{"id":89668,"date":"2020-11-20T06:50:38","date_gmt":"2020-11-19T23:50:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89668"},"modified":"2020-11-20T03:20:00","modified_gmt":"2020-11-19T20:20:00","slug":"viralnya-unyribet-pertanda-uny-belum-layak-mendaku-diri-sebagai-world-class-university","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/viralnya-unyribet-pertanda-uny-belum-layak-mendaku-diri-sebagai-world-class-university\/","title":{"rendered":"Viralnya #UNYribet Pertanda UNY Belum Layak Mendaku Diri sebagai &#8216;World Class University&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada hari Rabu, 18 November 2020 mulai pukul 20.00 jagat Twitter diramaikan dengan aksi online yang mengangkat tagar #UNYribet. Tak hanya para mahasiswa UNY saja yang turut meramaikan aksi online ini, melainkan juga mahasiswa perguruan tinggi lain bahkan para aktivis beken juga turut menyoroti. Sepertinya selama pandemi sering kita jumpai aksi-aksi online yang digerakkan oleh mahasiswa dan ditujukan oleh kampusnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksi online melayangkan kekecewaan ke perguruan tinggi silih berganti dari perguruan tinggi satu ke lainnya. Bahu membahu antar mahasiswa beda perguruan tinggi pun seolah menunjukkan betapa memprihatinkannya sistem pendidikan Indonesia saat ini, meskipun sudah lama juga memprihatinkan, tapi untuk saat ini bisa dibilang menjadi titik nadir pendidikan di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali aksi-aksi online yang ditujukan ke perguruan tinggi ini tidak jauh dari keterbatasan fasilitas teknologi maupun kondisi ekonomi para mahasiswa yang semakin \u201cdihantam\u201d kebijakan perguruan tinggi. Meskipun dapat kita pahami, kondisi pandemi memang mengubah segalanya, dan tidak mudah menyesuaikan system yang ada sebelumnya. Tapi, dengan kesempatan waktu kurang lebih delapan bulan apakah masih kurang untuk menciptakan sistem pendidikan yang adaptif? #colekmendikbud<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aksi #UNYribet ditengarai disebabkan oleh kebijakan kampus yang seolah memaksa mahasiswa baru UNY dalam pelaksanaan ProTEFL. Dilansir dari laman <a href=\"http:\/\/p2b.lppmp.uny.ac.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">p2b.lppmp.uny.ac.id<\/a>, ProTEFL (Proficiency Test of English as a Foreign Language) sendiri merupakan tes kemampuan bahasa Inggris yang berekuivalensi degan paper-based TOEFL\u00ae. Tes ini mengukur kemampuan bahasa Inggris seseorang yang meliputi keterampilan mendengarkan (Listening Skill), tata bahasa (Grammar) dan membaca (Reading Skill).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betapa hinanya perguruan tinggi memaksakan tes kemampuan seperti ini dengan lupa atas kemampuannya sendiri. Maksud saya, UNY benar-benar tidak mampu meletakkan rasa empati dan cenderung kolot dalam menyusun kebijakannya. Begini ulasan pengumumannya yang ramai diperbincangkan.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Kalau kayak gini bukan <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/unyribet?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw\">#unyribet<\/a> lagi judulnya.<\/p>\n<p>Ini kegagalan sistem pendidikan untuk inklusif, tak diskriminatif, dan mampu beradaptasi dengan pandemi.<\/p>\n<p>Tetap semangat ya, kawan2 <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/mabaunymenggugat?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw\">#mabaunymenggugat<\/a>! <a href=\"https:\/\/t.co\/YPCxrXUz0L\">pic.twitter.com\/YPCxrXUz0L<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Okky Madasari (@okkymadasari) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/okkymadasari\/status\/1329079802901348353?ref_src=twsrc%5Etfw\">November 18, 2020<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah UNY buta bahwa kondisi saat ini sedang memporak-porandakan ekonomi dari segala sisi? Atau UNY memang belum tau bahwa di Indonesia hak istimewa atas fasilitas penunjang pendidikan online jelas masih ada jurang ketimpangan? Saya pikir tidak buta, hanya menutup mata saja, entahlah. Sebuah perguruan tinggi yang inklusif dan tidak diskriminatif itu tidak sebatas rektornya rajin membuat hiburan di kanal media sosialnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan membayangkan bagaimana para mahasiswa yang dipaksa ini ia berada di daerah yang memang tidak bisa menjangkau akses internet yang baik bahkan listrik sekalipun. Atau mahasiswa yang memang sedang diuji secara ekonomi. Sungguh malang penempuh pendidikan kini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang selalu mengerikan memiliki profesi penyusun kebijakan, akan dihadapkan pada jiwa-jiwa nyata yang tidak bisa diketahui keseluruhan keluhannya. Itulah pentingnya bagi para pemangku kebijakan untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya. Pada nyatanya sebuah kebijakan akan berujung entah menjadi haru bahagia atau keringat, tangis, bahkan nyawa sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, pada nunggu argument dari statement di judul artikel ini ya? Iya kok, memang UNY benar-benar \u201cWorld Class University\u201d, tapi ya sebatas slogan untuk mempromosikan kampus aja. Sebab, ditilik dari persoalan di atas saja itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan betapa belum layaknya menyandang predikat \u201cWorld Class University\u201d, udah deh jangan maksain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian menurut saya, predikat semacam ini sepertinya tidak perlu diagungkan setiap institusi pendidikan. Biarkan proses pendidikan dan hasilnya yang berbicara, kemudian orang tanpa sadar juga akan mengatakan \u201cwah ini baru yang namanya World Class University\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sayang, tidak dapat dimungkiri bahwa pendidikan saat ini sudah masuk ke dalam sistem ekonomi yang punya dua mata pisau. Di satu sisi membantu, di sisi lain bisa membunuh. Makanya segala cara akan ditempuh perguruan tinggi untuk mendapat \u201cuntung\u201d. Misalnya, melalui iming-iming slogan, predikat, atau visi misi perguruan tinggi sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kampus saya belum sesempurna yang saya harapkan, tidak ada salahnya saya turut menyampaikan kegelisahan yang terjadi oleh kawan saya di perguruan tinggi lainnya. Semoga ke depannya UNY dan perguruan tinggi atau institusi pendidikan lainnya bisa sungguh berhati-hati dalam menyusun kata per kata kebijakannya. Supaya predikat \u201cWorld Class University\u201d itu tidak cuma jadi dagelan semata, begitu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-cara-mengetahui-arah-mata-angin-di-jogja-bagi-orang-buta-arah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">6 Cara Mengetahui Arah Mata Angin di Jogja bagi Orang Buta Arah<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fernando-galang-rahmadana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fernando Galang Rahmadana<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aksi #UNYribet ditengarai disebabkan oleh kebijakan kampus yang seolah memaksa mahasiswa baru UNY dalam pelaksanaan ProTEFL.<\/p>\n","protected":false},"author":852,"featured_media":89745,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6286,2081,9570],"class_list":["post-89668","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kebijakan","tag-universitas","tag-uny"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/852"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89668"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89668\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}