{"id":8881,"date":"2019-09-06T10:45:28","date_gmt":"2019-09-06T03:45:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=8881"},"modified":"2019-09-06T12:24:25","modified_gmt":"2019-09-06T05:24:25","slug":"efek-laten-aplikasi-whatsapp-sedikit-sedikit-dibuatkan-grup-chat-lama-lama-jadi-menumpuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/efek-laten-aplikasi-whatsapp-sedikit-sedikit-dibuatkan-grup-chat-lama-lama-jadi-menumpuk\/","title":{"rendered":"Efek Laten Aplikasi Whatsapp: Sedikit-Sedikit Dibuatkan Grup Chat, Lama-Lama Jadi Menumpuk"},"content":{"rendered":"<p>Kali pertama saya mengenal juga memakai suatu aplikasi <em>chat<\/em> adalah ketika SD, kala itu saya harus pergi ke warnet dan membuka mIRC. Berkenalan dengan orang baru, bahkan untuk sekadar iseng saya juga <em>chat<\/em> teman di sebelah saya. Saat itu rasanya menyenangkan walau terkesan nggak ada guna, sebelahan kok <em>chatting<\/em>-an. Ngobrol, lah!<\/p>\n<p>Satu kalimat pamungkas pun pasti dikenal oleh para pengguna <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mengenang-friendster-dan-media-sosial-jadul-yang-lain-csMe\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">mIRC<\/a>, seperti \u201cASL PLS\u201d. Mengutip dari <em>Kompas.com<\/em>, ASL PLS sendiri kependekan dari <em>Age<\/em> (umur), <em>Sex<\/em> (jenis kelamin), <em>Location<\/em> (lokasi). PLS sendiri berarti <em>please<\/em>. Ya, hal ini menjadi kenangan tersendiri bagi para pengguna mIRC. Jadi, mohon untuk kalian yang masih menganggap ASL itu singkatan dari \u201casal\u2014dari mana\u201d, belum terlambat untuk berkata, \u201cooooooh gitu.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian, aplikasi <em>chat<\/em> pada prosesnya secara perlahan berpindah dari PC ke dalam satu genggaman\u2014<em>handphone<\/em>, lebih tepatnya lagi telepon pintar. Beberapa diantara kalian mungkin familiar atau sudah mencoba MXit dan Bing. Saya sudah pernah menggunakan kedua aplikasi itu sewaktu SMA, walau akhirnya saya hapus kembali aplikasinya karena teman-teman masih lebih banyak yang menggunakan SMS dalam bertukar kabar dan informasi.<\/p>\n<p>Kemudian saat saya kuliah, seperti pelepas dahaga bagi para mahasiswa dan orang-orang yang gemar berjulid ria tapi dengan tarif yang lebih murah bermodalkan kuota\u2014maksud saya mengobrol\u2014aplikasi <em>chat<\/em> BlackBerry Messenger hadir disusul dengan kehadiran WhatsApp. Dengan adanya fitur pembuatan grup <em>chat<\/em>, kedua aplikasi ini semakin menarik dan digunakan oleh banyak orang. Meski pada akhirnya, BBM menyerah dan tidak digunakan kembali.<\/p>\n<p>Kini, WhatsApp menjadi aplikasi <em>chat<\/em> yang banyak digunakan di Indonesia. Seperti dilansir oleh <em>We Are Social,<\/em> pada Januari 2019 sebanyak 83% orang di Indonesia menggunakan aplikasi <em>chat<\/em> ini\u2014saya dan banyak teman yang lain menjadi d iantaranya. Meski ada saran dari beberapa teman untuk pindah ke Telegram agar dapat mengantisipasi jika jaringannya dibatasi pada beberapa waktu lalu, saya sih tetap memilih setia dengan WhatsApp. Kalau pun jaringannya dibatasi, ya SMS atau telepon kan bisa.<\/p>\n<p>Sampai pada poin tersebut, tentu saya tidak ada masalah sama sekali. Yang menyebalkan dalam penggunaan WhatsApp ini adalah banyaknya grup <em>chat<\/em> yang dengan mudahnya dibuat. Sedikit-sedikit dibuat grup <em>chat<\/em>, bertemu teman baru buat grup <em>chat<\/em>, di pekerjaan setiap ada sesuatu yang baru dibuat grup <em>chat<\/em> yang baru pula tanpa menghapus grup <em>chat<\/em> yang lama.