{"id":88423,"date":"2020-11-13T07:05:16","date_gmt":"2020-11-13T00:05:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88423"},"modified":"2020-11-12T14:19:25","modified_gmt":"2020-11-12T07:19:25","slug":"3-celetukan-bahasa-sunda-yang-paling-menjengkelkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-celetukan-bahasa-sunda-yang-paling-menjengkelkan\/","title":{"rendered":"3 Celetukan Bahasa Sunda yang Paling Menjengkelkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan besar di Garut, kota yang kebanyakan orang-orangnya kalau berbicara bahasa Sunda memiliki tingkatan sendiri. Ada tingkatan untuk berbicara dengan orang yang seumuran atau sudah akrab. Ada juga tingkatan untuk berbicara kepada orang tua atau orang yang kami hormati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini disebabkan karena Garut berada di daerah yang punya ciri khas dialek Priangan yang patuh pada undak-usuk bahasa Sunda (loma, lemes dan kasar). Selain kota Garut, Bandung, dan Tasikmalaya, kota-kota yang berada di daerah Priangan sering menggunakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal di Garut, telinga saya nyaman banget kalau ngobrol dengan sesama orang Garut memakai bahasa Sunda lemes. Sebab bagi saya, bahasa kasar kurang patut diucapkan, ada kesan tidak sopan jika menggunakan tingkatan bahasa ini. Maka dari itu, dulu, saya yang terbiasa menggunakan bahasa lemes kadang suka agak risih ketika mendengar kata \u201caing\u201d diucapkan oleh siapapun itu, apalagi oleh orang luar Jawa Barat yang so asyik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada sok asyik bilang aing-aingan gitu, alangkah baiknya sok asyik mengatakan, \u201cKumaha damang?\u201d duh terdengar sopan. Soalnya, orang Sunda suka sensitif kalau mendengar bahasa kasar, tapi tidak sesuai pada tempatnya. Kecuali, kalau ngobrol sama orang Banten, di sana mah udah biasa aing-aingan karena mereka tidak punya tingkakan bahasa. Bagi orang Banten, aing-aingan itu udah standar mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, semakin ke sini kota-kota yang berada di daerah Priangan bahasanya sudah campur aduk. Bahkan, bahasa standar Banten yang aing-aingan itu sudah sering kami pakai. Apalagi, celetukan-celetukan bahasa Sunda kasar saat ini dalam percakapan sehari-hari kerap kami gunakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai anak kelahiran 90-an, saya pernah mendengar celetukan-celetukan bahasa Sunda yang sempat populer pada masanya. Ada tiga jenis celetukan: teu apal, enya welah, dan kuma dinya. Tiga jenis celetukan ini, bukan hanya bikin jengkel saya seorang. Tapi, hampir semua orang Sunda yang berada di daerah Priangan dibikin jengkel setengah mampus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomong-ngomong, saya sudah riset tiga celetukan ini kepada teman-teman yang berada di Garut. Jawaban mereka, \u201cHeeh ih setuju, komo celetukan kuma dinya!\u201d yang berarti, \u201cIya ih setuju, apalagi celetukan terserah kamu!\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>#1<\/b> <b>Teu Apal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teu apal adalah frasa dalam bahasa Sunda yang berarti \u201ctidak tahu\u201d. Banyak digunakan untuk menjawab ketidaktahuan akan sesuatu. Misalnya lagi ngobrol-ngobrol terus saya nanya ke temen, \u201cJadwal Persib iraha, euy? (Jadwal Persib kapan, euy?) temen saya kemudian menjawab, \u201cTeu apal.\u201d Di sini, terlihat tidak ada masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah ketika frasa \u201cteu apal\u201d ini menjadi semacam celetukan. Sebagaimana kata \u201cceletuk\u201d di KBBI yang berarti berujar secara spontan, menyela, maka jenis celetukan teu apal ini sangat menjengkelkan ketika digunakan pas lagi nongkrong-nongkrong, nggak lagi ngobrol, nggak lagi ngapa-ngapain, fokus main hape, otomatis hening dong, terus tiba-tiba ada temen datang dan nyeletuk, \u201cTeu apal!\u201d padahal nggak nanya apa-apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menjengkelkan lagi kalau jenis celetukan teu apal ini diucapkan secara singkat menjadi, \u201ctapal\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadwal Persib iraha, euy?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapal.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling jengkel pisan kalau huruf L-nya diucapkan sambil menjulurkan lidah sehingga menjadi, \u201cTapallll\u201d. Dan, diucapkan secara cepat, lalu diulang-ulang sehingga terkesan mengejek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadwal Persib iraha, euy?