{"id":89646,"date":"2020-11-21T07:31:07","date_gmt":"2020-11-21T00:31:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89646"},"modified":"2020-11-19T12:00:08","modified_gmt":"2020-11-19T05:00:08","slug":"ketika-luhut-trump-dan-ahok-main-karambol-di-cakruk-yang-sama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-luhut-trump-dan-ahok-main-karambol-di-cakruk-yang-sama\/","title":{"rendered":"Ketika Luhut, Trump, dan Ahok Main Karambol di Cakruk yang Sama"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Politik memang hal yang menyenangkan. Apalagi bagi pihak yang menang. Pihak yang kalah tentu saja barang satu atau dua tahun meratapi, besoknya ngosak-ngasik lagi. Nggak ada alasan gembos di tengah jalan, apalagi pihak-pihak yang punya privilese macam Bobby Nasution dan Gibran. Tapi, yah, begitulah politik. Bagai bermain dadu bermata enam, semua adalah kesempatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tiap pagelaran politik, selalu muncul nama-nama yang sahih. Di zaman Perang Bharatayuddha misalnya, muncul satu nama bernama Patih Sengkuni yang licik ngauzubillah dalam permainan catur. Politik juga melahirkan pihak goblok, masih dalam contoh kasus yang sama, Yudhistira misalnya. Ia pertaruhkan negaranya, Indraprastha. Bahkan Dropadi ia pertaruhkan dalam permainan dadu tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun dalam tiap pagelaran pilpres di negara kita maupun di negara tetangga. Nggak hanya pilpres wes, kegayengan selalu muncul bahkan dalam kontestasi akar rumput seperti pemilihan RT atau ketua pemuda. Bahkan, di dekat desa saya, ada yang berani adu jotos hanya untuk posisi ketua pemuda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kontestasi ke kontestasi, memunculkan watak yang abadi. Kita tarik saja tiga nama, Luhut, Trump, dan Ahok. Tiga sosok yang punya karakter kuat. Pun ketiganya punya karakteristik politik yang berbeda. Bagaimana jadinya ya semisal tiga tokoh ini duduk di cakruk yang sama, kemudian main karambol dengan riangnya? Mungkin, bakal begini jadinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sebuah cakruk, Trump sedang menggulung sarungnya. Sedangkan Luhut dan Ahok sudah ketawa-ketiwi mencoreng muka masing-masing dengan bedak. Maklum, Trump anak orang kaya pengusaha losmen di bilangan Kaliurang, pikir-pikir dulu kalau mau duduk sembarangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSini, lu! Duduk bisa kaga!\u201d ajak Ahok. Suaranya nyenthe, tapi nggak bermaksud ngajak gelut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, Rump. Sini, duduk, plah, kita membahas makna-makna logis dari tiap slentikan jari jemari kepada kristal,\u201d ujar Luhut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trump pun duduk. Dengan lambe yang mencucu-mencucu, ia ngelus-ngelus papan karambol. \u201cLicin sekali,\u201d jemarinya ngawis-ngawis ke angkasa, di hadapan wajah Ahok dan Luhut. \u201cLicin seperti omonganmu, Hok,\u201d kata Trump.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Luhut pun tertawa kemekelen. \u201cMelalui media yang nggak terbatas dan melampauinya, Trump memang bener sih, Hok,\u201d kata Luhut sok asyik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trump ikutin njentik kristal karambol, kristal demi kristal bertabrakan dengan gemuruh. \u201cUgh, ribetnya. Padahal tinggal masukin ke lubang, tapi ribet,\u201d kata Trump makin mencucu. Kembali mengawis-ngawis-kan tangannya, Trump nambahi, \u201cRibet, kayak omonganmu, Hut!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ahok pun menahan tawa. Ia tahu porsi. Takutnya, ada yang tersinggung dengan ketawanya dia. Lha gimana, minggu lalu saja Ahok didemo oleh remaja masjid lantaran omongannya yang keliwat licin. Hasilnya Ahok dirumahkan, nggak boleh keluar desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSini, sini, aku aja yang menjentikkan kristal agar masuk menuju lobang-lobang dengan khidmat dan tepat sasaran,\u201d ujar Luhut kebawa emosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKok lu lagi sih, Hut? Kan harusnya gua?\u201d Ahok terpancing juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUdah, kamu diam aja, daripada didemo satu negara!\u201d tutup Luhut bersiap nyentil kristal karambol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYaelah, kepalaaaaaa, pundak, Luhut lagi, Luhut lagi,\u201d katanya. Naklum, Luhut ini jabatannya hanya seksi perkap dalam hierarki karang taruna, tapi terkadang kewenangannya sudah kayak ketua karang taruna. Ia nggak mau tampil, tapi mau unjuk gigi terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trump dari tadi hanya diam dan memainkan ponselnya. Jebul ia sedang nge-tweet begini, \u201cTHEY WOULDN&#8217;T LET KARAMBOLL\u2019S (bahasa Inggris e karambol opo, sih?) WATCHERS INTO THE CAKRUK ROOMS. UNCONSTITUTIONAL!!!\u201d ujarnya dengan keminggris. Tak lama, Twitter pun memberikan peringatan atas cuitan tersebut. Mampus!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian giliran Ahok, ia berhasil nyentil satu kristal raja milik Trump. Ia berteriak girang dan Luhut tampak mrengut tanda nggak suka. Trump yang jengkel pun melirik ke Luhut, \u201cGimana nih, Hut?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Luhut menjawab, \u201cSaya tidak terpikir soal itu. Ya tidak tahu, itu urusan anak buah saya \u201d Wedyan, anak buah, Buos! Sekaliber seksi perkap saja punya anak buah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cI WON THE KARAMBOLL!\u201d kata Trump.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ahok pun wajahnya langsung merah. Ia kemudian petantang-petenteng sambil bilang, \u201cWon the karambol, won the karambol, pemahaman nenek lu?!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil nangis di pojok cakruk, Trump memainkan ponselnya dan kembali nge-tweet, \u201cI WON THIS KARAMBOLL, BY A LOT!\u201d Bagai pria yang patah hati, Trump mengubah foto profil dan header Twitter-nya menjadi warna hitam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak kalah kesalnya, Luhut pulang ke markas karang taruna, mau melaporkan kejadian ini kepada ketua yang hobi kerja, kerja, dan kerja. Saking hobinya kerja, ia sangat piawai mengurus desa dengan baik dan benar. Saking benarnya, semua pada turun ke lapangan desa, demonstrasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ahok pun hanya bisa mbatin, \u201cWaduh, dirumahkan lagi nih gua. Susah emang main sama bocah-bocah cepu dan penginnya menang terus.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/trump-butuh-sosok-ki-amien-rais-untuk-bikin-aksi-protesnya-meriah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Trump Butuh Sosok Ki Amien Rais untuk Bikin Aksi Protesnya Meria<\/a>h<\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di sebuah cakruk, Trump sedang menggulung sarungnya. Sedangkan Luhut dan Ahok sudah ketawa-ketiwi mencoreng muka masing-masing dengan bedak.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":89707,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4512,5102,873],"class_list":["post-89646","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ahok","tag-luhut","tag-trump"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89646","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89646"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89646\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89707"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89646"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89646"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89646"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}