{"id":86373,"date":"2020-11-02T12:49:42","date_gmt":"2020-11-02T05:49:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86373"},"modified":"2021-08-13T13:02:24","modified_gmt":"2021-08-13T06:02:24","slug":"black-team-adalah-bagian-terbaik-dalam-episode-masterchef","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/black-team-adalah-bagian-terbaik-dalam-episode-masterchef\/","title":{"rendered":"&#8216;Black Team&#8217; Adalah Bagian Terbaik dalam Episode MasterChef"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak peduli MasterChef itu settingan atau nggak. Baik itu dialog antar peserta yang jadi cutscene sampai olok-olok tiap peserta ketika pressure test. Pun saya nggak peduli dengan Mbak Yuri yang makin ke sini makin banyak gimiknya. Terpenting, arc Black Team dalam MasterChef tidak pernah mengecewakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Black Team ini adalah para peserta yang bisa dikatakan bangkit dari kubur. Black Team adalah kuburan bagi para kuda hitam. Para peserta yang sudah keluar dari gallery, dipanggil lagi untuk mengusik para peserta di posisi 10 atau 12 besar. Ya, kurang lebih seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep ini menarik karena biasanya banyak peserta MasterChef yang &#8220;lebih layak&#8221; tetapi tereliminasi duluan. Pun banyak peserta yang bertahan, hanya modal Dewi fortuna. Peserta yang sudah keluar saja modal brambang bawang, mosok yang bertahan di gallery hanya modal keberuntungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun trending Twitter selalu berkata hal yang senada. Mereka nggak pernah mencicipi makanan para peserta MasterChef, namun (seperti saya) mereka punya penilaian sendiri untuk para peserta. Black Team adalah ajang yang tepat bagi para netizen guna menimang siapa yang pantas masuk (lagi) dan menggantikan peserta yang bertahan di gallery.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari semua itu, konsep Black Team ini layaknya manga bertipikal Shonen. Manga untuk remaja pria yang tiap plotnya (kebanyakan) menampilkan musuh-musuh yang mbois sekali. Katakanlah Espada dalam Bleach, Akatsuki dalam Naruto, Shichibukai dalam One Piece, atau Junikizuki dalam Kimetsu no Yaiba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka adalah musuh-musuh yang menyebalkan, jahat, dan rela melakukan apa saja demi menyingkirkan main-chara. Musuh yang punya karakter kuat, keinginan hebat, pun ngosak-ngasik dalam setiap kesempatan. Namun, di satu sisi, tiap karakter yang dianggap jahat, justru punya ambisi yang nggak bisa dikatakan jahat seutuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akatsuki dalam Naruto misalnya. Kita dibuat penasaran setengah mampus manakala Akatsuki sering kali nongol hanya berupa bayangan. Satu demi satu keluar, tentu kita penasaran kekuatannya bagaimana. Kadang kita dibuat sebal oleh mereka, bawaannya pengin misuh-misuh tiap karakter utama berada di posisi terjepit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di beberapa momen, kadang Akatsuki bikin kita nangis juga. Mereka ini jahat, tapi mereka bisa menjelaskan mengapa mereka berubah menjadi jahat. Kan bajingan ya, di kala kita muntab pengin njotos, di beberapa momen kita dibuat mbrambangi karena Akatsuki ini punya tendensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, saya memandang Black Team itu layaknya Akatsuki, Shichibukai, atau Espada. Mereka ini digambarkan sebagai villain yang siap mencak-mencak para penghuni gallery. Mereka bikin kita membenci tentu saja. Mulai dari kata-kata yang sombong, menyepelekan peserta lain, namun mereka memiliki skill.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namanya sombong itu nggak baik, tapi kalau secara fakta lebih kuat, kajian atas kesombongan sepertinya harus kita dekonstruksi habis-habisan. Pun mereka punya alasan masuk ke Gallery. Mulai dari balas dendam karena dulu &#8220;semasa hidupnya&#8221; pernah dijerumuskan peserta lain sampai eliminasi, atau ajang pembuktian diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Black Team paling ikonik menurut saya adalah MasterChef Season 2. Tahun 2012 silam jika saya nggak salah memperkirakan. Black Team di sana sangatlah solid dan bikin merinding. Bukan merinding karena wingit, tetapi menurut saya &#8220;hawa membunuhnya&#8221; begitu terasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lupa nama-namanya. Jelas yang paling saya ingat adalah Opik dan Baguzt. Opik yang memiliki keterampilan rapi dan eksekusi yang menawan, ditambah Baguzt yang secara persona sudah ngawu-ngawu dan sering mengancam peserta yang masih bertahan di gallery.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di momen ketika Baguzt tersingkir untuk yang kedua kalinya, chef yang dikata paling mencerminkan sosok sempurna seorang pria, Chef Juna, meneteskan air mata. Waduh, Dab, ambyar dunia perdapuran! Bangsatnya, saya malah keinget momen ketika Sasuke dan Itachi bertemu, sebuah kesadaran bahwa Itachi itu nggak jahat seutuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Momen yang sama-sama ikonik. Ini lho, Chef Juna yang bertato dan waktu itu rambutnya masih njegrak garang dan sering mengumpat menggunakan bahasa Inggris. Terus Sasuke yang super wangun. Mereka menangisi &#8220;sosok jahat&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peserta yang lolos dari Black Team dan kembali masuk gallery, menurut saya lebih berkesan kehadirannya. Mereka diperhitungkan, memiliki kemampuan, dan menyingkirkan orang dengan cara yang sporadis. Jyan, MasterChef musim Black Team-nya nggak main-main. Apalagi Ramos yang bukan bek Real Madrid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja kalau MasterChef ini adalah sebuah cerita manga Shonen, Shokugeki no Soma saja bakalan lewat. Juri yang ikonik, Black Team yang mengancam, dan peserta yang diancam. Sungguh kombinasi sempurna. Ya, lagi-lagi, jika tanpa Yuri.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@reneasmussen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rene Asmussen<\/a> via <a href=\"https:\/\/images.pexels.com\/photos\/3217156\/pexels-photo-3217156.jpeg?auto=compress&amp;cs=tinysrgb&amp;dpr=2&amp;h=750&amp;w=1260\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pexels.com<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/megawati-adalah-tokoh-yang-paling-banyak-memberi-sumbangsih-untuk-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Megawati adalah Tokoh yang Paling Banyak Memberi Sumbangsih untuk Indonesia <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Black Team adalah peserta yang &#8220;bangkit dari kubur&#8221;. Konsep ini menarik karena banyak peserta yang &#8220;lebih layak&#8221; tetapi tereliminasi duluan.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":86683,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8931,7143],"class_list":["post-86373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-masterchef-indonesia","tag-program-tv"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86683"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}