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, buat apa dong grup <em>chat<\/em> di WhatsApp sebanyak itu, Bambang? Apalagi isi anggotanya sama saja. Paling cuma tidak ada satu atau dua orang. Itu pun biasanya karena beda atasan\u2014atau jika masih kuliah, dosen pembimbing untuk tugas akhir. Yang biasa ditemui adalah, para mahasiswa atau karyawan membuat grup <em>chat<\/em> yang baru tanpa dosen atau atasannya agar dapat julid dan bergosip ria. Betul?<\/p>\n<p>Saya cukup yakin tidak sendirian di posisi ini, di mana ketika buka WhatsApp yang banyak ditemui adalah grup\u2014dari atas hingga paling bawah. Dari yang paling <em>update<\/em>, sampai dengan saat ini ada 18 <em>chat<\/em> grup di akun WhatsApp saya dan lima diantaranya selalu sepi, tidak ada pergerakan. Mau keluar dari grup tapi ada rasa nggak enak. Sekalinya sudah keluar, eh, di-<em>invite<\/em> kembali. Kan, nyebelin.<\/p>\n<p>Lebih menyebalkan lagi kalau di satu grup itu ramai sekali yang sedang diperbincangkan. Mohon maaf, nih, semua grup itu saya <em>silent<\/em> dan dimatikan notifikasinya\u2014mau grup keluarga, teman, atau grup kerja. Jadi, tiap buka Whatsapp tidak heran jika sudah banyak chat yang menumpuk. <em>Hehe<\/em>. Jika ada yang penting, kan bisa telepon atau chat personal. Kalau mau di grup, ya tinggal mention saja dengan menggunakan awalan \u201c@\u201d.<\/p>\n<p><em>By the way<\/em>, setelah saya telusuri secara personal, dalam grup WhatsApp itu ada tiga jenis pengguna. Ini di luar dari mereka yang suka <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghargai-kepedulian-orangtua-melalui-pesan-whatsapp-yang-selalu-di-forward-agar-anak-selalu-waspada\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">asal <em>forward<\/em><\/a> yang kebenarannya belum bisa dipastikan, ya.<\/p>\n<p><strong>Pertama<\/strong>, mereka yang selalu aktif <em>chatting<\/em> di grup memberi info, menanyakan kabar, laporan dan lain sebagainya. <strong>Kedua<\/strong>, mereka yang hanya akan merespon sewaktu ditanya\u2014menjawab seperlunya. <strong>Ketiga<\/strong>, para pengguna atau sosok yang pasif dan hanya melihat situasi juga kondisi di grup WhatsApp, dengan cara tap grup jika ada notifikasi, lalu tanpa membaca apa yang sedang dibahas langsung kembali lagi ke menu <em>home\u00a0<\/em>pada <em>handphone<\/em>.<\/p>\n<p>Agar terkesan interaktif dan seperti media lain, izinkan saya untuk mengakhiri tulisan ini dengan bertanya, \u201cdi antara ketiga jenis pengguna WhatsApp yang ada di suatu grup <em>chat<\/em>, kalian tipe yang mana?\u201d\u00a0(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cara-menangani-sohibul-whatsapp-yang-suka-beralasan-pesan-tertimbun-padahal-memang-sengaja-mengabaikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Cara Menangani Sohibul WhatsApp yang Suka Beralasan Pesan Tertimbun Padahal Memang Sengaja Mengabaikan<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/setowicaksono\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Seto Wicaksono<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanyaannya, buat apa dong grup chat di WhatsApp sebanyak itu, Bambang? Apalagi isi anggotanya sama saja. Paling cuma tidak ada satu atau dua orang.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":12482,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3155,3154,831,2377,3153,599],"class_list":["post-8881","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-aplikasi","tag-asl-pls","tag-chat","tag-grup-chat","tag-mirc","tag-nostalgia"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8881","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8881"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8881\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12482"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8881"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8881"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8881"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}