{"id":86658,"date":"2020-11-04T07:35:57","date_gmt":"2020-11-04T00:35:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86658"},"modified":"2020-11-02T21:33:14","modified_gmt":"2020-11-02T14:33:14","slug":"jangan-coba-coba-punya-isian-demit-di-badan-rasanya-nggak-enak-banget","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-coba-coba-punya-isian-demit-di-badan-rasanya-nggak-enak-banget\/","title":{"rendered":"Jangan Coba-coba Punya Isian Demit, di Badan Rasanya Nggak Enak Banget!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan Mas Riyanto berjudul <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-hobi-tawuran-anak-anak-di-stm-saya-dulu-juga-hobi-pelihara-demit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Selain Hobi Tawuran, Anak-anak di STM Saya Dulu Juga Hobi Pelihara Demit<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> rasanya relate banget sama apa yang pernah saya alami dulu. Soalnya, sewaktu kelas dua SMA, memelihara demit\u2014atau istilah lainnya punya \u201cisian\u201d\u2014memang jadi tren tersendiri bagi anak-anak di SMA saya. Dan kebetulan saya adalah salah satu dari yang punya isian itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pas masih polos-polosnya di kelas satu, saya sebenernya sama sekali nggak tertarik sama urusan ginian. Daripada mainin setan, mending mainin<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0bola futsal. Pikir saya waktu itu. Pasalnya, waktu itu saya lagi gandrung-gandrungnya tanding futsal antar kelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru di kelas dua, lebih tepatnya ketika saya menjabat jadi Wakil Ketua OSIS, tiba-tiba saja saya jadi kepincut buat ikut-ikutan melihara demit. Urusan gengsi, Bro!<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, separuh anak OSIS cowok ternyata sudah pada punya isian. Nah, biasanya mereka-mereka ini sering turun tangan kalau di sekolah ada kesurupan massal. Akhirnya mereka jadi kayak pahlawan gitu, lah.Kayak keren banget gitu ngelihat mereka baca-baca doa, ambil nafas, terus tangannya nunjuk-nunjuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau misalnya OSIS harus nyiapin acara malem-malem. Lantaran gedung sekolahan saya itu angker, biasanya mereka punya job khusus buat menetralisir keadaan: menjaga anak-anak yang lain dari gangguan-gangguan demit. Jadi kelihatan kayak berkorban banyak gitu lah buat anak-anak OSIS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan berkat kemampuan seperti itulah mereka jadi lebih disegani anak-anak lain. Ya saya sebaga atasan, ehem, ngiri dong, Buosss. Masa kalah wibawa sama anak buahnya?<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, ngelihat betapa sangarnya mereka yang punya isian, saya jelas sangat-sangat iri. Pasalnya, mereka ini kayak nggak punya takut kalau ditantang berantem sama siapapun. Semuanya diladenin karena kalau berantem mereka pasti dibantu sama demit peliharaannya. Entah itu siluman macan, pendekar, dsb.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehinnga, kalau misalnya ada orang yang gangguin temennya, lebih-lebih ceweknya, mereka yang punya isian ini bisa pasang badan, tampil di garda depan kalau terpaksa harus tawuran. Lagi-lagi, saya nggak bisa nggak iri. Jadi lelaki ringkih dan nggak punya mental baja kayak gitu bagi saya sungguh memalukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih menohok, biasanya kalau mereka mau ada duel sama anak sekolah lain, mustahil saya diajak serta. Dan saya sungguh menyadari kondisi saya yang walaupun diajak toh paling-paling malah jadi samsat. Mungkin ini kali yang bikin saya sering ditolak kalau nembak cewek. Jaga diri sendiri aja nggak becus, mana sanggup melindungi pujaan hati?<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, lebih karena buat keren-kerenan saja, sih. Karena dulu itu anak-anak OSIS yang pada melihara demit sering bikin ekspedisi tiap malem Jumat. Entah di kuburan, sekolahan, atau tempat-tempat wingit lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngelihat demit peliharaan mereka keluar dan mengambil alih (merasuki) kesadaran si tuannya, bagi saya bener-bener keren. Apalagi pas si demit sudah mulai cerita ngelantur soal kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara. Dan bertambah seru karena biasanya si demit ini bakal ngobrak-abrik tempat yang dihuni oleh setan-setan kelas rendahan (kayak kuntilanak, pocong, genderuwo, dst). Biasanya si demit juga bisa disuruh untuk mendeteksi barang hilang atau sekadar meneror musuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran sudah iri maksimal, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti sebuah perguruan tenaga dalam. Dan setelah beberapa kali ikut latihan, menjalani puasa dan beberapa laku tirakat lainnya, akhirnya saya punya isian saya sendiri (jenisnya rahasia, ya, hehehe).