{"id":86749,"date":"2020-11-05T06:30:15","date_gmt":"2020-11-04T23:30:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86749"},"modified":"2020-11-05T01:32:37","modified_gmt":"2020-11-04T18:32:37","slug":"3-pertanyaan-dan-nasihat-menjengkelkan-bagi-para-wanita-single","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pertanyaan-dan-nasihat-menjengkelkan-bagi-para-wanita-single\/","title":{"rendered":"3 Pertanyaan dan Nasihat yang Menjengkelkan bagi para Wanita Single"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kenal beberapa teman wanita yang menjelang atau telah memasuki kepala tiga dan belum menikah. Mereka ini sebagian besar sudah bekerja dan berpendidikan tinggi. Sudah bisa dikategorikan mapan dan cukup secara finansial. Saya melihat mereka terbagi dalam dua kubu. Kubu pertama adalah kelompok yang bisa lepas dari tekanan sosial dan yang kedua adalah kelompok yang tenggelam dalam tekanan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti biasa dan tentu saja sudah bisa ditebak, warga +62 memiliki rasa \u201ckepedulian\u201d yang maha besar terhadap nasib sesamanya. Tidak terkecuali pada para wanita single tadi. Tidak pernah absen bertanya &#8220;kapan nikah?&#8221;, seolah sudah menjadi pertanyaan wajib saat bertemu. Belum lagi bumbu-bumbu nasihat seperti &#8220;jangan terlalu memilih&#8221; atau &#8220;makanya sekolah jangan terlalu tinggi&#8221; yang sama sekali tidak solutip kata bu Tedjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kelompok pertama, pertanyaan dan \u201cnasihat\u201d di atas seringkali tidak diambil hati. Mereka bahagia menikmati ke-single-an mereka. Kalau saya ibaratkan, mereka inilah kelompok yang ada dalam syair lagu Oppie Andaresta: \u201c&#8230; I am single and very happy\u2026\u201d Hemat saya, kita tidak perlu usik mereka dalam tulisan ini. Mereka sudah bahagia kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi bagi kelompok kedua, bentuk \u201ckepedulian\u201d tadi sering menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan cenderung memancing kesedihan. Mari kita lihat satu per satu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Pertama, &#8220;kapan nikah?&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seriously, pertanyaan ini adalah pertanyaan latah yang paling aneh menurut saya. Sudah hampir bisa dipastikan, para wanita single tidak tahu kapan mereka akan menikah. Kalaupun mereka tahu, pastilah kita sudah dikirimi undangan kan? Atau paling tidak, gelagat mereka akan menikah sudah bisa kita endus dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">story<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mereka di IG atau sosmed lain. Jaman sekarang, siapa sih yang ga pamer kebahagiaan di sosmed? Dan lagi, siapa sih yang ga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mantengin<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">story<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> orang? Mayoritas dari kita melakukannya kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah umum kita melihat cara anak jaman now mengekspresikan romantisme mereka di media sosial. misalnya dengan mengunggah foto berdua, deklarasi \u201cin relationship\u201d pada bagian status, atau yang lebih ekstrem lagi, membagikan percakapan mesra mereka pada khalayak ramai. Seperti ahli nujum yang melongok ke kaca benggala, kita akan dengan mudah tahu apakah seseorang sudah punya pacar baru atau belum, apakah ia sedang bucin atau tidak, termasuk juga apakah seseorang sudah mendekati pernikahan atau belum, hanya dengan melihat sosmed teman kita tadi. Jadi, kalau kita belum mengendus bau katering, tenda pesta dan dekor mahligai, untuk apa lagi bertanya &#8220;kapan kawin&#8221;, heh?