{"id":86971,"date":"2020-11-04T12:15:42","date_gmt":"2020-11-04T05:15:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86971"},"modified":"2020-11-04T16:31:59","modified_gmt":"2020-11-04T09:31:59","slug":"wafatnya-ki-seno-nugroho-adalah-duka-besar-bagi-dunia-pewayangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wafatnya-ki-seno-nugroho-adalah-duka-besar-bagi-dunia-pewayangan\/","title":{"rendered":"Wafatnya Ki Seno Nugroho Adalah Duka Besar bagi Dunia Pewayangan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hooong&#8230; surem-surem diwangkara kingkin lir mangukswa kang layon, dennya ilang memanising wadananira layu, kumel kucem rahnya maratani&#8230;. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Bait tersebut merupakan lantunan Suluk Tlutur, sebuah syair yang menggambarkan kematian. Biasanya dilantunkan ketika adegan salah satu tokoh baik dalam pewayangan gugur. Saat ini, suluk tersebut kembali terngiang di kepala saya. Terdengar bersamaan dengan kabar bahwa salah satu maestro pedalangan Yogyakarta, Ki Seno Nugroho, meninggal pada Selasa, 3 November 2020 pukul 23:30.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ki Seno Nugroho adalah salah satu alasan saya rela begadang hampir setiap malam dengan mengeluarkan kuota untuk menonton pagelaran wayang yang beliau tampilkan. Sosok yang humoris, namun mengerti kadar guyon yang tepat adalah salah satu alasan saya menempatkan beliau sebagai salah satu idola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, tindaknya Ki Seno Nugroho adalah kehilangan besar bagi pedalangan Indonesia, khususnya Yogyakarta. Banyak jasa beliau semasa mengabdi di bidang seni yang banyak memengaruhi perkembangan pewayangan di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut sepengetahuan saya, Ki Seno Nugroho adalah dalang yang ikut memelopori penyiaran pagelaran wayang kulit melalui live streaming YouTube. Beliau adalah dalang yang jeli dalam menggunakan teknologi. Tercatat kanal milik beliau, <\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UCHNQcvuYixP35Cf3tLb83pA\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalang Seno<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, kini memiliki sekitar 450 ribu subscriber.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal teknik pedalangan, Ki Seno Nugroho bagi saya termasuk dalang top. Suluk yang merdu, antawecana<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">(tata dialog tokoh wayang) yang on point, sabetan perang yang terampil adalah bukti bahwa beliau seorang maestro. Tata iringan karawitan juga salah satu yang terbaik bagi saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau menjadi idola masyarakat dengan tokoh Bagongnya. Ketika Ki Seno Nugroho menampilkan tokoh Bagong, maka tokoh Bagong tersebut akan terasa hidup dan banyolan yang dikeluarkan akan memecah suasana menjadi lebih ceria dan menghibur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ki Seno Nugroho juga seorang dalang yang bisa bergaya modern tanpa meninggalkan pakem tradisi pewayangan. Dalam beberapa kesempatan, beliau memasukkan banyolan yang relatable dengan generasi millenial. Werkudara selfie, Bagong memakai headset, dan berbagai macam banyolan beliau yang segar dan dapat dipahami oleh segala kalangan menunjukan bahwa beliau memiliki sense of humor yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lakon wayang yang beliau pentaskan pun sebagian besar menonjolkan tokoh punakawan sebagai bintang utama. Tercatat beberapa lakon seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semar mbangun Kahyangan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagong Mbangun Desa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagong Gugat, Petruk dadi Ratu, Gareng Mantu,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan beberapa cerita lainnya banyak mendapat apresiasi dari masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi pandemi pun Ki Seno Nugroho-lah yang memiliki ide menggelar wayang virtual. Beliau terinspirasi dari pengalamannya ketika mendalang di luar negeri dengan personil wiyaga dan waranggana<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">terbatas. Inspirasi tersebutlah yang mendasari diadakannya \u201cWayang Climen\u201d yang ditujukan supaya para seniman yang ndherek mengabdi beliau dapat tetap berkarya dan memiliki penghasilan walaupun pada masa pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan konsep pagelaran padat selama dua sampai tiga jam dan dengan personil waranggana plus wiyaga<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">yang tak sebanyak pagelaran regular, membuat pagelaran ini dapat mengobati rasa rindu khalayak ramai akan pementasan wayang kulit. Pagelaran pun tetap seru untuk dinikmati walau tak sepanjang durasi pagelaran regular.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu yang lalu, pada akhir Agustus, beliau genap berusia 48 tahun. Pada kesempatan itu beliau menyaksikan putra keduanya, Gadhing Pawukir dan Nizar (Gadhang Panjalu) mementaskan wayang selama 1 jam. Di situ beliau menangis bahagia karena keduanya akhirnya mau meneruskan perjuangan Ki Seno Nugroho dalam mengabdi di dunia seni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tangisan bahagianya membuat Ki Seno Nugroho yakin bahwa di masa depan akan ada penerus dinasti dalang dari keturunannya. Ki Seno Nugroho sendiri juga termasuk keturunan dalang. Beliau adalah anak dari Ki Suparman, salah satu maestro pedalangan pada masanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ki Seno juga sering menceritakan bahwa beliau dulu tidak berminat menjadi dalang, namun seiring berjalannya waktu, beliau mau meneruskan pengabdian ayahnya di dunia seni dengan menjadi dalang saat masih remaja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini Ki Seno Nugroho telah kondur ing kasedan jati. Tak akan ada lagi guyonan khas dari beliau yang akan menemani malam panjang para penggemar wayang. Tak akan ada lagi Bagong yang hadir dengan kenakalan dan kekocakannya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sugeng tindak, kanjenge Njodhipati, sugeng tindak pak Eno, sugeng tindak den mase Tunggul Pawenang, sugeng tindak maestro pedhalangan Ngayogjakarta, mugya tentrem wonten swarga langgeng\u2026.<\/span><\/i><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/kisenonugroho\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@kisenonugroho<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cech-turun-gunung-dan-kiper-chelsea-yang-makin-linglung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Cech Turun Gunung dan Kiper Chelsea yang Makin Linglung<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/bimo-suryo-kumoro\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bimo Suryo Kumoro<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kini Ki Seno Nugroho telah kondur ing kasedan jati. Tak akan ada lagi guyonan khas beliau yang akan menemani para penggemar wayang.<\/p>\n","protected":false},"author":924,"featured_media":87008,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,8],"tags":[8867,8108],"class_list":["post-86971","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-featured","tag-dalang","tag-wayang"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/924"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86971"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86971\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87008"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}