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, alih-alih seneng karena saya sudah setara dengan temen-temen yang sama-sama punya, jujur punya isian ternyata nggak enak banget. Bukannya jadi pelindung dari musibah, eh malah jadi musibah itu sendiri, seperti yang dibilang Mas Riyanto. Pasalnya, setelah melihara ini demit, saya jadi sering ngerasain hal yang aneh.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, emosi nggak pernah stabil. Mungkin karena sudah ngerasa aman punya pengawal kali ya, akhirnya saya jadi orang yang songong banget. Tersinggung dikit gitu nggak bisa. Pokoknya kalau ada ucapan temen yang nyinggung\u2014entah niatnya serius atau bercanda\u2014saya pasti langsung nyolot dan ngajakin baku hantam. Sudah nggak urusan dia temen atau nggak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya setelah punya peliharaan demit ini, hati saya jadi lebih sering sumpek dan bawaannya pengin ngamuk terus. Sekalinya dibikin emosi, wuh jangan tanya, barang-barang di depan mata bisa hancur jadi sasaran. Saya juga jadi orang yang cenderung suka main tangan. Kayak misalnya kalau lagi cekcok sama adik saya, pasti dia jadi sasaran pukul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan gara-gara sikap saya yang kayak gini, saya akhirnya dijauhin sama temen-temen. Jelas ini semua gara-gara isian dalam tubuh saya. Secara, kata guru perguruan yang saya ikuti, sosok yang ada di dalam tubuh saya tipikalnya memang kasar dan emosian. Wooo, ya pantes saja kalau gitu.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, badan sering terasa sakit semua. Hal ini biasanya terjadi kalau saya lagi berada di tempat-tempat yang memang nggak cocok sama demit yang saya pelihara. Sialnya, tempat-tempat yang dia nggak suka adalah tempat-tempat yang berhubungan sama hal-hal relijius. Katakanlah musala atau pesantren gitu. Sementara waktu itu kan saya tinggal di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asli, tiap kali saya masuk musala atau pas lagi di pesantren, badan rasaya sakit semua. Lebih-lebih bagian bahu, waduh rasanya berat dan panas banget.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, rasanya kayak males banget buat ibadah. Ya gimana mau ibadah, ha wong cuma diem di pesantren atau musala aja badan auto sakit dan panas, og. Akhirnya memang kegiatan ibadah saya waktu di pesantren dulu agak sedikit terganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, waktu lagi ngaji kitab, baca Alquran, atau sekadar salat berjamaah, hawa tubuh rasanya jadi panas banget dan bahu saya rasanya kayak dikasih beban berat gitu. Sialnya lagi, jadwal ngaji di pesantren saya itu padat merayap. Jadi bisa dipastikan, hampir setiap saat saya ngerasa tersiksa banget dengan apa yang badan saya rasakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ujung-ujungnya, karena sudah nggak tahan, akhirnya saya sering bolos dari kegiatan pesantren. Saking seringnya bolos, saya bahkan pernah terancam mau dikeluarin sama Abah Yai. Parah memang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah rangkaian kejadian itu, saya pun memutuskan untuk mengeluarkan isian ini dari tubuh saya. Awalnya sih berat. Sebab, kalau dilepas, itu artinya saya bisa kehilangan kegagahan yang baru saja saya dapat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, ah ya sudahlah. Sepertinya benar apa kata Ernest Prakasa (melalui film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Imperfect<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), \u201cKita boleh ngejar apa yang kita mau. Tapi pada saat bersamaan, kita juga bisa kehilangan apa yang sudah kita miliki.\u201d Dan saya nyesel banget sudah kehilangan temen-temen deket dan kedekatan sama adik saya yang merenggang gara-gara sering saya jadikan sasaran emosi. Jadi, jangan coba-coba, deh!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jejak-hitam-sultan-agung-dalam-penaklukan-giri-kedaton\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jejak Hitam Sultan Agung dalam Penaklukan Giri Kedaton<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/aly-reza\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Aly Reza<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di kelas dua SMA, saya jadi kepincut buat ikut-ikutan melihara demit kayak teman-teman yang lain. Urusan gengsi, Bro!<\/p>\n","protected":false},"author":540,"featured_media":86760,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[9374,9333,1329],"class_list":["post-86658","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-badan","tag-demit","tag-mistis"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/540"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86658"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86658\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}