{"id":88246,"date":"2020-11-12T07:31:55","date_gmt":"2020-11-12T00:31:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88246"},"modified":"2021-08-13T13:03:34","modified_gmt":"2021-08-13T06:03:34","slug":"terawan-ngeprank-masyarakat-sekarang-giliran-who-ngeprank-terawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terawan-ngeprank-masyarakat-sekarang-giliran-who-ngeprank-terawan\/","title":{"rendered":"Terawan Ngeprank Masyarakat, Sekarang Giliran WHO Ngeprank Terawan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dunia itu adil, apalagi masalah komedi, seperti tambal sulam, semua silih berganti mendatangi. Apalagi masalah menterinya Jokowi yang paling friendly, sebut saja Terawan yang kebetulan memang nama aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada menteri selucu Terawan. Walau Pak Prabowo itu wajahnya amat imut, masalah keajaiban dan kelucuan, maaf ya Pak, Bapak masih kalah sama Terawan. Jika boleh, saya usul sama Panasonic Gobel Award, masukin nama Terawan sebagai nominasi pelawak pendatang baru terbaik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau masalah pinter-pinteran, jelas Pak Menkes Terawan ini sudah diakui secara akademik. Namun, masalah komunikasi, menyelesaikan, dan membuat solusi permasalahan, Menkes yang satu ini satu level sama Donal Bebek yang kerjaannya mbadut terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jebul, apa yang kita kira selama ini salah. Menkes kita yang senyumnya lucu minta dicubit pakai tang itu diundang oleh WHO. Luar biasa prestasi yang didulang oleh Menkes yang satu ini. Saya curiga, WHO nggak ada tamu lain yang harus diundang gitu, ya? Kepala desa saya yang cekatan menanggulangi pandemi di desa saya, misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertemuan itu menurut Kemenkes sebagai bentuk apresiasi dari WHO karena Menkes Terawan dinilai berhasil menangani pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia. Begitu kata Kemenkes yang dilansir dari <\/span><a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2020\/11\/05\/21335511\/menkes-terawan-diundang-who-jadi-pembicara-kemenkes-beberkan-alasannya?page=all\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">CNN.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bermuara dari dalam surat undangan yang diteken oleh Asisten Direktur Jenderal Kesiapan Darurat WHO, Jaouad Mahjour, pada (30\/10) lalu dan ditujukan kepada Menteri Terawan, seperti yang dikutip CNN.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diperkuat dengan penuturan Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Muhammad Budi Hidayat. &#8220;Iya dinilai bagus WHO, Alhamdulillah. Ini karena Indonesia dianggap mampu membuat angka positif landai ya positivity rate-nya dan juga angka sembuh meningkat.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budi menambahkan, WHO menilai mengapresiasi pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 3M yang meliputi memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. &#8220;Jadi artinya WHO menyebut Indonesia berhasil karena dibuktikan pelandaian kasus itu.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf nih sebelumnya, Pak. Bukan bermaksud mengganggu euforia kalian semua, tapi WHO menilai indikator bagus cuma dari pencegahan saja? Kalau begitu, yang harusnya diundang WHO ya seluruh masyarakat Indonesia. Bukannya apa-apa, Terawan saja sangat bermasalah sejak dalam komunikasi massa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba kita renungkan, apresiasi WHO kepada Terawan ini atas apa, sih? Lawakannya? Kalau memang lawakan Terawan yang dinilai, KOMPOR GAS!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebagai salah satu masyarakat yang harusnya diayomi oleh blio perihal pandemi pun merasa di-prank. Begini lho, lha wong kerjanya saja nggak jelas begitu. Nggak pernah mau diwawancarai secara publik. Bahkan sampai membuat Mbak Nana wawancara bangku kosong karena saking licinnya ini kemenkes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klemar-klemer begini kok ya bisa gitu loh dipuji baik oleh WHO? Prank yang sungguh mengoyak hati dan perasaan saya lantaran kerja blio ini dibandingkan dengan batu saja sama. Eh, maksud saya, sama-sama bekerja dengan keras. Begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dunia sungguh adil. Beberapa jam setelah Budi Hidayat menyampaikan puja dan puji syukurnya, WHO angkat bicara. Nih, ya, kesuksesan Terawan itu hanya perihal &#8220;sukses&#8221; secara spesifik merujuk ke program IAR. Program ini, bahkan bisa dilaksanakan secara online. Admin grup WhatsApp mungkin juga bisa kali, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak tanggung-tanggung prank dari WHO, bahkan jubir mereka angkat bicara karena miskonsepsi masyarakat atas diundangnya Terawan. Jubir WHO menyanggah, saya hanya bisa mesam-mesem dan mbatin, syukurlah WHO masih waras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Itu artinya mereka telah menyelesaikan IAR dan dapat menerapkan pelajaran-pelajaran yang dipelajari, tak hanya untuk merespons pandemi terkini, tetapi untuk memperkuat sistem-sistem mereka untuk bersiap lebih baik dalam darurat kesehatan di masa depan,&#8221; kata si jubir WHO di kantor pusat, Jenewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">WHO melanjutkan, &#8220;IAR akan mengidentifikasi area-area praktis untuk remediasi secepatnya dan improvement yang berkelanjutkan pada respons yang sedang dilakukan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya, WHO nggak menjelaskan sebab musabab manusia ajaib seperti Terawan diundang oleh mereka. Sehingga, banyak multi tafsir yang mengatakan undangan itu sebagai bentuk pujian. Bahkan puja dan puji syukur sudah diungkapkan oleh beberapa pihak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, ternyata WHO masih waras. Mereka menjelaskan dengan punchline paling lucu yang pernah saya dengar. Apalagi WHO berkata program tersebut sejatinya dilaksanakan secara langsung, tetapi WHO mendorong agar memakai format online saja jika penularan di suatu negara masih tinggi. Itu tandanya, WHO sadar bahwa tingkat penularan pandemi di Indonesia masih tinggi. Begitu, Pak Terawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Menteri Terawan, ada tiga menkes lain yang diundang dari Thailand, Afrika Selatan, dan Uzbekistan. Saya sih nggak tahu kinerja menkes tiga negara ini bagaimana. Tetapi, saya masih yakin, Terawan tetap yang paling lucu dan unggulan.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-sih-pentingnya-meminta-terawan-tampil-ke-publik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Apa sih Pentingnya Meminta Terawan Tampil ke Publik?<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Coba kita renungkan, apresiasi WHO kepada Terawan ini atas apa, sih? Lawakannya? Kalau memang lawakannya yang dinilai, KOMPOR GAS!<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":88354,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5468,4725,7842],"class_list":["post-88246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-covid-19","tag-terawan","tag-who"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88246\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88354"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}