{"id":90005,"date":"2020-11-22T06:40:03","date_gmt":"2020-11-21T23:40:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=90005"},"modified":"2020-11-21T00:46:09","modified_gmt":"2020-11-20T17:46:09","slug":"4-alasan-laki-laki-sunda-nggak-mau-dipanggil-kang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-laki-laki-sunda-nggak-mau-dipanggil-kang\/","title":{"rendered":"4 Alasan Laki-Laki Sunda Nggak Mau Dipanggil &#8216;Kang&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semasa kuliah dulu, saya merasa kurang sreg jika dipanggil \u201cakang\u201d (sering disingkat kang). Meski panggilan ini terasa membumi dan terkesan lebih akrab, bagi orang Sunda, panggilan tersebut sudah menjadi semacam kehormatan yang ditujukan kepada seorang laki-laki. Sekaligus juga, secara tidak langsung dapat melestarikan adat istiadat Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, alih-alih melestarikan adat istiadat suku sendiri, saya malah bilang begini ketika ada seseorang memanggil saya \u201ckang\u201d, \u201cPanggil aja \u2018Aa\u2019, ya\u201d. Hingga sekarang, saya tidak suka dipanggil Kang. Dan ternyata, saya tidak sendirian karena beberapa kawan saya keberatan juga. Mungkin, pembaca orang Sunda yang mampir ke tulisan ini merasakan hal serupa meski lebih memilih dipendem aja karena mau tidak mau panggilan tersebut sudah menjadi ciri khas daerah kita. Mau nolak dipanggil \u201ckang\u201d, takut dianggap tidak bangga sama daerah sendiri. Saya pernah ada di situasi begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bagi kami yang tidak mau dipanggil Kang tentu punya alasan tersendiri. Berdasar observasi yang saya lakukan, ngobrol sana-sini, ada empat alasan mengapa laki-laki Sunda tidak mau dipanggil \u201ckang\u201d. Dan saya pikir, ini membantu sekali bagi teteh-teteh dan aa-aa atau akang-akang sekalian yang suka tiba-tiba nyapa dan memanggil kami dengan panggilan tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><b>Terkesan tua<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Kami tahu, baik panggilan \u201ckang\u201d maupun \u201cAa\u201d, sama-sama dipakai sebagai panggilan yang lebih umum. Namun, bagi kami, panggilan Kang terkesan tua dan kayak nyunda banget gitu. Serius, ini boleh diprotes, silakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, saya pikir, kalau posisi kita seumuran, tidak ada salahnya kan saya minta dipanggil \u201cAa\u201d? Terlebih, panggilan \u201cAa\u201d juga bisa digunakan untuk saudara lelaki yang lebih tua atau lelaki yang usianya berada di atas kita dan bahkan untuk lelaki yang sudah dewasa. Ditambah lagi kalau bertemu orang yang tidak kita kenal, kita kan biasa suka bilang, \u201cA\u2019, punteun jalan Sudirman nomor opat, palih mananya?\u201d (A, punteun jalan Sudirman nomor empat, sebelah mana, ya?\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, kenapa baru kenal gitu suka ada yang manggil \u201ckang\u201d. Saya pribadi tidak suka. Panggil \u201cAa\u201d aja, ini asli lebih nyaman. Kalau tujuannya agar terkesan lebih akrab, saran saya adalah tanya sama orangnya, \u201cMau dipanggil \u2018kang\u2019 apa \u2018Aa\u2019?\u201d\u00a0 Jadi, ke kaminya enak gitu. Tidak ribet sih kalau kamu pengin terlihat sopan dan nyaman ngobrol sama orang yang baru kamu kenal.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bukan orang populer<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makna panggilan \u201ckang\u201dseperti menunjukan sisi popularitas, bukan familliaritas. Saya mempertahankan panggilan Aa, atas alasan tersebut. Misal, kita mengenal beberapa orang yang populer seperti Ridwan Kamil dipanggil Kang Emil. Maman Suherman dipanggil Kang Maman. Dan panggilan \u201ckang\u201d, juga digunakan di Jawa, di kelompok-kelompok tertentu, seperti Kang Sobari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sedangkan kami yang tidak familiar, merasa tidak berkenan untuk dipanggil \u201ckang\u201d. Lebih enak dipanggil \u201cAa\u201d atau \u201cMang\u201d. Jadi tidak masalah, kan? Toh, Aa Gym yang populer aja mempertahankan panggilan Aa-nya. Demi apa saya belum pernah beliau dipanggil Kang Gym.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nggak cocok sama nama kami<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menebak, barangkali Aa Gym tidak dipanggil Kang Gym karena tidak cocok sama namanya. Nama asli beliau yaitu Abdullah Gymnastiar, masa dipanggil Kang Abdul atau Kang Gym.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kami yang tidak suka dipanggil \u201ckang\u201d, alasannya karena tidak cocok sama nama kami. Mungkin, ini terkesan sepele. Tapi, benar adanya. Seperti teman saya namanya Lazuardi Ilham Kusuma. Beliau merasa tidak cocok dipanggil Kang Lazuardi. Malah saking suka protes, suka ada yang memaksa beliau agar mau dipanggil Kang menjadi Kang Ardi atau Kang Ilham. Dia keukeuh pengin dipanggil A\u2019 Zuar atau A\u2019 Ardi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin banyak yang merasa namanya kurang cocok dipanggil \u201ckang\u201d. Cuma itu tadi, ketika mempermasalahkan hal ini, takut dikira tidak bangga sama daerah sendiri..<\/span><\/p>\n<h4><b>Bukan anak Paskibra<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waini, alasan yang mungkin dianggap ada-ada saja. Jadi gini, di daerah Sunda, panggilan \u201ckang\u201d erat sekali bagi organisasi Paskibra. Sedangkan Pramuka mah umum panggilannya Kak. Nah, saya sebagai anak OSIS pas sekolah dulu, tahu betul rivalitas antara anak Paskibra dan Pramuka. Sehingga, anak Pramuka itu kadang enggan dipanggil \u201ckang\u201d, tetep kudu dipanggil \u201ckak\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rivalitas kedua organisasi tersebut, hidup terus sampai mereka lulus sekolah. Ketika ada adik kelas manggil ke kakak kelasnya yang dulu organisasinya Pramuka, \u201cKang, kumaha kabarnya? (Kang, gimana kabarnya?)\u00a0 langsung dong membalas, \u201cPanggil Kakak aja, saya bukan anak Paskibra, dek!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup tulisan ini, banyak lho lelaki Sunda yang memiliki keresahan terkait panggilan \u201ckang\u201d ini. Hanya saja, beberapa di antara kami memilih untuk memendamnya. Saya sih berharap semoga pembaca peka bahwa hal-hal seperti ini jangan dianggap remeh, sepele, dan ribet. Ini demi kenyamanan buat seseorang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-buat-yang-bingung-memilih-cilok-cilor-atau-telur-gulung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Panduan buat yang Bingung Memilih Cilok, Cilor, atau Telur Gulung<\/strong><\/a>\u00a0<strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berdasar observasi yang saya lakukan, ngobrol sana-sini, ada empat alasan mengapa laki-laki Sunda tidak mau dipanggil \u201ckang\u201d.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":90012,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9584,9583,9585,133,1152],"class_list":["post-90005","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-aa","tag-kang","tag-kang-emil","tag-laki-laki","tag-sunda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90005","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=90005"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/90005\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/90012"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=90005"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=90005"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=90005"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}