{"id":88957,"date":"2020-11-17T07:34:30","date_gmt":"2020-11-17T00:34:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88957"},"modified":"2020-11-16T23:15:31","modified_gmt":"2020-11-16T16:15:31","slug":"panduan-memahami-istilah-istilah-main-gaple-orang-sunda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-memahami-istilah-istilah-main-gaple-orang-sunda\/","title":{"rendered":"Panduan Memahami Istilah-istilah Main Gaple Orang Sunda"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah dua Minggu ini teman saya, Mas Dahlan yang berasal dari Purwokerto ikut main gaple di pos ronda sambil begadang. Ia bilang, rasanya gatal bila diam di rumah semalaman tapi tidak ngapa-ngapain. Sekaligus, ia ikut main gaple untuk beradaptasi dengan warga sekitar. Sebab, ia baru pindah kontrakan dari Kecamatan Kadungora ke tempat tinggal saya, Desa Haruman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat Mas Dahlan bermain gaple, ia kebingungan oleh istilah-istilah main gaple yang sering kali diucapkan oleh dua teman saya lainnya. Mulai dari istilah kartu toronton, sapat, nenggar cadas, dan lain-lain. Mendengar istilah-istilah itu, Mas Dahlan sering protes pakai bahasa Jawa ngapak, \u201cNgomong opo to kowe iki?\u201d Tentu saja, kami menertawakan gaya bicaranya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, sebenarnya agak sulit untuk mengartikan istilah-istilah main gaple orang Sunda ke dalam bahasa Indonesia. Terlebih, ketika saya nyari referensi di Google, belum ada artikel yang membahasnya. Namun, setelah saya berkontemplasi seharian, akhirnya saya berani mencoba untuk mengartikannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, istilah-istilah di bawah ini, saya pikir bakal berguna bagi teman-teman yang nantinya merantau ke tanah Sunda, lalu tiba-tiba pengin ikutan main gaple.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Kartu toronton<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kartu gaple terdiri dari 28 kartu. Setiap kartu terdapat dua sisi angka dari 0-6. Dalam permainan gaple, terdiri dari empat orang pemain. Setiap satu pemain diberi tujuh kartu. Di kartu gaple, ada yang namanya balak alias satu kartu yang mempunyai angka kembar di dua sisi. Contohnya, kartu 1-1 disebut balak satu, kartu 2-2 disebut balak dua dan seterusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kartu 6-6 alias balak enam, orang Sunda menyebutnya sebagai kartu toronton. Asal-usul disebut kartu toronton karena balak enam itu kartu yang angkanya paling besar, seperti betapa besarnya mobil tronton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau misalnya kalian lagi main gaple bareng kami, lalu mendengar kalimat, \u201cHalig euy toronton di saha, euy?\u201d (Awas euy balak enam dari siapa, euy?) maka siap-siap saja kartu toronton itu bakal digencet sampai dipaehan (dimatiin).<\/span><\/p>\n<h4>#2 Cusss!<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memahami istilah \u201ccusss!\u201d saya akan mengawalinya begini. Kan, di awal main gaple itu kartu 1-1 dikeluarkan dulu, terus misalnya pemain kedua melemparkan kartu 1-3, dilanjutkan lagi oleh pemain ketiga dengan melemparkan kartu 3-2, sehingga kartu yang tersusun menjadi 1-1-1-3-3-2. Nah, kalau kartu kita tidak punya angka 1 dan 2 untuk melanjutkan susunan berikutnya maka bilang aja \u201ccusss!&#8221; Atau, untuk mempermudahnya, bilang aja \u201cLewaaat!&#8221;<\/span><\/p>\n<h4>#3 Buntutan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waini, istilah yang bikin Mas Dahlan geleng-geleng kepala. Istilah \u201cbuntutan\u201d biasanya kami ucapkan sebelum terjadi \u201cgapleh\u201d yang berarti sebelum diadakan perhitungan atau sebelum permainan selesai. Kami sering kali mengatakan, \u201cSok eta buntutan!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah \u201cbuntutan\u201d ini digunakan agar permainan terjadi gapleh. Sehingga, kartu-kartu yang dilemparkan harus membentuk kode agar cepat terjadi gapleh. Kalau pemain kelamaan mikir padahal salah satu pemain sudah bilang, \u201cBuntutan euy!