{"id":90255,"date":"2020-11-24T14:49:35","date_gmt":"2020-11-24T07:49:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90255"},"modified":"2020-11-24T14:49:28","modified_gmt":"2020-11-24T07:49:28","slug":"nilai-moral-anime-yang-mainstream-tapi-sangat-bikin-terkenang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nilai-moral-anime-yang-mainstream-tapi-sangat-bikin-terkenang\/","title":{"rendered":"Nilai Moral Anime yang Mainstream, tapi Sangat Bikin Terkenang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anime merupakan salah satu jenis hiburan yang tak lekang oleh waktu. Walaupun usia saya sudah memasuki kisaran 20 plus, saya tetap menikmati produk entertainment dari Jepang ini. Saya tak peduli dengan stigma \u201canak kecil\u201d yang kerap melekat terhadap penggemar anime. Salah satu penyebab mengapa saya menyukai anime adalah nilai moralnya. Nilai moral anime biasanya melekat dalam cerita dan tokohnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara garis besar, saya merupakan penikmat anime era 2000-an seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Digimon, Captain Tsubasa, One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hingga<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Naruto.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Anime-anime tersebut pernah ditayangkan di beberapa stasiun televisi nasional. Walaupun beberapa diantaranya selalu di-rerun, saya tetap saja menontonnya kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila diperhatikan dengan seksama, anime tidak hanya menyajikan deretan aksi dari para karakternya. Memang benar, ada beberapa pelajaran hidup yang bisa diambil secara langsung maupun tidak langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengamatan saya terhadap beberapa anime yang pernah ditonton, saya menemukan beberapa nilai moral anime yang disajikan dalam tontonan. Terkesan mainstream, tapi justru di sinilah kita bisa sangat cocok dengan pesannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nilai moral anime #1 Persahabatan <\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir semua anime pasti menyelipkan unsur nilai persahabatan sebagai bumbu ceritanya. Terutama untuk anime bertipe shonen. Kurang lengkap rasanya bila unsur ini ditiadakan. Ibarat sayur kurang garam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa situasi, kekuatan persahabatan atau kerja sama memegang peranan penting dalam meraih kemenangan. Meskipun penyajiannya terkadang tidak realistis, saya tetap menikmatinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, saya akan mengambil sampel dari anime populer era 2000-an, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yu-Gi-Oh!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam ceritanya, Yami Yugi\u2013alter ego Yugi Muto alias sang protagonis\u2013pernah menghadapi lawan berat sekelas Pegasus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pegasus sendiri memiliki Millenium Eye di mata kirinya. Berkat kekuatan dari benda tersebut, Pegasus bisa memprediksi kartu maupun strategi lawannya. Yugi sempat mengalami kekalahan pada duel perdananya via tayangan video tape.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beruntung, Yugi berhasil memenangkan rematch kontra Pegasus di Duelist Kingdom sekaligus menyelamatkan jiwa kakeknya yang tersandera. Pada akhirnya, Yugi harus berterima kasih banyak kepada para sahabatnya (Anzu, Jonouchi, dan Honda).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat kekuatan persahabatan dari empat sekawan tersebut, Pegasus gagal membaca strategi Yugi. Imaji alias bayang-bayang para sahabatnya sukses menutupi pikiran Yugi dari penglihatan Pegasus. Andai para sahabatnya tidak menonton duel tersebut, mungkin saja Yugi akan kembali menelan kekalahan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nilai moral anime #2 Pantang menyerah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam setiap ceritanya, sehebat-hebatnya protagonis dalam suatu anime pasti akan menemui jalan terjal alias kesulitan. Tentu hal ini perlu dibuat agar cerita yang disajikan bisa lebih menarik serta dinamis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seberat apa pun masalahnya, mereka biasanya dibuat untuk tidak menyerah begitu saja. Selalu saja ada cara untuk bisa bangkit. Pokoknya, tiba-tiba saja mereka mendapatkan kekuatan dari semesta dalam sekejap mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk poin ini, saya akan mengambil contoh Monkey D. Luffy dari anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pada suatu waktu, calon raja bajak laut kesayangan kita ini pernah menghadapi musuh yang luar biasa tangguh. Dia merupakan bos dari organisasi Baroque Works, Crocodile.