{"id":88989,"date":"2020-11-16T12:33:26","date_gmt":"2020-11-16T05:33:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88989"},"modified":"2020-11-16T12:33:43","modified_gmt":"2020-11-16T05:33:43","slug":"secara-karakter-nam-do-san-start-up-lebih-mashok-ketimbang-ji-pyeong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/secara-karakter-nam-do-san-start-up-lebih-mashok-ketimbang-ji-pyeong\/","title":{"rendered":"Secara Karakter, Nam Do-san &#8216;Start-Up&#8217; Lebih Mashok Ketimbang Ji-pyeong"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sedikit dibuat terenyak belakangan ini menyaksikan lini masa, baik di Twitter maupun Facebook, yang sangat gegap drama Korea <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start-Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Scroll ke atas, kemudian ke bawah, isinya benar-benar gaduh perkara siapa yang lebih pantas jadi calon menantunya Halmoni. Saking onarnya, banyak yang bilang jika kubu-kubuan ini lebih parah dari perang-perangan antara Team Cap dan Team Iron Man perkara Sokovia Accord. Perang tim Nam Do-san dan Han Ji-pyeong sudah sebarbar ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah beberapa kali membaca, saya bisa lihat jika sebagian warganet punya empati yang kelewat menggelembung untuk karakter Han Ji-pyeong. Ya bagaimana tidak, sebagai karakter sekunder, Pak Han ini kelewat banyak nongolnya. Kan bikin netizen salah fokus jadinya. Ditambah statusnya sebagai cowok matang, mapan, dan menarik yang seolah bikin orang-orang kepincut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di sini saya nggak mau mencoba untuk merasionalisasi alasan para pengikut sekte Han Ji-pyeong. Justru saya sebagai penonton \u201cnetral\u201d mau memberikan pledoi untuk karakter Nam Do-san yang sering banget diamuk massa. Ada beberapa alasan mengapa karakter ini lebih \u201cmasuk Pak Eko!\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>Nam Do-san adalah karakter yang \u201cklik\u201d dengan kebanyakan milennials<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujurlah kalian para penonton, Do-san adalah kita. Pria lajang 20 tahunan yang nggak jelas-jelas amat hidupnya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Self-esteemnya payah, nggak ngerti mau ngapain, takut mikir masa depan, plus punya seperangkat orang tua khas Asian parents yang berisiknya naudzubillah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba deh kalian putar ulang adegan ketika Do-san naik kereta sambil merajut, di kanan-kirinya orang-orang berjas kantoran, sibuk kasak-kusuk soal beli apartemen dan mobil baru. Apa tidak mbrebes mili<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dirimu jika jadi Do-san? Sebagai manusia on-the-way seperempat abad yang nggak sakses-sakses amat, saya merasa sangat terhubung dengan adegan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi ketika adegan permintaan dia masuk ke Sand Box ditolak mentah-mentah sama Ji-pyeong. Lihatlah bagaimana wajah Do-san yang seolah bilang, \u201cDahlah, nggak ada harapan gue!\u201d Nam Do-san yang cupu itu, seperti kebanyakan dari kita wahai kawula muda, adalah pribadi visioner yang nggak paham medan bertarung dan nggak punya relasi. Punya sih dua partner kerja, tapi sama-sama noob<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ya buat apa?<\/span><\/p>\n<h4><b>Kembaran beda bapak-ibu dengan Dal-mi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bilang begini karena ya dua-duanya itu saling konek dan complementary. Ingat adegan ketika di Hackathon, Do-san selalu jadi orang pertama yang ngeh sama konsep abstraknya Dal-mi? Atau ketika Dal-mi meracau soal anjing pengawal tuna netra yang bisa ngomong? Yap, di antara empat manusia yang duduk mengelilingi meja bundar itu, cuma Do-san yang nyambung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Do-san ini juga kalau ditelaah secara awas, adalah tipe suami zaman jigeum<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">alias dia bisa jadi sosok suami yang feminis gitu. Do-san ini tipe karakter yang bakal selalu mendukung istri berkarier, tidak hobi membatasi pergerakan istri, selalu mau mendengarkan cerita istri, dan tentunya punya keterikatan \u201csahabat-gue-banget\u201d dengan istri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang predestinasinya Dalmi-Dosan endgame, kalian bisa bayangkan kapel super supportive ala Ruth dan Martin Ginsburg\u2013berjuang, jatuh-bangun, dan langgeng bareng. Duh so sweetnya!<\/span><\/p>\n<h4><b>Tipe manusia yang berani ambil risiko dan nggak nanggung<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Okelah kalau ngomong perkara siapa yang jor-joran, semua karakter jelas habis-habisan. Bahkan si sepupu Do-san yang ngaku editor kelas kakap itu juga nggak effortless, lho. Cuma di sini saya mau memberi highlight kalau kadang \u00adketekunannya Do-san itu disepelekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayo coba kita hitung berapa kali dia keluar dari comfort zone. Pertama, nekat pergi ke Networking Party punya Won In-jae. Perginya itu juga pakai modal lho, Guys, mulai dari cukur ke salon, pinjam jas, dan keberanian membuang sisi introvertnya buat ketemu orang yang entah siapa di acara yang juga entah punya siapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua adalah ketika dia melepas \u201canak kesayangannya\u201d alias Samsan Tech buat diasuh sama Dal-mi. Jangan lupa aksi beringasnya Do-san saat di ruangan bapak tirinya In-jae. Dan mungkin rentetan kampanye Do-san lainnya untuk Dal-mi dan Halmoni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percaya deh, ikhtiarnya Do-san memang sering kelelep karena kalian membandingkan sama karakter yang punya power alias duitnya eksesif banget, Bok. Coba deh dilihat dengan tidak menggunakan prasangka, pasti nanti kelihatan kok hilalnya!