{"id":87569,"date":"2020-11-07T06:17:19","date_gmt":"2020-11-06T23:17:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=87569"},"modified":"2020-11-06T21:57:24","modified_gmt":"2020-11-06T14:57:24","slug":"membedah-tagline-mondok-sampek-rabi-ngaji-sampek-mati-anak-pesantren","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membedah-tagline-mondok-sampek-rabi-ngaji-sampek-mati-anak-pesantren\/","title":{"rendered":"Membedah Tagline &#8216;Mondok Sampek Rabi, Ngaji Sampek Mati&#8217; Anak Pesantren"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pola hidup di pesantren yang unik dan memorable, para santri, di manapun itu, juga punya tagline andalan yang cukup menarik. Tagline tersebut berbunyi, \u201cMondok sampek rabi, ngaji sampek mati (Mondok sampai nikah, ngaji sampai mati).\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepintas, tagline ini terdengar sangat sederhana dan nggak filosofis babar blas, ya? Eits, jangan salah. Jika ditelisik lagi, tagline ini muncul bukan sembarang othak-athik gathuk. Bukan ngasal nyusun kalimat yang enak dibaca dan didenger saja. Tapi, terdapat prinsip mendasar yang dipegang teguh oleh para santri dalam kehidupan di pesantren dan ketika sudah pulang ke desa masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara historis, nggak ada yang tahu persis sih mengenai sejak dari kapan tagline ini mulai muncul dalam lingkungan pesantren. Namun, sependek pengetahuan saya, tagline ini memang baru populer dalam kurun tiga sampai lima tahun terakhir, seiring dengan munculnya istilah khas santri Gen Z. Kayak misalnya, santri hits lah, santri kece lah, santri milenial lah, dan istilah-istilah aneh yang lain. Nah, berbarengan dengan itu, tagline \u201cMondok sampek rabi, ngaji sampek mati\u201d kembali mencuat ke permukaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenernya ada nilai penting yang hendak disampaikan dalam tagline andalan tersebut. Namun, banyak sekali santri\u2014khususnya santri-santri zaman sekarang\u2014yang pengetahuan dan pemahamannya nggak sampai sejauh itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti konkretnya, saya sempet lah iseng-iseng menggali informasi dari santri-santri di eks almamater saya, yang dalam pantauan saya memang sering nyantumin tagline tersebut dalam story WA mereka. Bahkan tagline tersebut juga disablon di kaos yang mereka buat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, pas saya tanya-tanya, ternyata nihil. Nggak ada informasi apa pun yang bisa saya gali dari mereka. Sebab, rata-rata mereka mengaku menggunakan tagline tersebut hanya karena easy listening saja, nggak tahu detail filosofisnya kayak gimana. It\u2019s okay, nggak masalah. Itu lah kenapa artikel ini saya tulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak berani jamin kalau yang bakal saya uraikan ini nanti seratus persen tepat. Namun, yang jelas, informasi ini saya peroleh dari hasil ngobrol dengan salah satu pengurus di pesantren saya dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mulai dari bagian \u201cMondok sampek rabi (mondok sampai nikah)\u201d dulu, ya. Begini, bagian ini sebenernya memuat prinsip perihal rentang waktu yang harus ditempuh seorang santri dalam menimba ilmu di pesantren. Mondok sampai rabi menunjukkan rentang waktu tersebut yang sebenernya sangat-sangat nggak sebentar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zaman dulu, seorang santri baru dinyatakan tuntas masa mondoknya (lulus) kalau dia sudah matang dari segi usia. Maksudnya sampai usia matang untuk rabi (menikah). Mangkanya, santri-santri zaman dulu kalau mondok itu durasinya nggak main-main. Belasan bahkan puluhan tahun, Rek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat juga sistem pesantren zaman dulu nggak menggunakan sistem klasikal. Jadinya lulus nggaknya seorang santri itu ditentukan oleh keputusan dari Abah Yai langsung. Berbeda dengan sistem pesantren hari ini, di mana santri bisa minta boyong sewaktu-waktu, meskipun masuk pesantrennya belum genap seminggu misalnya. Sementara zaman dulu, yang umum terjadi, pokoknya sekali nyemplung ke pesantren, pantang boyongan sebelum Abah Yai menitahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut dimaksudkan agar para santri bener-bener siap berkiprah\u2014menjadi seorang pemimpin\u2014di desanya masing-masing setelah keluar dari pesantren. Usia matang, ilmu agama juga sudah cukup ngelotok. Ya biar perjalanan nyantrinya nggak sia-sia, dan yang paling penting adalah membanggakan almamater.