{"id":89787,"date":"2020-11-21T06:40:34","date_gmt":"2020-11-20T23:40:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89787"},"modified":"2020-11-21T10:19:41","modified_gmt":"2020-11-21T03:19:41","slug":"alasan-historis-logis-dan-klinis-di-balik-kecintaan-pada-momen-ambyar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-historis-logis-dan-klinis-di-balik-kecintaan-pada-momen-ambyar\/","title":{"rendered":"Alasan Historis, Logis, dan Klinis di Balik Kecintaan pada Momen Ambyar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada yang lebih paradoksal ketimbang kecintaan masyarakat Indonesia pada rasa sakit, pada momen ambyar. Hal ini bisa diamati dari viralnya lagu-lagu almarhum Didi Kempot selama tiga atau empat tahun terakhir. Lagu patah hati yang bikin perasaan ambyar, bahkan bisa digubah lebih meriah oleh Via Vallen dan musisi dangdut koplo lainnya. Dimodifikasi menjadi hentakan nada yang secara tak terduga mendamaikan logat kental abangan Jawa Timuran dengan kearifan lokal kuliner Sunda, cendol dawet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pesta perayaan rasa sakit lewat lagu-lagu the Godfather of Broken Heart bahkan telah melintas batas tinggi dinding elit akademisi, konser ambyar ramai didatangi para milenial. Hal yang lebih mengejutkan lagi, diselenggarakan di lapangan terbuka dalam area kampus-kampus ternama. Music pop, jazz, dan indie sementara mundur teratur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selebrasi patah hati sebenarnya juga disuarakan Pamungkas lewat lagu \u201cBreak It\u201d<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Go on and take my heart and break it<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">because i miss being in love before i watch it all slowly fall apart<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ya musisi jamet ibukota masih terlihat malu-malu mengekpresikannya. Klimaksnya justru ditandai dengan lahirnya musisi lokal seperti Denny Caknan, Guyon Waton, sampai Hendra Kumbara yang lagunya ditonton ratusan juta kali lewat platform<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecintaan rakyat Indonesia kepada rasa sakit dan momen ambyar ini agaknya telah terpupuk sejak lama. Dendam pada kejahatan yang tiada tertahan melandasi kebrutalan tanpa ampun. Cultuurstelsel (tanam paksa), romusha (kerja rodi), pembantaian santri dan ulama, pemberantasan PKI dan mereka yang ikut tertuduh, reformasi dan penjarahan etnis 1998, Poso, Aceh, dan Papua jadi justifikasi historis yang tak terlupakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kenangan patah hati itu seolah tidak ada juntrungannya, telah mengapur, memutih, dan mengeras bersama tulang badan. Rindu dendam pada segala kekacauan masa lalu sering kali tertumpah pada unjuk rasa yang berdarah-darah. Kericuhan dan perusakan fasum yang entah\u00a0 dilakukan oleh massa atau oknum. Lalu bukti puncaknya adalah pembakaran pada Zoya si \u201cpencuri\u201d amplifier tiga tahun lalu, pembakaran Polsek Ciracas tiga bulan lalu, dan tak terhitung lagi berita ritual main hakim sendiri hingga hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa sakit masyarakat kita memang universal, tidak terbatas perihal lagu dan memori buruk sejarah. Kalau mau jujur, dalam urusan kulineran, masyarakat kita juga telah terbiasa pada rasa sakit. Lihat saja betapa menjamurnya warung ayam geprek selama beberapa tahun terakhir. Kegemaran masyarakat pada makanan dengan citarasa pedas membuktikan betapa cintanya kita semua pada rasa sakit. Kok bisa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini, penjelasan saya sebagai orang pangan. Barangkali hanya di Indonesia, pedas telah lazim dikenal sebagai salah satu rasa, sejajar dengan manis, pahit, asam, dan asin.