{"id":89679,"date":"2020-11-26T06:47:54","date_gmt":"2020-11-25T23:47:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89679"},"modified":"2020-11-25T15:20:33","modified_gmt":"2020-11-25T08:20:33","slug":"5-lagu-sunda-yang-maknanya-nggak-kalah-sama-cidro-dan-sewu-kutho","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-lagu-sunda-yang-maknanya-nggak-kalah-sama-cidro-dan-sewu-kutho\/","title":{"rendered":"5 Lagu Sunda yang Maknanya Nggak Kalah sama &#8216;Cidro&#8217; dan &#8216;Sewu Kutho&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu-lagu bertema patah hati dengan lirik bahasa Jawa, seperti \u201cSewu Kutho\u201d atau \u201cCidro\u201d<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">merupakan sedikit dari sekian banyak karya Mas Didi Kempot yang saya sukai. Saya sering memutar lagu-lagu beliau meski tidak tahu artinya. Dan untuk memahami arti lagu-lagunya, tentu saja minta bantuan sama teman-teman saya yang bisa bahasa Jawa atau kalau pengin tahu pisan kadang-kadang diterjemahkan melalui Google. Nah, jika masyarakat Jawa terkenal dengan Mas Didi Kempot, masyarakat Sunda terkenal dengan Kang Darso, legendanya musik dan lagu Sunda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari pop Sunda, calung Sunda, dangdut dan lain sebagainya. Saya tidak heran kalau banyak penyanyi-penyanyi Sunda yang mengidolakan dan terinspirasi sama beliau. Bahkan, gaya pakaiannya pun ikut-ikutan kedarso-darsoan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu \u201cDuriat\u201d karya Kang Darso menjadi salah satu lagu Sunda favorit saya yang tidak boleh dilewatkan untuk saya putar setiap hari. Sebab, makna yang terkandung dalam lagu ini cukup dalam bagi kehidupan saya. Tapi, sebelum ke lagu \u201cDuriat\u201d<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saya akan merekomendasikan lagu lain, seperti lagu karya Bah Dadeng dan Kang Yayan Jatnika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai catatan, bagi kamu generasi muda yang gengsi dan menganggap kampungan mendengarkan lagu-lagu kedaerahan, sadarlah. Justru, betapa kampungannya anak-anak muda yang tidak mengetahui siapa itu Darso maupun Didi Kempot.<\/span><\/p>\n<h4><b>Lagu Sunda #1 Bah Dadeng \u201cPapatong\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu \u201cPapaptong\u201d (capung) karya Bah Dadeng ini enak didengar dan bisa bikin relaks. Lagu ini juga penuh dengan filosofi hidup manusia yang divisualisasikan dengan seekor capung. Begini potongan liriknya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Papatong nu koneng teu tembong deui (<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Capung yang berwarna kuning tidak tampak lagi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Leungit indit teu pamit <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Menghilang tanpa pamit)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Papatong nu koneng teu tembong deui <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Capung yang berwarna kuning tidak tampak lagi)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tileum bewara baturna<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Menghilang tanpa kabar)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, memasuki usia dewasa, manusia dengan segala kesibukannya sering kali mengikuti irama kehidupan. Sibuk menemukan identitas diri, sibuk unjuk gigi pada dunia dan sibuk mengejar mimpi. Hal ini digambarkan seekor capung yang terbang di waktu dzuhur dengan bebas. Artinya, di waktu dzuhur itu seperti orang dewasa atau anak muda yang bebas mau ngapain aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki waktu sore, capung tidak terbang terlalu tinggi. Artinya, waktu sore adalah waktu senja bagi manusia. Manusia mulai mengurangi aktivitas dan badan mulai melemah. Di usia senja, manusia harusnya jangan terlena dengan urusan duniawi.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prak reureuh tina ka riweuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Berhentilah dari kesibukan)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prak pasrah kanu kawasa <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Mendekatlah kepada yang Maha Kuasa)<\/span><\/p>\n<h4><b>Lagu Sunda #2 Kang Yayan Jatnika\u2013\u201dJang\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu Sunda berjudul \u201cJang\u201d karya dari Yayan Jatnika ini bila diresapi dan dipahami, sarat akan makna kehidupan yang sangat dalam. Inti dari lagu ini adalah nasihat ibu kepada anaknya. Dan kata \u201cJang\u201d merupakan panggilan untuk seorang anak dalam bahasa Sunda. Lagu ini mengingatkan seorang ibu kepada anaknya tentang kehidupan di dunia. Berikut potongan lirik lagu ini.