{"id":87143,"date":"2020-11-05T06:51:27","date_gmt":"2020-11-04T23:51:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=87143"},"modified":"2020-11-05T01:25:21","modified_gmt":"2020-11-04T18:25:21","slug":"jogja-dan-thailand-itu-sama-sama-monarki-tapi-rakyat-jogja-nggak-suka-demo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-dan-thailand-itu-sama-sama-monarki-tapi-rakyat-jogja-nggak-suka-demo\/","title":{"rendered":"Jogja dan Thailand Itu Sama-sama Monarki, tapi Rakyat Jogja Nggak Suka Demo"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain sama-sama indah dan romantis, Jogja dan Thailand memiliki beberapa persamaan, yakni pemerintahan yang berbentuk monarki. Bedanya, Jogja kini berbentuk sebuah kota, sedangkan Thailand merupakan kerajaan. Namun, jika kasusnya melalui sudut pandang monarki, ya setara dong, Bos!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, masyarakat Thailand sejak dini didoktrin bahwa menentang raja hukumnya celaka. Atau ya minimal dosa besar. Jogja pun sama, namun tak serupa. Bukan doktrin melainkan makian. Menantang raja, pertanyaan &#8220;KTP endi, Buos?&#8221; selalu menjadi tekanan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik riuhnya persamaan, jebul terbersit beberapa pembedaan yang cukup mencolok. Jika menentang raja di Thailand ganjarannya dosa, di Jogja ganjarannya didatangi orang. Minimal ancaman disuruh pindah. Kalau pendatang ya bakalan dicap SJW perusak Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menentang monarki Thailand pun sebenarnya nggak lebih parah dari menentang monarki Jogja. Tapi, ya bagaimana pun radikalnya sebuah doktrin, jika masyarakatnya makin pintar, goyah juga pada akhirnya. Saya sedang ngomongin Thailand lho ya. Bagaimana pun saya ini sobat nrimo ing pandum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat para demonstran Thailand yang begitu vokal kepada monarki, hanya bisa membuat saya geleng-geleng kepala alih-alih kagum. Lantas muncul pertanyaan, apa mereka nggak bakal ditanyain KTP mana gitu, ya? Apa nggak dicegat sama gerombolan simpatisan partai? Hebat sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demo itu bermula karena pemberangusan Future Forward Party (FFP) yang vokal menentang Perdana Menteri Prayuth Chan-Ocha. Blio ini naik kuasa atas sebelumnya kudeta militer. Setelah pemilu tahun lalu, blio terpilih kembali sebagai perdana menteri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang saya katakan tadi, Chan-Ocha memberangus sebuah partai di mana partai itu adalah partai pro-demokrasi, partai yang dianggap anak muda Thailand sebagai sebuah roda paling waras dalam menampung aspirasi mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Raja Vajiralongkorn dianggap generasi Z Thailand ini kinerjanya nggak jelas. Raja ini dianggap ngawu-ngawu mana kala menetapkan diri sebagai pemegang komandan tertinggi seluruh unit militer di Bangkok. Dan ini pertama kali sepanjang sejarah lho. Sudah raja, merangkap kepala pemerintahan, eh malah jarang berada di garda terdepan untuk menampung aspirasi rakyatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, gayanya si raja ini juga dianggap kemlinthi oleh masyarakat Thailand. Ketika naik tahta 2016 silam, Vajiralongkorn justru banyak menghabiskan waktu di Jerman. Sudah punya vila mewah, blio malah lebih banyak tinggal di hotel mewah Garmisch-Paternkirchen. Ia juga membawa 100 orang pihak kerajaan. Gimana rakyat nggak marah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah mengapa Raja Vajiralongkorn diprotes keras. Makanya Raja Vajiralongkorn, contoh dong Raja Jogja yang bijak bestari. Belajar, teladani, dan implementasi bagaimana cara menjadi raja yang baik sekaligus kepala pemerintahan yang ciamik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuh, pelik kan urusan dengan monarki di Thailand. Sebuah hal yang nggak mungkin terjadi kepada monarki Jogja. Alasannya berdasar, yakni kinerja monarki Jogja sudah sangat baik dan memuaskan&#8230; bagi yang terpuaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar-sebentar, izinkan saya menjelaskan sebelum kalian, sobat nrimo, menanyakan saya KTP mana. Begini, masalah di Thailand itu sangat kompleks. Ada beberapa alasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, masalah di Thailand