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapallll! Tapallll! Tapallll!!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu celetukan ini menjengkelkan sebab si penanya bertanya sopan. Terlebih, kan ada bahasa lemesnya dari ucapan teu apal ini yakni \u201cteu terang\u201d dan \u201cduka\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadwal persib iraha, euy?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTeu terang\/duka\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis celetukan ini populer pada 2011-2012 saat saya masih SMP. Saat ini, kami sepakat celetukan \u201cteu apal\u201d jika digunakan sekarang sudah basi.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Enya welah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cenya\u201d artinya \u201ciya\u201d. Sedangkan \u201cwelah\u201d hanya kata tambahan. Biasanya \u201cenya welah\u201d digunakan untuk mempercepat jawaban ketika ada seseorang menjelaskan sesuatu. Contohnya, pasangan yang lagi berantem. Si laki-lakinya menjelaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaur aa, saena mah teteh teh teu kenging ameng wae, kan atos dewasa.\u201d (Menurut aa, bagusnya mah teteh itu jangan main terus, kan udah dewasa).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEnya welah\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, enya welah ini sering kali diucapkan sambil mengekspresikan wajah hoream alias males mendengarkan penjelasan tersebut. Menjengkelkannya, sama seperti celetukan \u201cteu apal\u201d, huruf L-nya ditebelin juga sehingga menjadi, \u201cEnya welllllah!\u201d ditambah lagi kalau bilang seperti itu suka sembari memutarkan bola mata dan menggelengkan kepala dengan cepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling menjengkelkan syekali ketika \u201cenya welah\u201d dilengkapi dengan kalimat, \u201cMeh tereh\u201d. Sehingga menjadi, \u201cEnya welah meh tereh\u201d (Iya lah biar cepet). Beberapa pasangan yang suka menggunakan kalimat \u201cenya welah meh tereh\u201d hubungannya jadi semakin rumit karena pacarnya tidak mau dinasihati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celetukan ini populer setelah \u201cteu apal\u201d menghilang dari keseharian orang Sunda pada sekitar 2014-2015.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Kuma dinya<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waini. Jenis celetukan terjengkel, setidaknya bagi saya pribadi. \u201cKuma dinya\u201d artinya terserah kamu. Masalahnya, orang Sunda kalau sudah bilang \u201ckuma dinya\u201d, entah dengan nada halus atau ngegas, pasti menanggapinya jadi males pokoknya. Bisa-bisa berantem kalau nyeletuk kuma dinya pake capslock, \u201cKUMA DINYA!\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya kuma dinya digunakan secara fleksibel. Misal, nasihatin pacar yang lagi marah-marah, pasti jawabannya kuma dinya. Debat sama seseorang, lalu tidak menemukan titik pencerahan, ujung-ujungnya kuma dinya. Orang tua sudah capek melihat tingkah laku anaknya, kuma dinya oge.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jenis celetukan ini paling menjengkelkan lagi kalau dilengkapi dengan kata tambahan \u201cwe\u201d dan yang mengucapkannya bersuara melengking sehingga menjadi, \u201cKuma dinya weee!\u201d Ah jadi kesel sendiri. Tampaknya, celetukan ini masih dipakai saat ini. Tapi, hanya di media sosial para Sundanese.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekian, itulah tiga jenis celetukan bahasa Sunda yang sempat populer dan menjengkelkan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-tradisi-adu-domba-tradisi-khas-masyarakat-kota-garut\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mengenal Tradisi Adu Domba, Tradisi Khas Masyarakat Kota Garut<\/a>\u00a0dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski populer, tiga jenis celetukan bahasa Sunda ini, bukan hanya bikin jengkel saya seorang. Tapi, hampir semua orang Sunda daerah Priangan.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":83262,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6512,762],"class_list":["post-88423","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-sunda","tag-budaya"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88423","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88423"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88423\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88423"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88423"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88423"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}