{"id":88958,"date":"2020-11-17T07:31:10","date_gmt":"2020-11-17T00:31:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88958"},"modified":"2020-11-16T08:27:40","modified_gmt":"2020-11-16T01:27:40","slug":"salah-jika-anggap-semua-kartun-dan-anime-adalah-tontonan-bocah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/salah-jika-anggap-semua-kartun-dan-anime-adalah-tontonan-bocah\/","title":{"rendered":"Salah Jika Anggap Semua Kartun dan Anime Adalah Tontonan Bocah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJiah, udah tua masih nonton kartun, kayak bocah.\u201d Saya sebagai pecinta kartun dan anime sering sekali mendapat cibiran seperti itu. Tanpa mereka tahu seperti apa candunya nonton kartun dan anime. Apalagi jika pikiran lelah dan butuh hiburan tapi nggak bisa jalan-jalan. Nonton kartun dan anime bisa jadi solusi yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dipikir-pikir lagi, justru banyak sekali kartun yang nggak cocok buat jadi tontonan anak-anak, apalagi anime. Salah satu channel televisi favorit saya adalah Cartoon Network. Sesuai dengan namanya, Cartoon Network memang hanya berisi acara-acara kartun, diantaranya Adventure Time, Regular Show, Gumball, Paman Kakek, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari semua kartun yang saya tonton di Cartoon Network, nggak ada satu pun yang bisa disebut cocok untuk tontonan bocah atau anak-anak. Tema yang diangkat adalah tema-tema dewasa. Tema dewasa di sini bukan tema porno, melainkan tema kehidupan orang dewasa sehari-hari. Lawakannya juga lawakan yang hanya bisa dimengerti orang dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, Gumball. Bagi saya, Gumball itu lucu sekali dengan lawakan satire dan ironi kehidupan orang dewasa meskipun tokohnya anak-anak. Saya yakin bocah nggak bakal suka. Kalau suka mungkin dia sudah dewasa sebelum waktunya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Adventure Time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, secara grafik memang biasa saja dan cenderung ngasal. Namun, secara cerita, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Adventure Time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti kartun filsafat. Banyak episode yang menjebak penontonnya untuk berpikir lebih jauh untuk menemukan maksud dari ceritanya. Anak kecil yang cara berpikirnya masih sederhana pasti kesulitan dan akhirnya tidak suka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bergeser dari kartun, kita menuju anime. Seperti yang banyak diketahui, anime adalah kartun khas dari Jepang. Di anime saya juga tidak menemukan anime yang benar-benar cocok jadi tontonan anak kecil. Mungkin hanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Doraemon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan karya Fujiko F. Fujio yang lain. Untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece, Naruto, Hunter X Hunter<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan anime action lainnya, saya kira tidak cocok jika dijadikan tontonan anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam anime-anime tersebut terdapat banyak adegan kekerasan dan biasanya ada beberapa tokoh wanita yang menampilkan belahan dada atau digambar berpakaian sangat seksi. Contohnya Nami dan Robin di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> serta Tsunade di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Naruto<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Yang paling parah, sih, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crayon Shinchan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sejak dulu kita selalu menyangka Sinchan adalah tontonan untuk anak kecil karena ditayangkan di televisi setiap Minggu pagi. Padahal dalam adegannya Sinchan selaku tokoh utama tak jarang bersikap genit dan cabul meskipun masih bocah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dulu bingung kenapa di komik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crayon Shinchan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tertera sebuah label bertuliskan 18+. Label itu menunjukkan bahwa bacaan ini hanya cocok dibaca oleh orang yang berusia 18 tahun ke atas. Saya nggak tahu apa penyebabnya label itu ditempelkan pada komik yang saya kira bacaan anak kecil. Ternyata, hal itu merujuk pada beberapa adegan Sinchan yang mesum atau bertema cinta. Tapi, pihak stasiun televisi dengan santai menayangkannya setiap Minggu pagi di mana anak-anak banyak fokus pada layar kaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sebuah kesalahan jika menganggap semua kartun dan semua anime adalah tontonan anak kecil. Justru beberapa kartun dan anime yang saya sebut di atas tak cocok jadi tontonan bocah. Ada beberapa opsi jika kita punya anak kecil, atau saudara yang masih kecil dan ingin mempertontonkan kartun atau anime yang ramah anak.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kartun-kartun di Channel Disney Junior bisa menjadi pilihan. Semua kartun di channel itu memang dibuat untuk tontonan anak kecil. Contohnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sofia The First<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (btw, saya juga suka nonton Sofia).<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Doraemon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga bisa menjadi pilihan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari tontonan ini. Salah satunya adalah kesialan Nobita yang terjadi karena selalu mengandalkan alat-alat milik Doraemon tanpa mau berusaha dengan kekuatannya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kartun dari negara tetangga sebelah seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin &amp; Ipin. Upin &amp; Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dibilang kartun yang sangat ramah anak. Apalagi latar belakang budaya yang ditampilkan juga banyak yang mirip dengan di Indonesia, seperti main layangan, main kelereng, atau mengaji di surau. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin &amp; Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga mengajarkan toleransi.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Keempat<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, jika ingin tontonan kartun ramah anak dan islami, kartun buatan dalam negeri seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nusa Rara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Riko The Series<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat direkomendasikan. Tema dengan kehidupan sehari-hari dan juga pelajaran agama Islam yang diceritakan secara menyenangkan pasti membuat anak atau saudara kita suka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, tidak masalah sudah tua nonton kartun dan anime, yang jadi masalah adalah ketika yang kita anggap tontonan bocah ternyata malah tontonan orang dewasa.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-nggak-pernah-bosan-sama-upin-ipin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alasan Saya Nggak Pernah Bosan sama Upin Ipin<\/a>\u00a0dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/sigit-candra-lesmana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sigit Candra Lesmana<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari semua kartun yang saya tonton di Cartoon Network, nggak ada satu pun yang bisa disebut cocok untuk tontonan bocah atau anak-anak.<\/p>\n","protected":false},"author":1001,"featured_media":89027,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2775,1212],"class_list":["post-88958","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anime","tag-kartun"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88958","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1001"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88958"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88958\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89027"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88958"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88958"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88958"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}