{"id":86943,"date":"2020-11-06T07:34:20","date_gmt":"2020-11-06T00:34:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86943"},"modified":"2020-11-04T20:28:08","modified_gmt":"2020-11-04T13:28:08","slug":"saya-ngobrol-serius-dengan-emak-kenapa-bisa-kecanduan-banget-sama-sinetron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-ngobrol-serius-dengan-emak-kenapa-bisa-kecanduan-banget-sama-sinetron\/","title":{"rendered":"Saya Ngobrol Serius dengan Emak Kenapa Bisa Kecanduan Banget sama Sinetron"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penguasa remote TV di malam hari adalah emak saya. Dari zaman saya kecil sampe segede ini, doi hobi banget nonton sinetron dan bakal ngomel-ngomel kalau saya ganti salurannya. Bahkan, pas iklan sekalipun nggak boleh dipindah. Iya, seposesif itu doi sama sinetron.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, emak saya nggak demen sinetron azab. Doi juga nggak demen sinetron pendekar-pendekar. Doi juga nggak suka yang religi-religi maupun yang lucu-lucuan kayak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Preman Pensiun.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kalau ada paten seperti apa sinetron yang didemenin banget sama emak, ya pokoknya yang cinta-cintaan gitu, lah. Dulu sih gampang nentuinnya, pokoknya kalau ada Dude Herlino, Naysila Mirdad, atau Alyssa Soebandono, doi pasti bakal demen tuh sinetron. Sekarang ketika ketiga pesinetron kondang itu mulai jarang nongol di TV, saya jadi susah mengetahui secara pasti sinetron seperti apa yang doi suka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu malam saat saya pulang kampung, emak saya lagi nonton sinetron<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Dari Jendela SMP<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Doi terlihat seneng banget sama sinetron itu. Terbukti dari beberapa kali ia kedapatan mengomentari adegan-adegannya. Pokoknya kalau udah mulai ngomentarin adegan, pasti sinetron tersebut disukai emak saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah satu episode sinetron<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Dari Jendela SMP<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kelar, ternyata emak saya masih bertahan dan nungguin sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Iya, sinetron yang alih-alih kayak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">High School Musical<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Camp Rock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karena ada unsur &#8220;band&#8221; di judulnya, tapi malah cinta-cintaan mulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Woy, anak band kan kudunya jamming seru gitu, atau seenggaknya nyanyi-nyanyi kek, itu kok malah drama-drama? Lagian Stefan William nggak keliatan kayak anak band, lebih mirip Boy dari sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Jalanan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang saya lupa diperanin siapa. Seenggaknya, tampilan anak band itu kurang lebih kayak Mas Iqbal AR, penulis Terminal Mojok yang gondrong itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, mari balik soal emak saya. Lantaran iseng, saya memutuskan ngobrol dan tanya alasan kenapa doi kecanduan banget sama sinetron. Dan sinetron seperti apa yang bakal doi tonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sembari klekaran di amben doi menjawab, &#8220;Yang penting pemerannya ganteng-ganteng.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waduh, tidak saya duga sama sekali jawaban tersebut. Lantas saya mencoba mengulik lebih jauh, &#8220;Soal cerita sinetronnya sendiri gimana, Mak?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ceritanya ya rata-rata gitu saja. Yang penting pemerannya. Cerita, sih, nomor sekian.&#8221; Doi mengambil pisang rebus dan memakannya sambil nungguin jeda iklan berakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Apabila dibandingkan dengan sinetron zaman dulu, bagaimana kualitas sinetron masa kini?&#8221; Saya merasa emak saya kudunya ngerti hal-hal kayak gitu, wong doi sudah menonton sinetron sejak dahulu kala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lha embuh!&#8221; jawabnya dan bikin saya syok. Ternyata doi nggak tahu atau kayaknya nggak peduli tentang kualitas sinetron yang ditontonnya. &#8220;Yang penting pemerannya.&#8221; Sekali lagi itu yang ditegaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Memangnya tahu siapa pemeran sinetronnya?&#8221; Saya penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Itu Stepen Williem sama Natasya Wilona. Mereka kan sudah sering main bareng dan sinetron yang dibintangi mereka bagus-bagus.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Definisi bagus itu gimana, Mak?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ya yang dibintangi mereka. Koe ki mudeng ra, toh?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asem, muter-muter doang obrolan saya dengan emak soal sinetron. Sampai akhirnya saya punya pertanyaan lain, &#8220;Lah, sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Jendela SMP<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kan yang main bukan Stefan William sama Natasha Wilona, Mak?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lha iya emang bukan. Koe ki piye, toh?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asem, bukan gitu maksud saya. &#8220;Lah tadi kan katanya nonton karena pemerannya Stefan William sama Natasha Wilona. Lah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Jendela SMP<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kan bukan mereka berdua, kenapa emak tetep nonton?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Koe ki cen ra mudengan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu bintangnya Stepen Wiliem sama Natasya Wilona, kalau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Jendela SMP<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah itu sih saya juga tau. Lama-lama mangkel juga ngobrol sama emak kalau gitu caranya. &#8220;Terus kenapa emak suka nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Jendela SMP<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Soalnya sekolah-sekolah. Dari dulu kan emang suka sinetron yang anak sekolahan gitu.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya. Itu adalah bagian yang dulu saya ingat betul dan entah bagaimana kelupaan. Emak saya emang seneng banget kalau ada sinetron yang ceritanya tentang anak sekolahan. Salah satu alasannya adalah karena emak saya nggak pernah ngerasain yang namanya SMP. SD saja emak saya nggak tamat, sama seperti semua emak-emak di kampung saya. Jadi, melihat sinetron yang ceritanya berkisar anak sekolahan, emak saya pasti membayangkan seperti apa rasanya sekolah di SMP dan SMA. Saya, yang sekolah sampai Universitas, barangkali nggak bisa bayangin seperti apa perasaan emak saya yang seumur hidupnya hanya bisa berandai-andai seperti apa rasanya sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun, cerita cinta di sinetron yang saya rasa aneh banget itu, mungkin tetap luar biasa di mata emak. Soalnya emak memang nggak punya pengalaman romansa seperti yang ada di sinetron-sinetron. Saya, yang bisa pacaran ke mal, nongkrong di kedai kopi, kehujanan bareng di motor, mana boleh menghakimi kesenangan emak saya itu? Jadi ya, meski saya nggak suka sinetron, mulai sekarang saya nggak bakal sewot lagi apabila emak menghabiskan waktu berjam-jam nontonin sinetron. Ah, kenapa saya malah jadi melankolis?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa saya sadari, selama saya merenung panjang tadi, sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Anak Band <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sudah berakhir. &#8220;Saya pindah ya, Mak!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;JANGAN!&#8221; samber emak saya. &#8220;Masih ada satu sinetron lagi!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/serigala-terakhir-the-series-film-aksi-yang-malah-lebih-mirip-sinetron\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Serigala Terakhir The Series: Film Aksi yang Malah Lebih Mirip Sinetron!<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/riyanto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Riyanto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><em>di sini.<\/em><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya memutuskan ngobrol dan tanya alasan kenapa emak kecanduan banget sama sinetron. Dan sinetron seperti apa yang bakal doi tonton.<\/p>\n","protected":false},"author":702,"featured_media":87220,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1134],"class_list":["post-86943","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-sinetron"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86943","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/702"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86943"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86943\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87220"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86943"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86943"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86943"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}