{"id":89677,"date":"2020-11-29T07:33:07","date_gmt":"2020-11-29T00:33:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89677"},"modified":"2020-11-26T22:45:44","modified_gmt":"2020-11-26T15:45:44","slug":"lagu-didi-kempot-yang-selalu-berkumandang-di-tradisi-nyongkolan-suku-sasak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lagu-didi-kempot-yang-selalu-berkumandang-di-tradisi-nyongkolan-suku-sasak\/","title":{"rendered":"Lagu Didi Kempot yang Selalu Berkumandang di Tradisi Nyongkolan Suku Sasak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu penghuni Desa Beleq, Gumantar, Kayangan, Lombok Utara, menelpon saya. Desa tempat saya KKN itu memang masih menyayangi saya dengan apa adanya. Bahkan, di sana saya jauh menemukan rumah ketimbang di rumah sendiri. Salah satu penduduk desa yang selalu baik kepada saya, Bang Wira, mau menikah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangan saya langsung jauh ke dua tahun yang lalu. Di mana saya KKN dengan syahdu. Hampir tiap pernikahan, saya merasakan makanan enak. Bukan makanan sepat dan nggak banget buatan teman-teman KKN saya. Selain makanan enak, di sana ada tradisi nyongkolan. Di desa saya, nyongkolan adalah pesta terselubung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak pernah merindukan dangdut atau ngibing selama KKN. Pandangan saya tentang Lombok dan julukannya, sempat membuat saya masam lantaran harus berpisah dengan hobi saya, ngibing dangdutan. Jebul gambaran saya berbeda, semua disambut dengan meriah dan hormat. Termasuk tradisi ngigel, ngibing, njoget, atau julukan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bang Wira pun berkata, \u201cWah, coba ke sini (desa saya KKN), aku rindu jogetan sampeyan, Mas Gusti,\u201d begitu. Nggak ada logat Sasak sama sekali. Bahkan, Bang Wira yang produk asli Sasak, lumayan lancar ketika ngobrol pakai bahasa Jawa. Walaupun kondisi seperti ini sempat diprotes kawan saya, katanya terlalu Jawasentris!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya terkenal dengan jogetan paling wangun seantero desa. Yang bikin saya kemekelen dalam batin dan sukma nih ya, medan desa KKN saya ini nanjak Gunung Rinjani. Sedangkan dalam nyongkolan (salah satu prosesi perkawinan Suku Sasak), terdapat prosesi bak pawai yang membawa speaker yang besarnya ngaudzubillah. Jadi, speaker tersebut dibawa pakai gerobak dan kondisinya nanjak!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil njoget, saya melihat wajah-wajah merah penduduk desa dan kawan-kawan saya KKN yang malu ngibing. Mereka ini sungguh nggak tahu keuntungan. Udah asyik ngibing, malah ndorong-ndorong speaker melawan terjalnya kaki Gunung Rinjani. Sampai lokasi, ada yang capek karena ngibing, ada yang goleran karena buasnya medan Gunung Rinjani. Kapok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Esoknya, Bang Wira video call saya, memakai gaun pengantin. Warga sana doyan sekali yang namanya fitur video call, padahal sinyal kempas-kempis. Ia akhirnya menikahi seorang gadis asal Dasantreng, Gumantar. Rona wajahnya bahagia luar biasa. Namun, yang membuat saya sumringah, lagi-lagi sayup tembang Didi Kempot terdengar renyah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya senyum-senyum sendiri. Warga desa saya KKN, sangat gandrung lagu-lagu Jawa. Apalagi tembang-tembang almarhum Didi Kempot. Mereka menyanyikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cidro<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan wajah yang amat bahagia. Ini adalah pengalaman baru yang selama ini saya lihat. Lha gimana, kebanyakan kawan kampus saya, nyanyi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cidro<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sambil mbrebes mili di pojokan kosan, je.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, hadirnya lagu Didi Kempot di tanah Sasak, seakan mengijabah salah satu doanya: patah hati, dijogeti saja. Warga tempat saya KKN, walau nggak paham lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ambyar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menceritakan tentang apa, kondisinya bagaimana, dan medan terjalnya seberapa, tetap saja dijogeti dan diprengesi dengan baik dan hormat. Setelah melihat mereka, saya hanya bisa senyum dan mbatin, \u201cDidi Kempot orang baik, pun dengan para pendengar lagu-lagunya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menjadi favorit mereka adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Banyu<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Langit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Selain nadanya yang enak sambil menikmati badai gunung Rinjani, menjadi idola karena liriknya begini, \u201cBanyu langit sing ono nduwur kayangan.\u201d Ya, benar, ada kata \u201ckayangan\u201d lantaran di desa saya, Kayangan adalah nama kecamatan. Selain ketertarikan historis dan suasana, lagu ini, kata mereka, sangat nikmat untuk bersedih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEmang abang tahu lagunya?\u201d tanya saya suatu ketika kepada salah satu penduduk desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNggak, Bang. Tapi nggak tahu kenapa enak aja didengarkan ketika sedih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan bukan hanya ketajaman lirik, lagu Didi Kempot juga sangat syahdu sejak dalam spektrum suara. Getaran suara Didi Kempot dalam lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Banyu Langit,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> katanya, sangat enak untuk meratapi pacar di Berugak (sejenis cakruk atau saung di Lombok).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih sering mendengarkan lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Perang<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Cine<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Lagu Sasak yang mbois sekali di telinga saya. Pun warga desa saya KKN, masih doyan lagu-lagu Didi Kempot. Hal ini menjadi daya magis yang menembus nadi-nadi sektoral<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di akhir video call tersebut, tradisi mendorong speaker masih saja terjadi. Sepertinya, itu menjadi puncak dan perwujudan bahwa kerukunan masih ada dan terselip dengan khusyuk di suatu daerah. Siapa sangka, lagu yang dicap membuat sedih, bisa membakar semangat seseorang untuk mendorong gerobak berisikan speaker yang gedenya ngaudzubillah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sembari bercerita mengenai perkawinannya, lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sewu Kutho<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berkumandang. Saya senyum lagi, jebul Mas Didi nggak pernah ingkar janji. \u201cSewo kuto uwis tak liwati, sewu ati tak takoni,\u201d nggak sekadar kecu belaka. Bahkan, Didi Kempot sudah menyambangi Kayangan guna menakoni ati-ati yang ia sambangi. Tapi ya itu, \u201cKabeh podo rangerteni, lungamu neng endi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-kambing-guling-makanan-khas-pesta-pernikahan-di-lombok-justru-berbahan-batang-pisang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bukan Kambing Guling, Makanan Khas Pesta Pernikahan di Lombok Justru Berbahan Batang Pisang<\/a><\/strong> <strong>d<\/strong><strong>an tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hadirnya lagu-lagu Didi Kempot di tanah Sasak, seakan mengijabah salah satu doanya: patah hati, dijogeti saja. <\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":91318,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1427,6058,9667],"class_list":["post-89677","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-didi-kempot","tag-suku-sasak","tag-tradisi-nyongkolan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89677","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89677"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89677\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91318"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89677"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89677"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89677"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}