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jang, hirup teh teu gampang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Nak, hidup itu tidak mudah)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Teu cukup ku dipikiran<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Tidak cukup hanya dipikir saja)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bari kudu dilakonan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Sambil harus dijalani juga)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jang, jalan kahirupan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Nak, jalan kehidupan ini)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Henteu sapanjangna datar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Tidak selamanya datar-datar saja)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aya mudun jeung tanjakan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Ada turun\/suka dan tanjakan\/duka)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lagu ini, seorang ibu menasihati anaknya soal kehidupan. Seperti harus sabar dalam kekurangan, jangan sombong ketika kaya, dan hidup harus banyak bersyukur kepada yang Maha Kuasa.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ulah nganyerikeun batur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Jangan menyakiti orang lain)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ngarah hirup loba dulur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Supaya hidup banyak saudara)<\/span><\/p>\n<h4><b>Lagu Sunda #3 Darso\u2013\u201dDuriat\u201d<\/b><\/h4>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Duriat teu bisa digantian ku rupa. Duriat teu bisa dihilian ku harta. Duriat teu bisa di aya-aya. Duriat datang na heunteu kapaksa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (Cinta tidak bisa digantikan dengan wajah. Cinta tidak bisa ditukar dengan harta. Cinta tidak bisa diada-ada. Cinta datangnya tidak dipaksa).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam bahasa Sunda, kata \u201cduriat\u201d artinya cinta. Tapi, kata tersebut lebih dalam dari kata \u201cbogoh\u201d dan \u201creuseup\u201d yang artinya hampir serupa. Di lagu ini, Darso berusaha mengungkapkan apa itu arti cinta yang sesunggunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penggemar lagu \u201cDuriat\u201d,<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saya menyukai lagu ini karena lebih dari sekadar soal cinta, lagu ini menunjukkan pemaknaan cinta sejati yang tidak hanya memandang dari fisik maupun harta semata. Dan cinta datang dan tumbuh tidak terpaksa maupun dipaksa. Dalem, sih, nggak kuat\u2026.<\/span><\/p>\n<h4><b>Lagu Sunda #4 Muslihat Kertadiwirya\u2013\u201dPileuleuyan\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang Sunda yang mengartikan lagu \u201cPileuleuyan\u201d ini sebagai lagu perpisahan. Padahal, makna lagu ini hanya berpisah sementara. Bukan berpisah selamanya. Tapi, kalau ada argumentasi lain dari pembaca terkait lagu ini, silakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, lagu ini seperti sedang menceritakan seseorang yang merantau. Terus, sebelum merantau, mengumpulkan dulu teman-temannya. Dan lagu ini persis seperti adat orang Sunda yang memang sebelum merantau, suka ngobrol-ngobrol dulu, makan-makan dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, lagu \u201cPileuleuyan\u201d ini umumnya hanya merantau ke tempat kerja saudara atau keluarga sehingga sifatnya sementara, toh nanti pada akhirnya balik lagi ke kampung halaman. Gitu, sih.<\/span><\/p>\n<h4><b>Lagu Sunda #5 Yayan Jatnika-\u201dMawar Bodas\u201d<\/b><\/h4>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sugan tea moal gagal <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Kirain tidak akan gagal)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kembang geus aya nu boga <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Buang sudah, sudah ada yang punya)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Balik teh asa hoream <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Pulang terasa malas)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lempang ge asa ngalayang <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(Jalan pun terasa melayang)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagu terakhir ini lagu yang bikin orang Sunda bakal bilang \u201cadeeeuy\u201d karena lagu ini adalah sindirian bagi siapa saja yang cintanya ditolak. Tapi, maknanya cukup dalam juga sebab amanat dari lagu \u201cMawar Bodas\u201d yaitu jika menemui kekecewaan atau kesedihan, jangan mau tenggelam dan larut dalam kekecewaan atau kesedihan, tetapi harus cepat bangkit kembali.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-sunda-pesta-pernikahan-dianggap-wah-ketika-menggelar-acara-dangdutan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Di Sunda, Pesta Pernikahan Dianggap \u2018Wah\u2019 Ketika Menggelar Acara Dangdutan <\/a><\/strong><strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika masyarakat Jawa terkenal dengan Mas Didi Kempot, masyarakat Sunda terkenal dengan Kang Darso, legendanya musik dan lagu Sunda.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":5545,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6968,248],"class_list":["post-89679","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-industri-hiburan","tag-musik"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89679","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89679"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89679\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5545"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89679"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89679"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89679"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}