{"id":88248,"date":"2020-11-12T07:15:21","date_gmt":"2020-11-12T00:15:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88248"},"modified":"2021-08-13T13:03:49","modified_gmt":"2021-08-13T06:03:49","slug":"sejarah-dan-proses-terbentuknya-anggapan-pemakai-kacamata-itu-pintar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-dan-proses-terbentuknya-anggapan-pemakai-kacamata-itu-pintar\/","title":{"rendered":"Sejarah dan Proses Terbentuknya Anggapan Pemakai Kacamata Itu Pintar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merupakan orang yang menderita mata minus. Kalau dihitung-hitung, sudah hampir delapan tahun tahun saya menderita gangguan mata ini. Tentunya saya otomatis jadi pemakai kacamata untuk membantu penglihatan saya lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama tenggang waktu tersebut, terdapat banyak kejadian nyeleneh dan ngeselin yang pernah saya rasakan. Mulai dari kesulitan mengendarai motor pada saat hujan dan di malam hari, kesulitan melihat karena kacamata berembun ketika sedang memakai masker, terbatasnya jenis olahraga yang bisa dilakukan, dan masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kejadian-kejadian yang membuat kesal, sebenarnya ada juga keuntungan yang diperoleh pemakai kacamata, salah satunya adalah kerap distereotipkan atau dianggap orang yang pintar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut tentunya cukuplah menyenangkan bagi saya. Siapa sih yang nggak mau dianggap pintar oleh orang lain? Meskipun sebenarnya saya mempunyai kemampuan otak yang sangat pas-pasan, tapi anggapan begini saja sudah bikin bahagia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggapan tersebut saya ketahui di waktu awal-awal saya memakai kacamata dahulu. Suatu ketika, saya bertemu dan berkenalan dengan orang yang baru saya kenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Wah, Masnya pakai kacamata, berarti di sekolah Masnya pintar dan Masnya rajin baca buku dong?&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, dengan wajah yang memerah karena malu-malu, saya menjawab, &#8220;Waduh nggak juga kok, Mas. Hehe.&#8221; sambil membatin di dalam hati, &#8220;Astaga, nilai yang didapatkan pas-pasan dan baca buku juga nggak rajin-rajin amat kok dibilang pinter.&#8221; Haduh, begini rasanya jadi pemakai yang dianggap pintar yaa hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam kehidupan masyarakat kita, orang yang menggunakan kacamata memang selalu distereotipkan sebagai orang yang pintar atau cerdas. Namun, pernah atau nggak, kita kepikiran bagaimana sejarah terbentuknya stereotip yang tidak valid ini? Baiklah, untuk yang pernah kepikiran, mari kita bahas bersama-sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kacamata diperkirakan sudah ada pada 54-68 M, ketika Kaisar Nero dari Roma yang berkuasa menggunakan batu zamrud untuk menyaksikan pertandingan gladiator. Fungsinya selayaknya kacamata sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, sarjana dan astronom Irak, Ibn al-Haytham (sekitar 965-1040 M) dikenal sebagai orang yang berkutat dalam penelitian mengenai cahaya dan mekanisme penglihatan. Dia mempelajari lensa, bereksperimen dengan cermin yang berbeda: datar, bulat, parabola, silindris, cekung, dan cembung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada sekitar 1027, al-Haytham menyelesaikan bukunya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kitab al-Manazir<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Buku Optik<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dia pun menyarankan kaca yang dihaluskan dapat membantu seseorang yang menderita gangguan penglihatan. Namun, idenya itu baru dipraktikkan bertahun-tahun kemudian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan hasil riset dari University of Cologne, Jerman, dan University of Groningen, Belanda, stereotip orang berkacamata dianggap cerdas berasal dari abad pertengahan, ketika para biksu menggunakan kacamata untuk belajar karena kemampuan visual mereka menurun. Nah, sejak saat itu, orang yang melakukan pekerjaan intelektual atau para ahli biasa memakai kacamata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, ketika film dan produk budaya lainnya secara konsisten mengasosiasikan pemakai kacamata dengan kecerdasan, manusia menyimpannya di dalam otak mereka. Hal ini bisa dilihat ketika di dalam film-film, para profesor, orang-orang pintar, serta orang-orang jenius, biasanya menggunakan kacamata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab terjadi terus-menerus, akibatnya dalam kehidupan sehari-hari, ketika melihat ada orang-orang yang menggunakan kacamata, kita mengingat apa yang telah kita lihat dalam film. Pemakai kacamata kemudian disamakan dengan si profesor, si jenius, dan orang-orang yang hobinya membaca buku. Intinya orang yang berkacamata itu pintar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara tidak langsung ada \u201ctuntutan\u201d dan anggapan umum yang beredar di masyarakat untuk mengidentikkan kacamata dengan tingkat kecerdasan seseorang. Padahal nggak selalu begitu. Buktinya penurunan kemampuan visual juga bisa dialami mereka yang menginjak usia tua. Masa sih semua orang tua mendadak jenius kayak Sherlock Holmes. Nggak gitu dong konsepnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan saat kita kecil, teman sekelas yang lebih dulu mengenakan kacamata ke sekolah dianggap paling sering belajar. Pakai kacamata pun jadi sebuah kebanggaan, seolah punya prestasi. Padahal bisa jadi seseorang pakai kacamata karena kebanyakan nonton televisi. Hmmm.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti itulah kira-kira stereotip tersebut terbentuk. Kalau kalian ingin terlihat pintar di depan calon gebetan, kalian bisa menggunakan kacamata. Mungkin nantinya cinta kalian akan mendapatkan balasan. Sebab, memiliki pacar yang pintar tentunya merupakan dambaan, sekalipun pintarnya cuma hasil stereotip pemakai kacamata.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@olly\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Andrea Piacquadio<\/a> via <a href=\"https:\/\/images.pexels.com\/photos\/3760612\/pexels-photo-3760612.jpeg?cs=srgb&amp;dl=pexels-andrea-piacquadio-3760612.jpg&amp;fm=jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-keapesan-yang-cuma-dirasakan-orang-berkacamata-yang-sabar-bos\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">3 Keapesan yang Cuma Dirasakan Orang Berkacamata. Yang Sabar, Bos!<\/a> dan artikel <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ilham-sadikin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Ilham Sadikin<\/a> lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Secara tidak langsung ada anggapan umum yang beredar di masyarakat untuk mengidentikkan pemakai kacamata dengan orang pintar. Hadeeeh.<\/p>\n","protected":false},"author":1124,"featured_media":88319,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8059,948],"class_list":["post-88248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kacamata","tag-orang-pintar"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1124"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88248"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88248\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}