<\/span><\/p>\n<h4><b>Kedua, &#8220;jangan terlalu memilih&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benarkah seorang wanita single yang terlalu memilih tidak akan dapat jodoh? Tidak ada yang tau jawabannya. Tapi, sebagai orang yang sudah menikah, saya bisa menasihati bahwa kita wajib memilih orang yang akan menjadi pasangan kita. Kita akan hidup bersama orang tersebut, makan, tidur, berdiskusi, dan juga membesarkan anak dengannya. Akan banyak keputusan-keputusan besar dalam hidup yang akan kita buat dengan dia. Bagaimana mungkin kita tidak wajib memilih orang yang akan mengisi kehidupan kita sedangkan untuk sekedar membeli bawang dan cabai di pasar saja kita seleksi satu per satu mana yang layak untuk masuk ke kantong kresek?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangkan kalau kita menikah dengan orang yang menginginkan kita menjadi ibu rumah tangga, padahal kita ingin bekerja? Apa jadinya kalau kita menikah dengan orang yang percaya bahwa banyak anak banyak rezeki, sedangkan kita tahu bahwa kita bukan tipe ibu idaman? Bagaimana jika ia berprinsip bahwa pekerjaanlah yang utama, keluarga sesudahnya, sedangkan kita berdiri di seberang premis tersebut? Bagaimana kalau ternyata pasangan kita adalah tim bubur diaduk, sedangkan kita adalah tim bubur dipisah? Saya pikir pertanyaan-pertanyaan di atas sudah cukup menunjukkan betapa pentingnya memilih pasangan bukan?<\/span><\/p>\n<h4><b>Terakhir, &#8220;makanya jangan sekolah tinggi&#8221;<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya ini bukan nasihat, ini penyesatan. Di masyarakat kita, ada kepercayaan bahwa wanita yang sekolah tinggi sulit dapat jodoh. Penyebabnya adalah laki-laki tidak suka pada wanita yang lebih pintar, lebih tinggi sekolah, lebih besar gaji, dan lebih yang lain-lain dari dirinya. Mungkin memang, di jaman yang katanya sudah maju ini, masih ada jenis laki-laki seperti yang disebutkan tadi (ampun Gusti!). Kita tidak perlu mempersoalkan kaum adam jenis ini karena jelas mereka bukan segmen wanita single yang mandiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalaupun mereka tidak mau menikah dengan wanita pintar karena takut maskulinitasnya akan terkompromi, itu artinya dia tidak cukup tangguh menghadapi ego dirinya. Kalaupun mereka menikah, wanitanya akan disibukkan dengan agenda menjaga perasaan laki-laki agar tidak terluka, padahal tidak ada pihak yang sedang menyakitinya. Laki-laki jenis ini sedang terluka oleh dirinya sendiri, dan, saran saya, wanita tidak perlu menanggung beban untuk selalu menyuap egonya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi bagi saya permasalahannya bukan pada wanita yang sekolah tinggi. Tapi, lebih pada masyarakat kita yang terus mendukung teori bahwa laki-laki harus &#8220;lebih&#8221; dari wanitanya, dan terus menurunkan mantra tersebut pada generasi selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Andai saya yang single, tentu saya risih jika dihadapkan pada pertanyaan dan \u201cnasihat\u201d di atas. Para kaum berisik ini biasanya boro-boro mau ikut patungan catering, membantu mencarikan pacarpun tidak. Rasanya respon yang pas adalah pura-pura bilang \u201ceh, di pipi loe ada nyamuk\u201d. Plak! Gampar saja.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/vaksin-covid-19-butuh-waktu-lama-untuk-dibuat-penjelasan-sederhana\/\"><b>Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Lama untuk Dibuat: Penjelasan Sederhana<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wanita single di Indonesia kerap jadi sasaran pertanyaan dan nasihat tak penting macam kapan menikah dan jangan terlalu memilih.<\/p>\n","protected":false},"author":1126,"featured_media":87151,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[175,365,9398],"class_list":["post-86749","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pendidikan","tag-pernikahan","tag-wanita-single"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86749","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1126"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86749"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86749\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87151"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86749"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86749"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86749"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}