{"id":86748,"date":"2020-11-05T07:31:08","date_gmt":"2020-11-05T00:31:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86748"},"modified":"2021-10-15T20:57:58","modified_gmt":"2021-10-15T13:57:58","slug":"jangan-syok-ini-solusi-saat-nasi-kotak-di-kereta-menyentuh-harga-45-ribu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-syok-ini-solusi-saat-nasi-kotak-di-kereta-menyentuh-harga-45-ribu\/","title":{"rendered":"Jangan Syok, Ini Solusi Saat Nasi Kotak di Kereta Menyentuh Harga 45 Ribu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat saya membuka #PTKAI di Twitter, lewat sebuah sambatan seseorang perihal komplain harga nasi kotakan yang ia beli di dalam kereta. Katanya harganya cukup mahal yakni Rp45 ribu. Dalam hati saya, \u201cWah, udah hampir Rp50 ribu aja, nih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu argumennya yang menganggap harga nasi tersebut mahal adalah karena nasi itu dijual di kereta api ekonomi. Yang mana harga tiketnya sendiri hanya dibanderol Rp80 ribu. Spontan akun tersebut syok kali ya, gara-gara harga nasinya lebih dari setengah harga tiket satu kali jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga nasi tersebut lumayan berbeda dengan pengalaman saya dua kali ke Jogja kisaran satu-dua tahun lalu. Jadi, dari Jogja-Bandung, saya pilih untuk menggunakan kereta yang sama dengan si empu akun Twitter di atas: sama-sama pakai Kahuripan. Dan di tahun tersebut, harga seporsi nasi di Kahuripan hanya kisaran Rp30 ribu-Rp35 ribu. Jika dibandingkan dengan saat ini yang katanya sudah mundak jadi Rp45 ribu, ya\u2026 memang bisa dibilang mahal, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana saya nggak mau bilang mahal. Wong, waktu harganya masih Rp30 ribuan aja, saya nggak pernah beli, kok. Karena mikirnya duit segitu lumayan kalau dijajanin hal yang lain, bakal dapet banyak. Tapi ya\u2026 kebutuhan orang kan beda-beda. Dan mahal tidaknya nasi Rp45 ribu tersebut juga menjadi barang relatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi harga segitu ya memang mahal. Wong namanya juga harga di perjalanan. Air mineral yang Rp3 ribuan aja bisa jadi Rp6 ribu sampai Rp10 ribu. Saya yang duitnya pas-pasan ya seringnya cuma bisa dibikin maklum dan\u2026 cerdas tentunya. Hiyahiyahiya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak cara menyiasati harga makanan kereta yang \u201cmahal\u201d tersebut agar tidak mentung batinmu. Sini saya beri solusinya ketika kamu terlalu syok mendengar nasi kotak kereta yang nyentuh harga Rp45 ribu.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> pastikan bertanya dulu sebelum membeli. Kalau malu buat langsung ke gerbong resto, kamu bisa nanya ke attendant yang hilir mudik nawarin apa aja. Kalau di Kahuripan setahu saya mereka nawarin sewa bantal, Pop Mie, air, juga nasi kotakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada malu pas tau harganya mihil tapi sudah kadung nyampe gerbong resto, mending tanya aja attendant yang bolak-balik. Syukur-syukur harganya balik turun maning.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> bawa bekel. Hal ini jauh lebih baik untukmu, ketimbang beli nasi kotakan di kereta tapi ujung-ujungnya nggrutu. Nggak baik. Takut nanti fesesnya ikutan keras seperti hatimu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa kali kesempatan naik kereta, saya nggak pernah beli apa pun di dalam kereta. Soalnya saya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">miskin<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> selalu bawa bekel.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah, bekel ya ribet.\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekel itu ya nggak melulu kudu nasi, lauk ayam, pepes tahu, rendang, ketupat sayur. Nggak, nggak gitu. Kamu bisa bawa cemilan atau apa pun yang penting lapermu beres. Tapi perlu diingat, bawalah bekel yang kira-kira tahan \u201clama\u201d sehingga bisa tetap enak dimakan kapan aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu saya sempet ngebekel buat perjalanan menuju Jogja. Karena keretanya berangkat Magrib dan kebetulan saya sudah makan nasi pakai gorengan sebelumnya, saya bawa bekel gorengan sisa makan sore itu. Pasalnya, saya nggak bakal laper-laper banget. Dari Isya tidur, tengah malemnya saya kebangun. Laper. Saya ambil gorengan dari tas. Pas dibuka, mambuneee\u2026.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gorengannya udah keburu apek, Gaes. Ya maklum, namanya juga gorengan siang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buru-buru saya ambil gorengannya secuil buat ganjel laper. Selepas itu, saya iket rapet-rapet lagi kresek gorengannya. Takut kanan-kiri-depan-belakang saya kebangun gara-gara baunya yang udah tengik banget. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> beli Pop Mie. Kalau kamu terlanjur lapar, tidak membawa bekal, tapi tahu bahwa harga nasi kereta kemahalan. Wes nggak usah kakehan mikir. Sikat ae Pop Mie. Meskipun kamu tau harga Pop Mie mentah di warung cuma Rp5 ribu sedangkan di kereta bisa jadi Rp10 ribu sampai Rp15 ribu, Pop Mie jelas lebih mungkin dibeli ketimbang nasi kotak yang harganya menjulang tinggi seperti anganku bersamanya.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Keempat,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> ambil tawaran emak-emak. Yang ini sih, opsi paling nganu. Tapi bener, dah. Di Kereta Kahuripan, paguyuban penumpangnya itu masih tinggi sekali. Pasalnya, Kereta Kahuripan ini nggak jarang diisi oleh orang tua desa dan orang baik lainnya. Ajigileee.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya beberapa kali sempat duduk di samping dan depan ibu-ibu. Meskipun biasanya rada rempong, tapi ibu-ibu itu baik. Kami saling sapa, tanya pergi ke mana, masih sekolah atau udah kerja, pacarnya siapa, dan ngobrolin banyak hal (meskipun saya lebih iya-iyain aja ketimbang cerita balik). Durasi obrolan pun bervariatif. Kadang sebentar, kadang lumayan lama. Nah kalau lama begini nih, biasanya saya bisa nyampe ke momen di mana ibunya haus. Kalau udah haus, biasanya nggak cuma air doang yang dikeluarin, tapi juga beserta jajan-jajanannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merasa sudah terjalin kedekatan singkat yang hangat, sambil nyodorin jajanannya, si ibu bilang, \u201cNeng, hayu ini diambil, Neng. Ini mah jajanan cuma ada di kampung ibu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, selama membeli nasi kotak kereta adalah opsi, harusnya sih nggak perlu banget-banget dibikin pusing.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengamati-perilaku-penumpang-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Mengamati Perilaku Penumpang Kereta Api<\/strong><\/a> <b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nuriel-shiami-indiraphasa\/\"><b>Nuriel Shiami Indiraphasa<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak cara menyiasati harga makanan kereta yang \u201cmahal\u201d tersebut agar tidak mentung batinmu. Sini saya beri solusinya.<\/p>\n","protected":false},"author":825,"featured_media":86922,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[214,9386],"class_list":["post-86748","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kereta","tag-nasi-kotak"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86748","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/825"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86748"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86748\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86748"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86748"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86748"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}