{"id":87236,"date":"2020-11-05T07:35:17","date_gmt":"2020-11-05T00:35:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=87236"},"modified":"2020-11-04T21:41:18","modified_gmt":"2020-11-04T14:41:18","slug":"pilpres-indonesia-lebih-layak-dijadikan-box-office-ketimbang-pilpres-amerika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pilpres-indonesia-lebih-layak-dijadikan-box-office-ketimbang-pilpres-amerika\/","title":{"rendered":"Pilpres Indonesia Lebih Layak Dijadikan Box Office Ketimbang Pilpres Amerika"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kotak suara Alaska belum sampai karena harus melintasi sungai dulu,&#8221; begitu kata cuitan warganet. Entah siapa yang memulai lawakan tersebut, kalimat itu muncul di berbagai media sosial seperti Twitter hingga Facebook. Cuitan tersebut sebenarnya sedang nyindir negara yang kurang bisa memfasilitasi tenaga petugas pemilu dan warga yang rumahnya dapat dikatakan pelosok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian ada lagi, &#8220;Kericuhan terjadi di Hawaii, katanya surat suara rusak dan harus dilakukan pengulangan.&#8221; Walau nggak selucu yang pertama, tapi tetap saja hal ini menggelitik lantaran mosok yo di Hawaii terjadi huru-hara. Kalau mau demo, kumpulnya mau di monumen apa coba?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satir yahud tersebut dilemparkan lantaran jarak Alaska yang lumayan jauh. Negara bagian tersebut dipisahkan oleh Negara Kanada. Negara yang ramah kepada beruang, begitu kata We Bare Bear. Sedangkan Hawaii bukan jauh lagi. Padahal, pemilu di Amerika sudah kelewat canggih, nggak perlu menggunakan kertas yang dicoblos-coblos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya lawakan-lawakan di atas menunjukkan pemilu Amerika cukup damai. Jujur saja, hal ini sungguh memalukan. Negara yang terkenal dengan poros peradaban sinema, mosok pemilunya nggak ada huru-hara? Nggak ada ledakan gas air mata, water cannon, dan pentung-pentungan. Mosok kalah sama Indonesia yang kerjaannya memproduksi sinetron sampah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berharap sesuatu yang buruk, tapi mosok kalian nggak bosan yang bikin gara-gara Trump terus? Trump merasa dicurangi, Trump merasa dizalimi, saya curiga besok Trump merasa disantet sama simpatisan Biden. Aneh, negara yang punya Hollywood, cuma segini kualitas petahana? Mosok mentalnya lebih sampah ketimbang sinetron Indonesia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maaf maaf saja, nih, Warga Amerika, bukan memuji negara sendiri, tapi urusan pemilu, negara saya nomor satu. Di Amerika nggak ada kan masalah negara hampir pecah karena binatang? Misal Beruang Grizzly vs Biso, gitu? Nggak, kan? Coba lihat Indonesia, perkara kelelawar dan anak katak saja bisa jadi Perang Paregreg jilid dua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah yang bikin saya geleng-geleng melihat Pilpres Amerika yang kurang menantang. Trump terus ambil bagian. Indonesia hampir rata, dipenuhi orang-orang yang selalu ngotot untuk menampilkan kebodohannya. Jika di Amerika Trump sendirian ketika terlihat bodoh, di Indonesia hadirnya berkelompok. Kurang luar biasa bagaimana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Politik Amerika ini terlalu rapi, kurang sporadis seperti apa yang terjadi di Indonesia. Kalau dijadikan film, hasilnya ya seperti film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kalau politik Indonesia dijadikan film, mungkin bisa menyamai serunya film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengkhianatan PKI<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film bergenre suspense, horor, thriller, time loop, dan fiksi ilmiah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Pilpres Amerika dijadikan sebuah film nih ya, tokoh utama berat sebelah. Pasti Trump lagi, Trump lagi. Jika Pilpres Indonesia diangkat ke layar lebar, luasnya plot cerita lantaran Jokowi dan Prabowo ini kadung solid, berisi, dan futuristik. Dua orang ini bagai dua tokoh utama yang akan habis-habisan di ending filmnya. Pilpres Amerika? Membosankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun setali dengan para cameo. Mulai dari Luhut Binsar, Amien Rais, Megawati, Neno Warisman, sampai artis cilik seperti Faldo Maldini dan para kader PSI, akan menjadi cameo yang sangat dinanti. Mak sliwer misalkan Megawati liwat di film, sebagaimana Stan Lee dalam Marvel. Hadirnya Megawati atau Amien Rais sebagai cameo, pasti bakal berimbas banyak ke dalam jalannya cerita. Secara, yah kalian tahu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada cameo-cameo murah sebagaimana film-film dibintangi artis stand up comedy. Pun cameo <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pretty Boys<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menghadirkan Najwa Shihab, nggak ada apa-apanya ketimbang cameo Luhut Binsar. Di film ini, Luhut yang bukan tokoh utama, tiba-tiba bakal ambil scene banyak layaknya tokoh utama. Hayoh, bingung to kowe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya imbasnya itu, saking banyak cameo yang berjubel-jubel ingin tampil, film ini nggak jelas mau dibawa ke mana arahnya. Sutradara drama romansa sekelas Hanung Bramantyo saja saya yakin bakal angkat tangan. Luhut, Megawati, dan beberapa oposisi, silih berganti masuk ambil peran. Imbasnya, filmnya ngaco. Bukannya nyelesain ending yang menarik, malah bikin UU Ciptaker. Eh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika film Pilpres Amerika, walau Joe Biden karakternya nggak kuat atau Trump yang kemenyek itu, bakal jelas karena seluruh tampuk kuasa jalannya cerita, ada di mereka. Bukan di cameo-cameo yang berusaha jadi tokoh utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jadi, judul apa yang pantas semisal pilpres negara kita akan dibuat film? Pilpres Amerika kan jelas, judulnya pasti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Petualangan Trump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Jika pilpres Indonesia, bagaimana jika, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Siapapun yang Menang, Ujung-ujungnya yang Kalah Adalah Rakyat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/megawati-adalah-tokoh-yang-paling-banyak-memberi-sumbangsih-untuk-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Megawati adalah Tokoh yang Paling Banyak Memberi Sumbangsih untuk Indonesia<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika Pilpres Amerika dijadikan sebuah film nih ya, tokoh utama berat sebelah. Pasti Trump lagi, Trump lagi.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":87238,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[5137,31,1346],"class_list":["post-87236","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-amerika","tag-indonesia","tag-pilpres"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87236","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87236"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87236\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87236"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87236"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87236"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}