<\/span><\/p>\n<h4><b>Nam Do-san adalah pendengar paripurna yang nggak gengsi buat belajar dan memperbaiki diri<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau konteksnya peran manusia di sebuah fraksi, Do-san ini termasuk sosok yang krusial. Oke, dia memang culun punya dan sering banget out-of-touch, tapi kita jelas nggak bisa menyangkal kalau Do-san adalah sosok yang taat mendengarkan. Dia nggak pernah abstain untuk mendengar masukan, saran, dan keluh-kesah dari komplotan Samsan Tech (terutama Dal-mi).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era Hackathon misalnya, apa pernah Do-sana nggak menghargai pendapat Dal-mi? Di saat Chul-san dan Yong-san kembang-kempis sama status Dal-mi yang notabenenya hanya lulusan SMA, Do-san enggak kendur dan justru bisa mengambil sikap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan ketika ditoyor kalimat pedas oleh Pak Han perkara dirinya nggak pantas jadi CEO, dia diam-diam merenungkan. Ya meskipun awalnya seperti sambaran gledek dan bikin dia nggak santai. Pun ketika Dal-mi beres presentasi di Sandbox, Do-san sadar dia sangat kurang dan mau menerima kesahihan baru kalau dia memang nggak punya kualifikasi CEO-ing.<\/span><\/p>\n<h4><b>Karakter yang mematahkan stereotip peran utama pria di drama Korea<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini menurut saya yang paling penting. Banyak dari kita-kita ini yang nggak \u201cjodoh\u201d dengan Do-san karena ya dia memang bukan karakter peran utama pria mainstream<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang sering kita cicipi di drama Korea. Bisa dikatakan Nam Do-san ini adalah karakter yang membuat orang mikir, \u201cKok pemeran utamanya gini banget ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sahih kok kalau kalian i<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lfeel atau hilang mood sama Do-san. Pemeran utama kok canggung, tidak karismatik, terlihat nggak niat, dan tidak sengsara. Bandingkan dengan Pak Han yang kelihatan sekali ngetrill di pasaran sebagai ikon \u201cpemeran utama pria yang tertukar\u201d. Namun, kalian sungguh zalim kalau melafalkan karakter Do-san cuma sebagai \u201ckarakter yang gitu-gitu doang\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab kalau boleh jujur, impresi pertama saya kepada Do-san itu tidak jauh berbeda ketika nonton Brian Johnson di The Breakfast Club. Tipikal nerd yang sebenarnya powerful, cuma butuh dorongan dan lingkungan yang kompatibel dengan kepribadiannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya justru mengapresiasi penulis Park Hye-ryun yang berani keluar dari zona nyaman konsep mainstream pemeran utama pria. Ibu Park berani untuk membuat karakter yang compeng sana-sini untuk kemudian kita saksikan bersama character development-nya. Terlebih lagi nih saya mau tanya, apa sih parameternya sebuah karakter itu disebut sebagai peran utama? Patokannya juga nggak jelas, terus kenapa ribut?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keuletan dua kubu berperang ini juga mengacu pada siapa yang paling nelangsa hidupnya. Tim Pak Han bersikukuh kalau kapten mereka melewati masa kecil yang sulit karena yatim-piatu, selalu sendirian, dan bujang lapuk. Sekte Do-san membela kalau hidup jadi Do-san itu juga nggak enteng\u2013penuh tekanan sana-sini karena pribadi mindernya dan punya bapak yang gila prestasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">I mean, seriously, Guys! Kita perlu ingat adegan Alyssa dan James di The End of the F***ing World 2, saat mereka main klaim siapa yang paling menderita ketika putus. Padahal keduanya sama-sama porak-poranda dan mengalami hari super berat. Kesengsaraan itu bukan acara sabung ayam. Kenapa diadu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga bahan debat kusir menyoal sosok Do-san cuma aji-mumpung dan tidak berhak untuk maju. Sekarang kita sama-sama realistis, siapa sih yang tidak mau jalan di atas karpet merah yang kanan-kirinya berjejalan orang bersorak-sorai? Lagian Do-san juga tidak sebegitu oportunisnya kok. Beberapa kali dia merasa tersayat dengan semua dosa kolektif itu dan memberanikan diri untuk jujur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta lapangan juga abai sih dengan adagium \u201chasil tidak akan mengkhianati usaha\u201d. Terlebih lagi nih fenomena tikung-menikung ini memang sedang tren di tahun 2020. Lihat saja Raisa-Hamish dan Dinda Hauw-Rey Mbayang itu\u2013yang menanam siapa, eh yang panen siapa?<\/span><\/p>\n<h4><b>Akhir kata<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuk, kita sudahi perang sipil tidak berkeputusan ini. Hal-hal begini bisa jadi cuma trik marketing dari tim produksi supaya kita kegocek<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dan bikin dramanya jadi trending. Ketika kita saling pakai otot, mereka-mereka itu mungkin sedang haha-hihi karena strategi jualannya moncer.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/www.netflix.com\/id\/title\/81290293\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Netflix<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berkumpullah-para-second-lead-syndrome-han-ji-pyeong-di-drama-start-up\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Berkumpullah Para Second Lead Syndrome Han Ji Pyeong di Drama \u2018Start-Up\u2019<\/a><\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya mengapresiasi penulis Park Hye-ryun yang berani keluar dari konsep mainstream pemeran utama pria drakor. Karakter Nam Do-san bertumbuh.<\/p>\n","protected":false},"author":1149,"featured_media":89085,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1293,3854],"class_list":["post-88989","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-drama-korea","tag-rekomendasi-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88989","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1149"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88989"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88989\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89085"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88989"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88989"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88989"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}