{"id":88137,"date":"2020-11-13T07:13:16","date_gmt":"2020-11-13T00:13:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=88137"},"modified":"2020-11-12T15:46:08","modified_gmt":"2020-11-12T08:46:08","slug":"belajar-memaknai-hidup-uang-dan-public-relations-dari-operator-depot-galon-isi-ulang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belajar-memaknai-hidup-uang-dan-public-relations-dari-operator-depot-galon-isi-ulang\/","title":{"rendered":"Belajar Memaknai Hidup, Uang, dan Public Relations dari Operator Depot Galon Isi Ulang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Empat bulan lalu saya tiba di Tangerang, tempat di mana saya kemudian bekerja\u00ad (tapi saya lebih bisa disebut membantu) di sebuah toko milik saudara saya. Iya, toko itu baru buka di era pandemi. Hitung-hitung sembari kuliah daring, saya mengisi waktu dengan menjaga toko ini. Persis di seberang toko saya, ada sebuah ruko yang membuka depot galon isi ulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, tembok toko tersebut baru saja dicat dengan warna biru. Saya mengira, hal itu lantaran yang dijualnya adalah air, yang sering kali dikaitkan dengan warna biru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap lapak pasti ada penjaganya. Dan depot galon isi ulang itu dijaga oleh seorang lelaki berusia sekitar 50 tahun. Sedari awal bertemu, saya tak tahu namanya. Saya hanya memanggilnya dengan sebutan Pakde. Dan ia tak sendiri. Dalam menjaga depot galon isi ulang itu, ia ditemani anaknya yang berusia sekitar 25 tahun. Namanya Agus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Depot galon isi ulang itu bukan milik mereka, melainkan milik oleh seorang lelaki yang usianya justru jauh di bawah Pakde. Bisa dibilang, lelaki itu cukup sukses lantaran telah bekerja juga di sebuah instansi pemerintah, memegang beberapa proyek, memiliki usaha, dan memiliki beberapa kendaraan roda empat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pakde, lelaki yang saya kenal 4 bulan belakangan kerap ngobrol dengan saya. Bahkan hampir setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saban pagi, ia membuka rukonya dan beberes. Wajar, cukup banyak barang-barang yang harus ia atur di rukonya. Sebab, selain depot galon isi ulang, rukonya juga menjual gas 3 kg, es kelapa muda, dan minuman seduh seperti Pop Ice<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi ia menyapu, mengepel, dan mengatur, serta membersihkan galon yang ada. Biasanya, setelah melakukan itu, ia mengantar galon yang telah dipesan. Motornya segera melesat menuju pelanggan setianya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir setiap hari, pasti ada waktu di mana Pakde akan datang ke toko saya dan duduk di kursi yang ada di samping atau di depan meja saya. Biasanya sambil mengisap rokok. Tentu saja, abunya berjatuhan di lantai toko saya. Namun, saya tak terlalu mengindahkan. Toh, bisa saya sapu ketika ia beranjak ke tokonya nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, setiap obrolan merupakan obrolan yang pernah dibicarakan. Entah, setiap orang tua, barangkali begini. Akan menceritakan hal yang sama, di waktu yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia pernah bercerita tentang rukonya. Ia juga pernah bercerita tentang perjalanan hidupnya sebelum akhirnya berlabuh di Tangerang. Ia juga pernah bercerita tentang keluarganya. Dan tentu saja, pelajaran hidup yang kerap ia ceritakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia pernah bilang kepada saya begini, \u201cKita itu nyari uang untuk senang. Ngapain pelit-pelit. Ada uang ya beli apa yang dimau. Ada uang ya makan apa yang dimau. Nggak usah pusing-pusing. Kita memang nyari uang untuk senang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar hal itu keluar dari lisannya, membuat saya berpikir. \u201cAda betulnya juga Pakde ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari cerita hidupnya, saya menilai, Pakde memanglah pekerja keras. Ia pernah menjadi sopir angkot di Lampung. Dan karena pengalamannya itu, ia paham betul soal mesin mobil. Apalagi, ia pernah bercerita tentang pengalamannya bekerja di bengkel mobil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan, tak hanya itu, soal surat-surat mobil, ia juga sangat paham. Hal ini juga lantaran ia pernah bekerja di tempat jual beli mobil. Dan ia, bagian mengurus surat-surat. Bukan main!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal bahan bangunan dan proyek, ia juga cukup paham. Ia pernah bekerja di sebuah proyek di Sumatera. Katanya, proyek pembangunan gorong-gorong. Maka soal ini, tak usah diragukan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pekerja keras, Pakde memang orang yang rajin. Ia tak main-main soal galon. Galon yang kotor berlumur tanah, dicucinya berkali-kali. Pelanggannya tak hanya penduduk sekitar, tetapi beberapa kelompok proyek pembangunan. Maka wajar kalau galon dari proyek berlumur tanah yang mengering.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain galon, rukonya juga dijaga betul. Entah sehari berapa kali ia menyapu dan mengepel, saking banyaknya. Katanya, galon itu harus bersih, tempat juga harus bersih. Orang itu melihat kita. Yang kita jual air, untuk diminum. Orang bisa melihat mana bersih mana kotor. Kalau bersih, orang pasti datang. Begitu katanya. Keren, bukan? Meski mungkin Pakde bukanlah lulusan LSPR atau tak pernah mengenyam studi komunikasi, tetapi perilaku dan tindakannya menunjukkan persis seperti seorang praktisi public relations. Dan dari situ, akhirnya saya belajar bagaimana menjadi public relations yang baik. Bagaimana membangun citra yang baik bagi tempat usahanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ia pernah cerita kepada saya dengan suara yang cukup lantang dan mantap. \u201cMesin isi ulang kita ini, dari Jogja. Air minum kita saja dari Bogor. Sudah ada sertifikatnya air kita ini. Sudah ada bukti ujinya. Jadi sudah terpercaya air kita ini. Bukan air sembarangan.\u201d katanya. Dan tentu saja, hal itu tak hanya sekali diceritakan kepada saya. Berkali-kali!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kini suara lantang itu tak bisa lagi saya dengar dengan jelas. Cerita-cerita kehidupannya tak bisa saya nikmati lagi. Pelajaran-pelajaran kehidupannya pun demikian, tak bisa saya gali lagi. Pakde kini telah pindah kerja. Ia pulang ke asalnya dan bekerja di sana. Dan salaman tanda pamit pagi tadi mengakhiri perjumpaan kami, yang dimulai empat bulan lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, setidaknya saya belajar menghargai hidup. Bagaimana memaknai uang dan kehidupan. Yang paling bermakna adalah pelajaran menjadi public relations yang baik meski hal itu saya dapat dari operator depot galon isi ulang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/getirnya-memancing-di-bekas-pengeboran-minyak-kena-prank-ikan-hingga-badai-mengerikan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Getirnya Memancing di Bekas Pengeboran Minyak, Kena Prank Ikan hingga Badai Mengerikan<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/sylvanto-budi-utomo\/\">Sylvanto Budi Utomo<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meski bukan lulusan LSPR atau Ilmu Komunikasi, operator galon isi ulang ini justru mengajarkan banyak pelajaran soal public relations.<\/p>\n","protected":false},"author":579,"featured_media":3104,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3105,9487],"class_list":["post-88137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-profesi","tag-public-relations"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/579"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=88137"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/88137\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=88137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=88137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=88137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}