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Crocodile sendiri merupakan pemakan buah iblis Suna Suna no Mi, buah tersebut tergolong dalam jenis Logia. Bermodalkan buah iblis tersebut, Crocodile mampu memanipulasi kekuatan sekaligus tubuhnya menjadi pasir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghadapi pemakan buah iblis bertipe Logia jelas bukan perkara mudah. Terlebih Luffy belum menguasai Busoshoku Haki pada saat itu. Alhasil, dia menjadi bulan-bulanan Crocodile. Bahkan dia hampir saja mati dalam pertarungan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, Luffy enggan untuk menyerah begitu saja. Pada rematch ketiganya, dia mampu mengalahkan Crocodile. Dengan menggunakan tetesan darahnya, Luffy berhasil menghajar pria bernilai 81 juta Belly tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nilai moral anime ini kemudian menginspirasi saya dalam kehidupan. Banyak kegagalan yang saya alami dalam hidup. Seperti gagal dalam tes CPNS sebanyak tiga kali, gagal dalam tes masuk kerja, hingga mendapat penolakan naskah tulisan (artikel) dari beberapa media, termasuk dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, saya enggan untuk melempar handuk. Dengan doa dan usaha, perlahan-lahan saya mulai bisa menerobos masuk ke Terminal Mojok. Semoga saja ke depannya saya bisa menembus Esai Mojok. Hehehe.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nilai moral anime #3 Percaya diri<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk poin ini, saya merasa sangat wajar bila seorang protagonis anime memiliki confidence yang begitu tinggi dalam dirinya. Toh, mereka ini adalah lampu sorot alias highlight dalam suatu anime. Bahkan karakter seperti Deku maupun Yugi (bukan Yami Yugi, ya) pada akhirnya bisa membangun kepercayaan dirinya secara bertahap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepercayaan diri ini tentu sangat penting dimiliki oleh para protagonis anime. Biasanya mereka ini yang diandalkan untuk menangani suatu permasalahan. Bayangkan bila mereka tidak percaya diri atau rendah diri. Tentu sangat aneh rasanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai hal tersebut terjadi, maka nasib protagonis yang akan menjadi taruhannya. Bisa saja nama anime-nya diganti (kalau nama anime-nya adalah nama seorang tokoh). Atau pemeran utamanya diganti mengikuti pola sinetron <em>Tukang Bubur Naik Haji<\/em> atau <em>Anak Langit<\/em>.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nilai moral anime #4 Berani<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain percaya diri, berani adalah sifat yang biasanya melekat pada seorang protagonis anime. Meskipun lawannya sangat tangguh, mereka biasanya tetap maju untuk melawan. Kecuali jika kondisinya benar-benar sudah sangat mustahil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua protagonis anime yang pernah saya saksikan, Luffy adalah juaranya. Jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap relasinya, dia pasti akan segera bertindak. Lihat saja ketika dia berani menantang God Enel, Angkatan Laut, bahkan Yonkou sekelas Big Mom dan Kaido.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling fenomenal tentu ketika Luffy berani memasuki Whole Cake Island demi membebaskan Sanji. Meskipun tidak ditemani oleh beberapa nakama-nya, Luffy tetap nekat menerobos wilayah kekuasaan Big Mom tersebut. Untungnya, dia mendapatkan bantuan dari beberapa pihak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, anime bisa menjadi suatu media penanaman nilai moral yang menyenangkan. Meskipun demikian, tetap diperlukan pengawasan atau proses selektif dalam mencocokan usia penontonnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping itu, saya pribadi berharap agar nanti ada sinetron yang terinspirasi dari nilai moral anime. Apalagi jenis tayangan ini masih menjadi primadona bagi sebagian stasiun televisi di Indonesia. Semoga.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-anti-baper-saat-hari-ulang-tahun-tiba\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tips Anti Baper Saat Hari Ulang Tahun Tiba <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-fariz-kurniawan\/\"><b>Muhammad Fariz Kurniawan<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya, anime bisa menjadi suatu media penanaman nilai moral yang menyenangkan. Meski terkesan mainstream, tapi berguna banget.<\/p>\n","protected":false},"author":960,"featured_media":58110,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2775,2583],"class_list":["post-90255","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anime","tag-one-piece"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90255","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/960"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90255"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90255\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/58110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90255"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90255"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90255"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}