{"id":88244,"date":"2020-11-13T07:33:07","date_gmt":"2020-11-13T00:33:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88244"},"modified":"2020-11-11T22:26:38","modified_gmt":"2020-11-11T15:26:38","slug":"daftar-7-vokalis-band-indonesia-dengan-gaya-paling-ikonis-di-era-2000-an","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/daftar-7-vokalis-band-indonesia-dengan-gaya-paling-ikonis-di-era-2000-an\/","title":{"rendered":"Daftar 7 Vokalis Band Indonesia dengan Gaya Paling Ikonis di Era 2000-an"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Romantisasi, romantisasi, romantisasi. Jawaban bagi orang-orang yang selalu mengunggulkan musik Indonesia era 90 hingga 2000-an. Saya yakin banyak dari kalian yang stuck mengikuti perkembangan musik sampai era ini. Bagi sebagian orang, golongan seperti ini dianggap tidak bisa move on, termasuk saya, hehehe. Terlepas dari itu semua, era ini memang layak untuk dikenang. Misalnya kala itu masih banyak acara musik reguler di TV, seperti MTV hingga acara pagi macam Dahsyat yang diawal masih menjadi acara musik (saja), belum melenceng seperti sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era ini, musik alternative rock hingga pop rock mendominasi pasar mainstream di awal dekade. Kemudian di akhir dekade ini muncul pula gelombang pop melayu. Setidaknya kedua gelombang di dekade yang sama ini memiliki kesamaan, mayoritas penguasa dekade tersebut adalah grup band, sebelum tersapu gelombang boyband dan girlband di awal dekade 2010-an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sekian banyak band yang menjamur di era ini, maka sebagian dari mereka (khususnya sang vokalis) dituntut harus tampil beda, lebih dari sekadar lebih baik. Setidaknya gelagat mereka akan diingat penonton. Seperti vokalis-vokalis yang akan saya rangkum berikut ini. Kalau kata Pandji Pragiwaksono, \u201cSedikit lebih beda lebih baik, dari sedikit lebih baik.\u201d<\/span><\/p>\n<h4>#1 Ariel &#8211; Peterpan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kini muncul istilah, harta, tahta, kemudian renata, pevita, dll, di era ini jika harus memilih perwakilan tersebut bagi kaum adam, Ariel-lah orangnya. Siapa yang meragukan aksi cool Ariel kala itu bahkan hingga kini. Personanya sebagai vokalis seolah tak pernah luntur, yang kalau kata Yusril Fahriza di Podcast Bergumam, indikator keabadian persona Ariel itu adalah ketika dia tetap dielu-elukan hampir di semua panggung tak terkecuali panggung anak-anak edgy yang didominasi anak muda umur 20-an.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya kaum hawa, rambut belah tengah Ariel adalah cerita lain. Pada masa-nya, model rambut ini sangat populer di kalangan kaum &#8220;garangan&#8221;. Rambut model ini adalah tolok ukur kegantengan pria kala itu. Kalian luar biasa!<\/span><\/p>\n<h4>#2 Armand Maulana &#8211; Gigi<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Armand adalah salah satu vokalis paling enerjik, lengkap pula dengan aksesori sporty-nya. Gaya sporty jingkrak-jingkrak berlarian ke sana kemari selalu lekat dengan pria pemilik cinta 11 Januari ini. Entah sudah berapa kalori yang habis terbakar sekali Armand Maulana manggung. Kang Armand selalu aktif ya, Bund.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Ian Kasela &#8211; Radja<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua hal yang tak mungkin dipisahkan, ialah Ian Kasela alias Ian Kalimantan Selatan dan kacamatanya. Kacamata Ian yang tak pernah dilepas menjadi urban legend pada masa itu, hingga muncul banyak isu, \u201cJangan-jangan Ian Kasela punya sharingan layaknya klan Uchiha\u201d. Di mana pun, kapan pun, kacamatanya tak pernah lepas, saya curiga sekalipun ia ikut uji nyali Masih Dunia Lain, ia tak akan sedetik pun melepas kacamatanya walau gelap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dibuka dan dikonfirmasi, ternyata kacamatanya hanyalah aksesoris belaka, seolah menjadi branding dirinya. Tak ada yang istimewa dan tak ada yang mencurigakan.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Charly &#8211; ST 12<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Charly adalah ikon musik melayu, tentu gayanya menjadi panutan musisi pop melayu lain, apalagi dengan suara &#8220;ngeden-nya&#8221; serta pembawaan lagu yang entah kenapa kadang kelewat menghayati. Belum lagi anting dan rambut belah tengahnya. Dan satu yang selalu ikonis dengan Charly kala itu, jaket Rollink-nya di lagu P.U.S.P.A. Tak lengkap rasanya memparodikan Charly tanpa item yang disebutkan tadi.<\/span><\/p>\n<h4>#5 David &#8211; Naif<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahir dari skena IKJ tentu membuat David terbiasa menguasai crowd yang dikenal keras itu, meski dia mengakui dulunya malu-malu. Gaya bercandanya selalu menjadi hal menyenangkan setiap kali menonton pertunjukan langsung Naif. Gayanya yang nyentrik serta konsisten membuat dia digadang-gadang sebagai front man paling berkualitas soal suara serta seru dalam berinteraksi, bagi sebagian vokalis lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cVokalisnya belum keles, sabar, cin, sabar,\u201d sahut David tiap kali penonton kesusu menyanyikan bagian reff \u201cMengapaaaaaaaaa\u201d pada lagu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Posesif<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h4>#6 Andika &#8211; Kangen Band<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rambut Sasuke, celana melorot, suka atau tidak begitulah gaya yang selalu melekat pada Andika. Andika pada masanya adalah ikon rambut poni Indonesia. Saking melekatnya, kalau kalian para cowok punya poni pasti langsung dikaitkan dengan Andika.<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 Giring &#8211; Nidji<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum yakin menjadi capres, dulunya Giring Ganesha menjadi salah satu vokalis dengan gayanya yang khas, dari rambut keriting, syal, goyang jingkrak-jingkrak, serta gerakan tangan yang dikibas-kibas. Saya malah berharap suatu saat blio dapat nomor urut 5 jika seandainya mantap maju sebagai capres, agar gayanya dulu tetap dipakai saat kampanye. Heuheu. \u201cSadarkan aaaku Tuhannn, dia bukan milikkuuu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rivalitas-penikmat-musik-jawa-mulai-koplo-hingga-campursari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rivalitas Penikmat Musik Jawa: Mulai Koplo hingga Campursari<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari sekian banyak band yang menjamur di era ini, maka sebagian dari mereka (khususnya sang vokalis) dituntut tampil beda.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":88355,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7501,9473],"class_list":["post-88244","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-band","tag-vokalis"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88244","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88244"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88244\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/88355"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88244"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88244"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88244"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}