{"id":89638,"date":"2020-11-21T07:32:57","date_gmt":"2020-11-21T00:32:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89638"},"modified":"2020-11-21T20:40:55","modified_gmt":"2020-11-21T13:40:55","slug":"menguak-misteri-kenapa-muka-orang-korea-sama-semua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menguak-misteri-kenapa-muka-orang-korea-sama-semua\/","title":{"rendered":"Menguak Misteri Kenapa Muka Orang Korea \u201cSama\u201d Semua"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya saya sudah bosan menulis topik tentang kekoreaan di Terminal Mojok. Mulai dari ngomongin perkara wajib militer, ava Korea yang dikambing hitamkan, sampai mengulas kebodohan tokoh film zombie Korea. Tapi, lagi-lagi topik berbau Korea kembali menginspirasi saya untuk menyentil seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, saya nggak sengaja menemukan sebuah tweet berisi dua tangkapan layar dari snapgram seorang sutradara film terkenal, yang ada Ardhito Pramono-nya. Sutradara tersebut menilai bahwa pemain drama Korea <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki wajah sama semua sehingga nggak bisa membedakan kecuali pemeran nenek-nenek dan emak-emak. Ia juga mengomentari potongan rambut cowok ganteng Korea yang dibikin sama semua kayak anak akpol baris-berbaris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Huanjay.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hmmm, karena saya belum nonton dramanya Han Ji-pyeong atau Nam Do-san itu, jadi saya juga nggak akan berkomentar soal dramanya, sih. Saya justru ingin membahas kenapa muka orang Korea dianggap \u201csama\u201d semua. Asumsi ini selalu dilayangkan oleh orang-orang kita saat melihat wujud orang Korea yang homogen. Kulit putih kekuningan dan mata sipit. Belum lagi Korea Selatan terkenal sebagai negara dengan operasi plastik terbaik di dunia sehingga orang-orang non Korea berbondong-bondong datang ke negeri Gingseng untuk melakukan prosedur operasi plastik. Memang, sih, hasilnya sungguh bikin pangling. Maka, nggak heran kalau orang-orang negara kita menganggap wajah orang Korea \u201csama\u201d semua karena hasil satu cetakan. Wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya ada alasan ilmiah dan logis mengapa saat kita melihat manusia lain dengan ras yang berbeda, pasti kita akan melihat wajah mereka mirip satu sama lain. Hal ini rupanya nggak hanya dialami oleh kita, tetapi juga oleh orang-orang dengan ras lainnya di seluruh penjuru dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dilansir dari <em>Guardian<\/em>, sebuah riset yang telah dipublikasikan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Proceedings of the National Academy of Sciences<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memaparkan persepsi bahwa orang dari kelompok ras lain mirip, berakar dari cara otak manusia memproses apa yang mereka lihat. Penelitian ini dilakukan terhadap 20 responden berkulit putih menggunakan mesin MRI dan mereka diperlihatkan foto wajah sesama kulit putih. Hasilnya 19 dari 20 responden menunjukkan adanya aktivitas di bagian otak yang bertugas mengenali wajah. Sebaliknya, hanya sedikit responden yang menunjukkan aktivitas di bagian otak ketika diperlihatkan foto orang berkulit hitam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi nih penelitian lain, tetapi sudah cukup lama yaitu tahun 2011. Masih dilansir dari Guardian juga, Mo Costandi sang penulis menyatakan bahwa bagi banyak orang Amerika, semua orang Asia mirip, begitu pun sebaliknya. Hal ini blio sebut \u201cother race effect\u201d yaitu kesulitan yang dialami saat mengidentifikasi orang dari ras lain. Costandi juga mengutip penelitian oleh Heather Lucas dari Cognitive Neuroscience Laboratory University bahwa gejala kesulitan mengidentifikasi wajah ras lain dipengaruhi oleh aktivitas dalam otak bernama N200 yang ada di lobus frontal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Responden penelitiannya menunjukkan reaksi lebih mengenali wajah dari ras sendiri ketimbang wajah dari ras lain. Lucas pun berhipotesis kalau orang-orang satu ras ini karena lebih sering ketemu makanya lebih mudah untuk mengenali satu sama lain. Hmmm, menarik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sama halnya seperti orang Korea. Kalau seseorang keseringan nonton tayangan berbau Korea, contohnya saya, lama kelamaan bisa membedakan wajah-wajah artis Korea satu sama lain karena sering melihat mereka. Memang, dulu saya pernah menganggap wajah orang Korea sama semua nggak ada bedanya. Bahkan sering nyaru dengan orang Cina atau Jepang. Namun, karena sudah terbiasa jadi saya mampu membedakan wajah member tiap boygroup atau girlgroup Kpop atau para aktor dan aktris Korea Selatan. Iya selatan, bukan utara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomongin soal karakteristik fisik orang Asia Timur yang mirip satu sama lain, ternyata mereka memang memiliki nenek moyang berasal dari leluhur yang sama. Etnis Cina Han, Jepang, dan Korea pernah berbagi leluhur sekitar 3000-3600 tahun lalu pada masa Dinasti Shang. Hal inilah yang membuat kebudayaan negara-negara di Asia Timur terlihat mirip satu sama lain. Makan sama-sama pakai sumpit (hanya beda ukuran, bahan pembuatan, dan bentuknya), dialek berbicara, hingga pakaian tradisional. Namun, dengan begitu sejarawan Kim Won-yong mengatakan kalau Korea bertindak sebagai jembatan kebudayaan antara Cina dan Jepang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip dari <em><a href=\"https:\/\/tirto.id\/bagaimana-orang-cina-korea-dan-jepang-punya-leluhur-yang-sama-diue\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tirto.id,<\/a> s<\/em>ejak populasi etnis Cina Han, Jepang, dan Korea saling terpisah, kini mereka sudah membentuk lungkang gennya sendiri. Meskipun saat ini mereka telah membentuk en yang identik dengan etnis masing-masing. Beberapa hal lain yang menyebabkan perbedaan genetik ini di antaranya juga soal migrasi prasejarah atau sejarah, isolasi geografis, dan seleksi alam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">So, sebelum mengatakan, \u201cOrang Korea mukanya sama semua!11!!1\u201d atau, \u201cBule kok mukanya mirip-mirip yhaaa?\u201d Ingatlah bahwa mereka pun bisa jadi memiliki persepsi yang sama dengan kita. \u201cOrang Indonesia kok mukanya sama semua?1!1!\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-indonesia-di-mata-orang-korea\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Orang Indonesia di Mata Orang Korea<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/jasmine-nadiah-aurin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jasmine Nadiah Aurin<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dulu saya pernah menganggap wajah orang Korea sama semua nggak ada bedanya. Bahkan sering nyaru dengan orang Cina atau Jepang.<\/p>\n","protected":false},"author":838,"featured_media":89710,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9568,4274],"class_list":["post-89638","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-muka","tag-orang-korea"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89638","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/838"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89638"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89638\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89710"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89638"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89638"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89638"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}