{"id":89779,"date":"2020-11-20T06:43:54","date_gmt":"2020-11-19T23:43:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89779"},"modified":"2020-11-19T22:45:55","modified_gmt":"2020-11-19T15:45:55","slug":"menghitung-gaji-sule-sebagai-prt-keluarga-bramantyo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-gaji-sule-sebagai-prt-keluarga-bramantyo\/","title":{"rendered":"Menghitung Gaji Sule sebagai PRT Keluarga Bramantyo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, keluarga Jawa jika merantau ke Jakarta, kalau nggak sukses banget ya ambyar seketika. Namun, keluarga Bramantyo ini berbeda, membawa panji monarki Jawa, mereka tumbuh dan hidup subur dalam pori-pori ibu kota. Mereka tetap dihormati walau cenderung minta dihormati, alias gila hormat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluarga Bramantyo adalah keluarga orang kaya ibu kota pada umumnya. Mereka punya mobil, rumah bertingkat, kolam renang, supir, dan tentu saja pembantu. Rumah megah mereka dihuni oleh Pak Tiyo dan Bu Tiyo. Ha iyo lah. Bu Tiyo ini mirip banget sama pemeran Ratu Ilmu Hitam. Mereka punya dua anak, yang hanya tampil di awal-awal episode.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, keluarga ini mbois sekali. Tapi yang lebih mbois adalah ibu dari Bu Tiyo, yaitu Kanjeng Mami. Entah dari kraton mana, pokoknya Kanjeng Mami ini memperlihatkan dirinya sebagai sosok priyayi Jawa. Kanjeng Mami ini gila hormat, puncak hirarki keluarga, dan partner in crime pembantunya, Sule.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa Sule? Blio ini adalah asisten rumah tangga yang kebetulan dapat pekerjaan setelah mentas dari kampungnya mencari Kang Maman. Dalam episode awal, kita bisa melihat bahwa Sule bisa kagebunshin no jutsu. Mak Beti? Mungkin terinspirasi dari kisah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melalui gonjang-ganjing, akhirnya Sule bertemu Pak Tiyo dan kisah pun berjalan dengan nggatheli. Orang miskin bertemu priyayi anak kandung monarki, sleketep tenan pokoknya, Dab. Keseruan ini dikasihkan secara mantap melalui komedi situasi berjudul Awas Ada Sule.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari SD melihat sitkom ini, saya nggak henti-hentinya berpikir, ini Sule digaji berapa sampai rela nyembah foto Kanjeng Mami dan memperlakukan foto itu nggak boleh lebih rendah dari foto lain. Walau Sule juga polahnya ngaudzubillah juga sih. Seakan, perpaduan keduanya enak untuk simak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah bertahun-tahun lupa, bangkitnya meme <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Awas Ada Sule<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini membuat saya mawas. Sepertinya, menyelidiki gaji Sule di kediaman Keluarga Bramantyo dan di bawah pengawasan Kanjeng Mami, adalah keharusan yang nggak boleh ditunda-tunda lagi. Begini penyelidikan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buku Tatang Sutarman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jilid dua, Sule ini sering ngutang sama Makmur, supir pribadi Keluarga Bramantyo. Ngutangnya ini perihal remeh, seperti beli roti keliling atau keperluan perut Sule. Tapi, dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buku Tatang Sutarman <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">jilid dua cetakan keempat, menyebutkan bahwa Sule bukan ngutang, tapi ngompasi Makmur. Alias, uang itu nggak mungkin kembali kepada Makmur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu tandanya, gaji Makmur lebih makmur ketimbang Sule. Hal ini diperkuat dengan pertimbangan lain, Makmur pakai seragam. Gini, yang namanya seragam, pasti digandrungi orang-orang. Lihat saja polisi, tentara, pekerja sipil, dan tentunya supir pribadi Keluarga Bramantyo. Pertanyaannya kini, apakah Makmur punya tunjangan di hari tua? Ora lah. Edan po.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu menurut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buku Tatang Sutarman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, gaji Sule di bawah Makmur, menandakan bahwa gajinya di bawah standar. Hal ini terbukti dengan tubuh Sule yang nggak mencerminkan diberi pasokan makanan yang baik dan bergizi, pun gaji yang memenuhi standar pokok. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita telisik argumen pribadi saya yang saya jamin akan membuka mata kita sekalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dapat hal menarik dari obrolan dengan Gusti Sepuh Kanjeng Putri Pakuningratan alias Kanjeng Mami, ketika sule jadi asisten rumah tangga di hari pertama pada episode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Awas Ada Sule <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">episode satu. Kita dapat clue bahwa semua ada di tangan Kanjeng Mami, bahkan tata krama Keluarga Bramantyo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tiyo giduh nyari blangkon, mereka langsung sungkem dan salam, padahal hanya via telfon saja. Iya, pemirsa. Hanya via telpon saja. Mas Gampang (supir sebelum Makmur) bilang, Kanjeng Mami masih keturunan ningrat. Pun ini menunjukan, Kanjeng Mami ini gila hormat sekali. Juga perkara gaji, Kanjeng Mami mengatur semuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak Tiyo ini lho, udah diperlakukan semena-mena kok ya masih nrimo ing pandum saja. Mungkin dia nrimo karena dapat jatah uang banyak dari Kanjeng Mami kali yha. Sule berbeda. Mungkin atas dasar perilaku dan gajinya, Sule sedikit membangkang. Baginya, gelar bangsawan hanya menjadi gelar saja selama nggak memberikan kesejahteraan kepadanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berarti, walau ada di Jakarta, tradisi Jawa amat lekat di rumah tersebut. Curiganya, uang pangkal di rumah ini ikut-ikutan daerah tempat tinggal Kanjeng Mami. Sleketep! Upah di bawah standar, perilaku tidak adil, jadilah mereka manusia-manusia yang dimarjinalkan oleh sistem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat Kanjeng Mami yang memegang teguh kepriyayiannya dan budayanya, plus dia punya gelar ningrat, saya yakin kalau Kanjeng Mami asalnya Solo atau Jogja. Kalau pakai UMK Solo, gaji Sule ada di angka Rp1.956.200, kalau pakai UMK Jogja Rp2.069.530. Mau pakai Solo atau Jogja sama aja sih, sama-sama ngenes. Lha gaji segitu dipakai hidup di Jakarta ya ngelu lah. Orang gaji Jogja aja nggak bisa dipakai hidup di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh bisa sih, asalkan narimo ing pandum dan siap kelaparan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/masashi-kishimoto-akhirnya-turun-gunung-bagaimana-nasib-boruto-ke-depannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Masashi Kishimoto Akhirnya Turun Gunung, Bagaimana Nasib Boruto ke Depannya?\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau Kanjeng Mami menggaji Sule dengan UMK kota asal Kanjeng Mami, kemungkinan gaji Sule itu setara dengan UMK Solo atau Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":89826,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1979,8030,9577,9578],"class_list":["post-89779","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gaji","tag-sule","tag-umk-jogja","tag-umk-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89779","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89779"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89779\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89826"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}