\u201d siap-siap aja mendengar kata \u201cLilaa\u201d alias lama.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Malitek<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali ikut main gaple, Mas Dahlan kaget saat saya mengatakan, \u201cAjig malitek\u201d. Istilah \u201cmalitek\u201d biasanya digunakan ketika kartu yang kita miliki udah optimis bisa menyelesaikan permainan dengan cepat, tapi malah salah perhitungan. Pemain lain bakal bilang, \u201cAwas malitek, euy\u201d hal ini dikarenakan terlalu asyik bisa melewati teman sebelah. Sehingga, ujung-ujungnya nepok jidat. Bahkan, kadang-kadang gara-gara istilah \u201cmalitek\u201d ini kita sendiri yang nantinya dilewati.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Nenggar Cadas!<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah yang paling menakutkan ketika main gaple adalah \u201cnenggar cadas!\u201d Gambarannya begini, kalau permainan terjadi gapleh, otomatis semua pemain menghitung kartunya masing-masing. Ketika dihitung, ternyata pemain yang menggaplehkan itu angkanya paling besar. Maka, siap-siap saja ditertawakan oleh tiga pemain lain. Bagaimana tidak ditertawakan, dia yang menyudahi permainan, tapi dia yang kalah. Goblok banget.<\/span><\/p>\n<h4>#6 Sapat!<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau tidak terjadi gapleh, maka istilah \u201csapat!\u201d ini bakal kalian dengar. Istilah \u201csapat!\u201d diucapkan oleh pemain yang kartunya habis lebih dulu. Sehingga, kalau terjadi \u201csapat!\u201d maka otomatis diadakan lah perhitungan kartu. Yang kartunya dihitung, hanya tiga pemain saja. Perhitungannya, dari tiga pemain itu ketika kartunya ditotalkan memperoleh angka tinggi, maka dia yang kalah. Dan siap-siap saja mengocok kartu di permainan selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pemain yang sudah \u201csapat!\u201d maka di permainan selanjutnya akan mengeluarkan kartu lebih dulu. Biasanya kartu yang dikeluarkan kartu balak. Paling balak lima dulu kalau kebetulan mempunyai balak lima.<\/span><\/p>\n<h4>#7 Balikan deui<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah \u201cbalikan deui\u201d yang berarti ulangi lagi diucapkan ketika kartu yang kita terima balaknya ada lima kartu. Langsung saja melakukan pengocokan ulang.<\/span><\/p>\n<h4>#8 Kolotan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah \u201ckolotan\u201d hampir sama dengan istilah \u201cbuntutan\u201d. Tujuannya untuk mempercepat terjadi gapleh. Ketika orang Sunda bilang, \u201cSok eta kartuna kolotan\u201d kita harus peka menghitung angka mana yang harus digaplehkan.<\/span><\/p>\n<h4>#9 Ngoraan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah \u201cngoraan\u201d ini kebalikannya dari istilah \u201ckolotan\u201d. Tujuannya untuk memperlambat terjadi gapleh. Biasanya pemain yang ngomong \u201cngoraan euy\u201d adalah pemain cupu. Takut kalah diaaa~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah istilah-istilah main gaple orang Sunda. Hati-hati, NENGGAR CADAS!1!1!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/permainan-kartu-uno-yang-seharusnya-menjadi-dasar-dalam-latihan-sepak-bola\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Permainan Kartu Uno yang Seharusnya Menjadi Dasar dalam Latihan Sepak Bola<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Istilah-istilah ini saya pikir bakal berguna bagi teman-teman yang nantinya merantau ke tanah Sunda, lalu tiba-tiba pengin ikutan main gaple.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":89164,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9532,1152],"class_list":["post-88957","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gaple","tag-sunda"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88957","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88957"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88957\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89164"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}