{"id":88345,"date":"2020-11-14T07:35:20","date_gmt":"2020-11-14T00:35:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88345"},"modified":"2020-11-12T20:56:00","modified_gmt":"2020-11-12T13:56:00","slug":"6-celetukan-yang-sering-keluar-saat-nonton-film-horor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-celetukan-yang-sering-keluar-saat-nonton-film-horor\/","title":{"rendered":"6 Celetukan yang Sering Keluar Saat Nonton Film Horor"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian banyak genre film, saya tidak terlalu suka film horor. Ketidaksukaan saya terhadap film jenis ini bukan karena saya penakut. Bagi saya, kalau ada film yang bisa membuat kita tersenyum, menangis, dan berdebar karena bahagia, kenapa harus pilih film yang bikin susah tidur? Namun, meskipun tidak suka, bukan berarti saya anti. Saya tetap &#8220;hayuk aja&#8221; kalau diajak nonton film horor. Apalagi kalau, ehm, gratisan. Toh, banyak juga kok film horor yang jalan ceritanya bagus. Yang pasti judulnya bukan nenek gayung, pocong ngengsot, dan sejenisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan pengalaman saya, setidaknya ada 6 celetukan yang sering keluar saat seseorang nonton film horor.<\/span><\/p>\n<h4>#1 \u201cHantunya mana?\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat bertemu dengan film horor yang alurnya yang lambat, dialog-dialognya panjang dan membosankan, serta adegan-adegan yang kita rasa nggak penting, sering sekali celetukan &#8220;hantunya mana&#8221; keluar dari mulut kita. Gimana, ya? Film horor itu kan identiknya dengan hantu-hantuan. Jadi, wajar sih kalau kita bertanya-tanya hantunya mana. Meski sebetulnya, horor itu tak melulu hantu. Tiba-tiba di-chat pacar, &#8220;Aku mau ngomong sesuatu,&#8221; juga termasuk horor.<\/span><\/p>\n<h4>#2 \u201cNgapain balik lagi, sih?!\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun judulnya berbeda, tak jarang kita temui kemiripan dalam film horor. Misalnya saja adegan ketika tokoh utama harus balik lagi ke tempat berhantu. Padahal, dia sudah berhasil lolos sebelumnya. Alasan baliknya pun beragam. Ada yang mau menyelamatkan keluarga yang masih di sana, ada yang mau memastikan hantunya sudah pergi, dll. Untunglah sejauh ini rasa-rasanya belum ada yang beralasan balik lagi gara-gara susah move on. Karena susah move on itu kamu. Iya, kamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai penonton, kita sering terbawa suasana ketika tokoh utama, yang notabene sudah selamat itu, memilih balik lagi ke tempat yang berhantu tadi. Maka meluncurlah celetukan ini, \u201cNgapain balik lagi, sih!\u201d<\/span><\/p>\n<h4>#3 \u201cKok, malah dideketin?\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh jujur, yang paling serem dari film horor adalah musik pengiringnya. Betul apa betul? Suara pintu yang berdecit, instrumen yang mencekam, serta musik yang mengagetkan. Keterlaluan emang. Coba kalau musiknya lebih friendly, mungkin film horor tidak akan se-menakutkan itu. Eh, tapi ntar malah jadi kayak drama musikal, dong! Xixixi.\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, ketika ada sound effect tertentu yang nyeremin, tokoh utama akan datang mendekat ke sumber suara. Misal, ketika tengah malam terbangun gara-gara haus trus denger ada suara aneh di gudang. Si tokoh utama ini akan mendekat. Sesuatu yang kemudian membuat penonton reflek nyeletuk, \u201cIhhh\u2026 kok malah dideketin, sih? Pura-pura nggak denger aja, ngapa?!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini berlaku juga untuk penampakan yang terlihat secara sekilas. Sedang asyik nonton TV trus tiba-tiba seperti melihat ada sekelebat bayangan, misalnya. Ehhh\u2026 bukannya pergi dan maen bareng aja, malah dideketin. Padahal ya jawabannya sederhana: kalau tokoh utamanya pergi begitu aja berarti langsung tamat dong filmnya!<\/span><\/p>\n<h4>#4 \u201cNggak ada kerjaan banget, sih!\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celetukan berikutnya yang juga sering kali diucapkan saat menonton film horor adalah, \u201cNggak ada kerjaan banget, sih!\u201d Celetukan ini biasanya keluar saat tokoh utamanya iseng main-main ke kuburan lah, masuk ke rumah kosong lah, atau dengan sengaja memanggil setan. Ya Lord\u2026 Gabut sih gabut. Tapi, nggak gitu juga, kale\u2026 Cari perkara amat nih manusia.<\/span><\/p>\n<h4>#5 \u201cUdah? Gitu doang?\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin kesel dari film horor adalah endingnya yang kadang terasa &#8220;mbuh&#8221;. Gini loh, dari awal, hantunya itu digambarkan seremnya sundul langit. Adegan demi adegan sudah sukses membuat jantung penonton cekot-cekot. Bantal guling juga sudah bolak-balik jadi sasaran ngumpet. Ealah mendekati ending kok hantunya jadi gampang banget dikalahkan. Kan, kampret. \u201cUdah? Gitu doang?\u201d<\/span><\/p>\n<h4>#6 \u201cNggak serem, ah!\u201d<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celetukan terakhir yang sering keluar saat nonton film horor adalah, \u201dNggak serem, ah!\u201d Ini biasanya diucapkan oleh orang yang kecewa dengan jalan cerita yang nggak sesuai dengan ekspektasi. Kirain serem, eh ternyata B aja. Atau, celetukan ini juga biasanya dipakai oleh mereka-mereka yang gengsinya tinggi. Aslinya takut, tapi apa daya, keinginan untuk tidak terlihat lemah mengalahkan segalanya. Contohnya: saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian bagaimana? Lebih sering nyeletuk dengan celetukan nomor 1? 2? Atau malah semuanya? Wow. Kalau kalian termasuk golongan orang yang mengeluarkan 6 celetukan ini saat nonton film horor, fix, kalian ngeselin. Karena orang yang paling ngeselin saat nonton film bareng adalah orang yang sepanjang film nyeletuk terooosss\u2026!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-kampung-saya-tidak-boleh-ada-film-yang-sad-ending\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Di Kampung Saya, Tidak Boleh Ada Film yang Sad Ending<\/strong><\/a> <b><\/b><b>atau artikel\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dyan-arfiana-ayu-puspita\/\"><b>Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jujur, yang paling serem dari film horor adalah musik pengiringnya. Suara pintu yang berdecit, instrumen yang mencekam, dan musik yang mengagetkan.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":88528,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[28,29,890],"class_list":["post-88345","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-film","tag-horor","tag-nonton"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88345","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88345"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88345\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}