lebih kompleks daripada di Jogja. Begini, memberangus suara yang dikenal terkenal vokal terhadap Perdana Menteri Chan-Ocha dan begitu populer di kalangan anak muda Thailand itu keterlaluan lho. Sedangkan masalah di Jogja, halah paling cuma masalah UMR dan klitih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan masalah UMR dan klitih itu sebuah masalah yang seringnya nggak dipermasalahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">UMR Jogja rendah itu kan bisa diperdebatkan oleh buzzer dengan jawaban &#8220;hitungannya memang segitu&#8221;. Pun masalah ini nggak bakalan menutup laju investor untuk terus melakukan investasi kepada bangunan hunian seperti hotel dan apartemen di utara, perumahan di selatan. Justru makin kencang laju pertumbuhannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Investor datang karena upah minimum rendah, mereka untungnya banyak, ditambah diterima dengan hangat oleh sobat nrimo. Gimana nggak menggiurkan? Ketika di daerah lain sampai unjuk rasa, di sini malah dihamparkan karpet merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini masalah yang sangat sepele, sih. Palingan hanya terbentuk sebuah sistem metropolis di utara. Dengan banyaknya hotel, mal, dan fasilitas hiburan, maka harga akan melambung tinggi, sedangkan UMR dan UMK stagnan. Uang pokok rendah, harga barang naik. Masalah? Ah, bukan. Asal bisa nrimo ing pandum, semua beres. Lapar dan keadilan urusan belakangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alam di Jogja menjadi pertaruhan pun bukan masalah berarti. Palingan hanya air tanah yang terus disedot oleh hotel bintang lima, empat, atau bintang kejora. Penduduk sekitar kehabisan air tanah, sanitasi buruk, lingkungan terkena imbas, nggak masalah. Itu masalah sepele. Nggak perlu repot-repot demonstrasi seperti masyarakat Thailand.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, raja di Thailand ini nyebelin lho. Sedangkan Raja Jogja nggak seperti itu sifatnya. Blio dekat dengan rakyat. Merangkul masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun Raja Jogja ini kinerja sangat baik (sebagai Gubernur DIY lho, ya). Apa lagi kebijakan dalam menahan laju pandemi di Jogja. Lihat saja, pariwisata Jogja tetap ngosak-ngasik sedangkan angka Covid-19 di Jogja, hmmm, masih menunjukkan kurva peningkatan, sih. Tapi, nggak masalah, kita harus setuju kinerjanya memang bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lese-Majeste di Thailand, yakni hukum yang melarang rakyat Thailand melakukan penghinaan terhadap kerajaan, itu sudah sangat keras. Keras dalam melarang rakyat untuk menghina, mengancam, atau menuduh raja untuk urusan apa pun. Walaupun begitu, darah muda tetap darah yang berapi-api. Apapun yang terjadi, ya demonstrasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untung saja mereka nggak demo di Jogja. Walau nggak ada hukuman yang seberat Lese-Majeste di Thailand, tetap saja mereka bakal dihadang ormas fanatik. Lagi pula, buat apa sih demo-demo nggak penting gitu, dikira masyarakat Jogja ini nggak punya gawean seperti masyarakat Thailand apa? Masyarakat Thailand ini selo, demo terooosss.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan masyarakat Jogja, maaf maaf aja nih, kita sih sibuk. Nggak ada waktu buat demo. Kita sih sibuk me-retweet akun romantisasi yang bergeliat ketika long weekend itu tuh. Camkan!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/megawati-adalah-tokoh-yang-paling-banyak-memberi-sumbangsih-untuk-indonesia\/\"><b>Megawati adalah Tokoh yang Paling Banyak Memberi Sumbangsih untuk Indonesia <\/b><\/a><b>dan tulisan <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\"><b>Gusti Aditya<\/b><\/a><b> lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Thailand dan Jogja itu punya kesamaan, sama-sama monarki. Tapi, orang-orang di Jogja nggak seselo Thailand yang suka demo. <\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":35588,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[115,8665,3415],"class_list":["post-87143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jogja","tag-monarki","tag-thailand"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87143"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87143\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}