{"id":88948,"date":"2020-11-16T13:19:22","date_gmt":"2020-11-16T06:19:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88948"},"modified":"2020-11-16T13:28:01","modified_gmt":"2020-11-16T06:28:01","slug":"mendoan-daerah-mana-sih-yang-paling-enak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mendoan-daerah-mana-sih-yang-paling-enak\/","title":{"rendered":"Mendoan Daerah Mana sih yang Paling Enak?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah kita tahu, mendoan merupakan makanan khas daerah Banyumas. Makanan yang terbuat dari bahan dasar kedelai yang difermentasi lalu dibungkus dengan daun pisang atau ada juga yang dengan daun jati ini sudah seperti saudara kandung penutur bahasa Ngapak pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sulit untuk menemukan mendoan di daerah-daerah eks karesidenan Banyumas. Makanan ini seperti punya lapak sendiri di daerah-daerah tersebut, ya, selain di rumah makan pinggir jalan pada umumnya. Bahkan, saya yang pernah mengenyam pendidikan di daerah Jawa Timur pun bisa menemukan mendoan di daerah tersebut. Yaaa, meski perbedaan yang ada bisa disebut terlalu \u201ckasar\u201d dengan yang ada di Banyumas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada umumnya, masyarakat penikmat mendoan atau yang kerap kali saya sebut sebagai, \u201cmendoaners\u201d menikmati makanan ini di sore hari dengan berbagai macam hidangan pendamping. Saya sebagai warga Banyumas biasa menghidangkan mendoan dengan seduhan kopi tubruk dan juga sambal terasi. Namun, ada juga masyarakat di daerah tertentu seperti Baturaden yang dalam menghidangkan mendoan dengan sambal kecap. Hal itu sedikit aneh untuk saya yang biasa menghidangkannya dengan sambal biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, sesuai judulnya, saya mencoba membandingkan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">mendoan yang ada di masing-masing daerah eks karesidenan Banyumas dan sekitarnya. Secara keseluruhan, rasa mendoan di masing-masing daerah sama saja. Perbedaan yang paling kentara yang pernah saya temukan yaitu ada pada bentuknya. Di daerah saya sendiri yaitu Banyumas, mendoan berbentuk persegi, meskipun sisi-sisinya tidak sama persis tapi overall<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">bentuknya seperti persegi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lain dengan yang ada di daerah Banyumas, kita bergeser ke selatan yaitu Cilacap dan Kebumen, daerah yang memiliki pantai-pantai indah dan juga banyak sisi sejarah yang ada. Selama berwisata di pantai-pantai yang ada di daerah tersebut, saya cukup sering memesan hidangan berupa mendoan untuk menemani liburan saya. Kesan pertama yang ada di benak saya yaitu mengenai ukuranya yang bisa dibilang dua kali lipat lebih besar dari apa yang biasa saya temukan di Banyumas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu pasti mengapa ukuran di sana lebih besar, namun dugaan saya hal itu dikarenakan mindset<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">orang Cilacap dan Kebumen yang beranggapan \u201clebih besar lebih baik\u201d. Hehehe, maklum, untuk ukuran nelayan porsi mendoan Banyumas terlalu kecil dan tidak menghasilkan energi yang besar untuk melawan ombak di laut sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lanjut ke daerah barat-utara dari Gunung Slamet, yap betul sekali, Tegal dan Brebes. Di daerah tersebut, bentuk mendoan cenderung persegi panjang. Saya memang belum pernah merasakan mendoan di daerah Tegal, namun saya melakukan riset dengan menanyakan seperti apa sih<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">mendoan di daerah tersebut kepada teman saya, kata dia, \u201cBentuknya persegi, namun cenderung memanjang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk daerah Purbalingga dan Banjarnegara tampilan makanan ini tidak jauh berbeda malah cenderung sama dengan apa yang ada di Banyumas, dengan bentuk persegi tentunya. Sebenarnya kesamaan di daerah Purbalingga bukan hanya pada mendoan, dalam hal bahasa pun kita memiliki kesamaan aksen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah memaparkan perbandingan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">di atas, sekarang saatnya untuk memilih mana sih<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang paling yahud<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">untuk dinikmati. Pertama mengenai bentuk, jelas daerah Cilacap dan Kebumen jagonya, namun dengan bentuk yang lebih besar berdampak kepada harga yang lebih mahal pula. Biasanya di daerah wisata dengan uang Rp5.000,00 bisa mendapatkan tiga lembar mendoan. Hal ini tentu berbeda dengan yang ada di Banyumas yang harga per lembarnya Rp1.000,00.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, kita bicara soal kuantitas. Dengan harga yang sudah tertera di atas maka mendoan Banyumas lah juaranya. Kualitas pastilah tergantung masing-masing pembeli mau menilai bagaimana rasanya dengan harga tersebut. Menurut saya sih<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sama saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, berpandangan bahwa ukuran yang lebih besar dengan harga sama saja tentunya mendoan daerah Brebes dan Tegal pemenangnya. Di sana dengan bentuknya yang persegi panjang dan dengan harga yang masih sama-sama Rp1.000,00 per lembarnya merupakan suatu keuntungan tersendiri untuk para pembeli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tiba pada kesimpulan mengenai mendoan mana sih<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang lebih worth<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">untuk dinikmati di kala medang<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sore hari atau pagi hari. Kalau menurut saya pribadi pemenangnya adalah mendoan Banyumas, alasanya karena harganya pas dan porsinya tidak kemaruk<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">atau berlebihan. Tentu tidak salah jika pembaca memilih mana yang paling enak karena pendapat pribadi tentunya benar setidaknya untuk diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><em>Foto oleh Hersy Ardianty via <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Mendoan.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-jadikan-ritual-minta-bunga-sebagai-kebiasaan-sepulang-bertamu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jangan Jadikan Ritual Minta Bunga sebagai Kebiasaan Sepulang Bertamu<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sesuai judulnya, saya mencoba membandingkan mendoan yang ada di masing-masing daerah eks karesidenan Banyumas dan sekitarnya.<\/p>\n","protected":false},"author":1147,"featured_media":89090,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2858,1407,9524],"class_list":["post-88948","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-banyumas","tag-gorengan","tag-mendoan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1147"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88948"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88948\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/89090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}