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, memang indikator keberhasilan suatu pondok pesantren di zaman dulu itu adalah jika para alumninya bisa berkiprah di masyarakat, khususnya dalam bidang keagamaan. Entah menjadi penceramah, guru ngaji, pokoknya yang penting memberi kemanfaatan kolektif bagi lingkungan sekitar dia tinggal. Dan kalau dicermati, dibandingkan dengan santri zaman sekarang, santri-santri zaman dulu memang terlihat lebih kontributif di tengah masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah biasanya, seturut pengakuan dari pengurus yang saya ajak ngobrol, isyarat bahwa santri sudah dinyatakan tuntas masa nyantrinya adalah ketika ia secara personal dipanggil Abah Yai ke ndalem. Si santri bakal ditanyai perihal siap nggak dia menikah? Dari obrolan ini Abah Yai kemudian menutupnya dengan pernyataan bahwa si santri sudah boleh buat boyong dari pesantren. Untuk kasus santri yang beruntung, biasanya malah dicarikan calon sama Abah Yai sendiri. Nggak cuma itu, bahkan sampai dinikahkan juga, loh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemboyongan santri oleh Abah Yai ini bukannya tanpa syarat. Sebab, satu hal yang ditekankan oleh Abah Yai, yaitu \u201cNgajio sampek mati (Mengajilah sampai mati)\u201d Maksudnya adalah, walaupun sudah nggak di pesantren lagi, seorang santri jangan sampai berhenti dari aktivitas belajar (tanggung jawab personal) atau mengajar ilmu-ilmu keagamaan (tanggung jawab sosial).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanggung jawab personal yakni, walaupun sudah lulus dari pesantren, seorang santri harus tetap istikamah aktif dalam majelis-majelis ilmu (agama) di mana pun dia berada. Alias nggak boleh ngerasa puas sama apa yang sudah diperoleh selama puluhan tahun di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam praktiknya, paling minimal seorang santri harus tetep mendaras ulang kitab-kitab yang pernah dia pelajari sebelumnya. Istilah pesantrennya adalah kegiatan mutholaah. Komitmen ini didasarkan pada sebuah hadis yang menyebut bahwa menuntut ilmu itu dari al-mahdi (dalam kandungan) hingga al-lahdi (liang pemakaman).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan lebih dari itu, seorang santri haruslah menjaga konsistensi dalam mengerjakan amalan-amalan yang menjadi rutinan selama di pesantren. Misalnya, jika di pesantren istikamah salat berjamaah, setelah nggak di pesantren pun masih harus berusaha konsisten salat berjamaah. Jika di pesantren tekun baca Alquran, salat sunnah, puasa sunnah, zikiran, atau jenis amalan yang lain, sepulangnya dari pesantren amalan-amalan tersebut sebisa mungkin harus tetep dijaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun untuk tanggung jawab sosial, yaitu bagaimana seorang santri membagikan ilmunya kepada masyarakat dalam bentuk mengajar ngaji atau ceramah-ceramah agama. Salah satu tanggung jawab dan kewajiban seorang yang berilmu adalah tabligh (menyampaikan) ilmunya. Dasarnya adalah hadis yang berbunyi, \u201cSampaikan kebenaran walau satu ayat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu sih, hasil obrolan antara saya dengan salah seorang pengurus di pesantren saya dulu, yang mungkin lebih cenderung pada konteks pesantren di masa lalu. Kalau temen-temen punya interpretasi lain mengenai tagline \u201cMondok sampek rabi, ngaji sampek mati\u201d, ya monggo disampaikan juga. Sing penting aja padha jotos-jotosan, yo?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-coba-coba-punya-isian-demit-di-badan-rasanya-nggak-enak-banget\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jangan Coba-coba Punya Isian Demit, di Badan Rasanya Nggak Enak Banget!<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selain pola hidup di pesantren yang unik, para santri juga punya tagline andalan yant berbunyi \u201cMondok sampek rabi, ngaji sampek mati&#8221;.<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":79221,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1230,52,6245],"class_list":["post-87569","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-ngaji","tag-pesantren","tag-pondok"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87569","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87569"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87569\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79221"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}