{"id":89297,"date":"2020-11-18T07:35:34","date_gmt":"2020-11-18T00:35:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=89297"},"modified":"2022-02-10T19:52:39","modified_gmt":"2022-02-10T12:52:39","slug":"wajah-baru-malioboro-dari-umpatan-rakyat-sampai-mimpi-kota-warisan-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wajah-baru-malioboro-dari-umpatan-rakyat-sampai-mimpi-kota-warisan-budaya\/","title":{"rendered":"Wajah Baru Malioboro: Dari Umpatan Rakyat Sampai Mimpi Kota Warisan Budaya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Bapak-bapak pemerintah Yogyakarta kota, untuk uji coba kalian lihat! Pedagang kaki lima pada sepi! Tukang becak angkutannya sepi! Kalian memang uji coba, tapi mengapa kami yang kalian jadikan kelinci percobaan? Buajingan!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata-kata tersebut disampaikan oleh seorang bapak di tengah jalan Malioboro. Bapak tersebut tidak perlu khawatir ditabrak kendaraan yang melintas. Karena pada saat itu sedang dilakukan uji coba kawasan Malioboro bebas kendaraan bermotor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang perlu dikhawatirkan adalah apa yang dikatakan bapak tersebut. Dengan raut wajah marah, bapak tadi menyuarakan kekecewaan dengan program uji coba ini. Tanpa dilintasi kendaraan bermotor, Malioboro seperti alun-alun utara yang dipagari: sepi pengunjung!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uji coba ini dilaksanakan sejak tanggal 3 November sampai 15 November 2020. Nantinya, hasil uji coba ini akan dikaji terutama perkara rekayasa lalu lintas. Puncaknya adalah kawasan Malioboro bebas kendaraan bermotor secara permanen. Katanya, sih, agar seperti zaman dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Pemprov DIY, wacana Malioboro bebas kendaraan bermotor adalah untuk mendukung penetapan Jogja sebagai kota warisan budaya oleh Unesco. Sebuah mimpi yang tinggi, hampir nyundul langit. Tapi, apakah pengorbanan yang dilakukan sepadan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru uji coba saja sudah riuh dengan umpatan. Selain video bapak-bapak dengan tatapan nanar tadi, Perkumpulan Pengusaha Malioboro dan A Yani (PPMAY) juga bersuara. Lha tenan tho, suara kontra lebih lantang dari \u201cromantisnya Malioboro tanpa kendaraan bermotor.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut berita yang dilansir <\/span><a href=\"https:\/\/www.krjogja.com\/berita-lokal\/diy\/yogyakarta\/penutupan-malioboro-dievaluasi-omzet-ppmay-naik-signifikan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">KRJogja<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, anggota PPMAY menyatakan bahwa usaha mereka terancam. \u201cOmzet turun drastis hingga 80 persen, bahkan ada yang nol penjualan. Banyak konsumen\/warga yang membatalkan berbelanja ke Malioboro, mereka memilih berbelanja di lokasi yang aksesnya mudah,\u201d ucap ketua PPMAY Sadana Mulyono usai rapat pengurus PPMAY, Jumat (6\/11).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekelas pemilik pertokoan saja menjerit. Bagaimana dengan PKL yang selama ini menggantungkan hidup dari jalanan Malioboro? Apakah terdampak dengan uji coba ini? Jelas lah, mbok nuraninya dipakai!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya adalah Rini, PKL di bidang kuliner. Menurut berita di <\/span><a href=\"https:\/\/travel.kompas.com\/read\/2020\/11\/05\/071900227\/malioboro-bebas-kendaraan-bermotor-pedagang-curhat-sepi-pengunjung?page=all\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kompas<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Rini mengeluhkan penjualan yang menurun drastis. Sebelum penetapan daerah bebas kendaraan bermotor, Rini mengaku mendapat omzet 1 juta per hari. Setelah akses kendaraan ditutup, omzet Rini turun menjadi seratus ribu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau dua minggu (uji coba) itu dengan penghasilan segitu bagaimana karyawan saya,\u201d imbuh Rini yang memperkerjakan tiga karyawan. Akibat dari penurunan omzet ini, blio terpaksa mengurangi belanja kebutuhan warungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum uji coba ini, Rini menjual makanan melalui jasa ojek online. Namun, setelah uji coba banyak ojek yang tidak mau mengambil pesanan. \u201cTidak ada yang mau ambil orderan ke sini karena jalurnya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Malioboro Hingga Ahmad Yani (Pelmani) Slamet mengungkapkan hal sama. Banyak omzet PKL yang menurun drastis akibat uji coba ini. \u201cTurunnya sampai 70 persen,\u201d kata blio.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain omzet, persoalan yang menjadi perhatian Slamet adalah kantong parkir. Saat ini kantong parkir hanya terletak di Jalan Abu Bakar Ali. Menurut blio, jika kantong parkir baru tidak segera disediakan, PKL dan pelaku usaha lain akan mengalami kerugian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana dengan pandangan pengunjung Malioboro? Sama saja. Mereka mengeluhkan uji coba yang seperti setengah matang ini. Salah satunya adalah Heri, warga Magelang yang bekerja di jantung kota. Dalam berita di <\/span><a href=\"https:\/\/jogja.suara.com\/read\/2020\/11\/03\/140925\/malioboro-khusus-pedestrian-pemotor-dan-pkl-kebingungan-pengalihan-arus?page=all\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja Suara<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, blio menyatakan kesulitan untuk menuju lokasi bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih seru lagi komentar netizen. Dalam komentar di Twitter Krjogja, banyak yang mengeluh bingung untuk berbelanja di Malioboro. Mereka enggan belanja jika harus parkir di Abu Bakar Ali, apalagi bila belanja barang berat seperti gulungan kain dan karpet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klise. Sangat klise. Ketika pemerintah mengejar target kota warisan budaya, penghidupan rakyat banyak dikorbankan. Padahal, selama ini Malioboro sudah menjadi landmark Jogja yang selalu dituju wisatawan. Bahkan papan penunjuk jalan Malioboro menjadi rebutan untuk selfie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa agi yang kurang dari Malioboro? Dengan menutup jalan Malioboro, apakah nilai romantisnya akan naik? Paling sepekan dua pekan saja terlihat elok dan selo. Namun, nanti juga biasa saja dan malah merepotkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas repot, kantong parkir yang siap hanya satu di Taman Abu Bakar Ali. Letaknya di ujung utara Malioboro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebesar apa, sih, dukungan dari area bebas kendaraan Malioboro kepada lolosnya Jogja sebagai kota warisan budaya? Sampai mengorbankan mereka yang hidup dan menghidupi Malioboro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya teringat lirik lagu Jogja Istimewa. \u201cJogja istimewa bukan hanya daerahnya. Tapi juga karena orang-orangnya.\u201d Salah satu orang itu adalah mereka yang ada di Malioboro. Mereka yang dikorbankan demi sebuah gelar dari Unesco.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, lelakon opo meneh niki, ngarso dalem?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menelusuri-asal-usul-nama-malioboro-ikon-kota-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Menelusuri Asal Usul Nama Malioboro, Ikon Kota Jogja<\/strong><\/a> <b>d<\/b><b>an tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\"><b>Prabu Yudianto<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurut Pemprov DIY, wacana Malioboro bebas kendaraan bermotor untuk mendukung penetapan Jogja sebagai kota warisan budaya oleh Unesco.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":89319,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[446,1022,9320],"class_list":["post-89297","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-malioboro","tag-pkl","tag-warisan-budaya"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=89297"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/89297\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=89297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=89297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=89297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}