\u00a0 Padahal secara logis dan teoretis serta melalui berbagai penelitian akademis, telah dibuktikan bahwa pedas bukanlah rasa. Bahkan secara klinis, pedas disebut sebagai respons iritasi tubuh terhadap makanan yang mengandung capsaicin. Nah lho, apalagi itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Capsaicin secara sederhana dapat dijelaskan sebagai senyawa aktif yang pada umumnya berasal dari cabai atau genus tanaman capsicum. Senyawa ini tepatnya ada di bagian selaput putih sekitar biji atau bagian dalam cabai. Jadi, sebenarnya secara literal yang bikin cabai pedas itu bukan bijinya, tetapi justru bagian dalam kulitnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika dikonsumsi, molekul capsaicin yang telah bercampur baur dalam adonan sambal kemudian bereaksi dengan reseptor saraf yang disebut TrV1 dalam mulut sehingga menimbulkan sensasi panas dan terbakar. Bahkan melalui penelitian hewan coba telah dibuktikan sifat racun capsaicin dari lethal dose atau dosis mematikan yang diberikan pada tikus, sekitar 50 miligram per kilogram berat badan tikus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, di negara-negara barat, capsaicin biasanya diekstrak dan digunakan sebagai bahan dasar peper spray untuk menyemprot mata para pelaku kejahatan dan laki-laki mesum di tempat umum. Di Indonesia, lebih populer jadi produk tabur Bon Cabe yang dicampur dengan makanan apa pun. Katanya biar praktis dan otomatis bisa makan pedas dimana pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, tidak seperti kopi atau rokok yang memiliki efek adiksi, capsaicin tidak mengandung pengaruh ketagihan sedikitpun. Toh tetap saja sajian dan hidangan pedas dirayakan dengan gegap gempita, bahkan dua tahun lalu pernah digelar Festival Kuliner Pedas di Semarang. Maka satu-satunya kemungkinan yang masuk akal untuk menjelaskan teka-teki kontradiksi rasa sakit dan momen ambyar ini hanyalah cinta. Iya, kita semua terlalu mencintai rasa sakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsa ini lebih tergerak oleh pengalaman buruk, kemelaratan, blusukan, nyemplung comberan kampung, dan penggusuran. Segala ketidakberuntungan itu menjadi trigger semangat dan tekad maha kuat dengan dalih bertahan hidup, berbuat lebih baik, dan mencapai tujuan. Melalui lagu-lagu dengan latar belakang momen ambyar, pengeroyokan sepihak, dan makanan pedas, secara sadar kita telah mencari dan menikmati pengalaman negatif, dendam, dan rasa sakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, saya rekomendasikan kepada calon bupati, gubernur, dan presiden pada pemilihan umum selanjutnya agar menyiapkan atribut kampanye berupa stand ayam geprek gratis. Jangan lupa pula gelar konser-konser kampanye mega fantastis dengan ratusan lagu patah hati seperti, &#8220;mbiyen aku jik wegah, suwe-suwe betah\u2026 sak kabehane wis tak turuti, tapi malah mblenjani&#8221;. Tentu dengan tetap mengedepankan pesan moral untuk selalu legowo dan ikhlas atas apa pun kesewenang-wenangan doi pasca terpilih nanti. Salam sobat ambyar, Lur!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menantikan-mi-instan-limited-edition-dengan-varian-rasa-yang-tak-terbayangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Menantikan Mi Instan Limited Edition dengan Varian Rasa yang Tak Terbayangkan <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adi-sutakwa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adi Sutakwa<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak ada yang lebih paradoksal ketimbang kecintaan orang Indonesia pada momen ambyar tentang pengalaman negatif, dendam, dan rasa sakit.<\/p>\n","protected":false},"author":1076,"featured_media":1166,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2105,129],"class_list":["post-89787","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ambyar","tag-cinta"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89787","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1076"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89787"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89787\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1166"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89787"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89787"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89787"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}