikira tahu apa mentul-mentul dan empuk itu?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebenarnya-bahaya-nggak-sih-flushing-oli-mesin-menggunakan-solar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sebenarnya Bahaya Nggak sih Flushing Oli Mesin Menggunakan Solar?<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/erwin-setiawan\/\">Erwin Setiawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pegas pada setiap suspensi kendaraan akan diperhitungkan oleh sang insinyur, biasanya disesuaikan dengan target pasar.<\/p>\n","protected":false},"author":755,"featured_media":91317,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[281,9659],"class_list":["post-90279","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kendaraan","tag-suspensi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90279","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/755"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90279"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90279\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90279"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90279"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90279"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}