{"id":86041,"date":"2020-11-04T06:09:44","date_gmt":"2020-11-03T23:09:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=86041"},"modified":"2020-11-03T17:42:07","modified_gmt":"2020-11-03T10:42:07","slug":"kematian-orang-kaya-yang-dikomentari-harta-tidak-dibawa-mati-itu-ngeselin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kematian-orang-kaya-yang-dikomentari-harta-tidak-dibawa-mati-itu-ngeselin\/","title":{"rendered":"Kematian Orang Kaya yang Dikomentari &#8216;Harta Tidak Dibawa Mati&#8217; Itu Ngeselin"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kematian adalah fenomena alami yang terjadi pada manusia. Kematian sama halnya dengan kehilangan yang dirasa sangat perih terutama bagi keluarga yang ditinggalkan. Hampir setiap hari kita melihat kematian sebagai sebuah wacana realitas dari kehidupan, bahwa kehidupan harus diakhiri dengan sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dukacita adalah sesuatu yang pada akhirnya menjadi respos alami dalam menyikapi berita kematian seseorang. Tetapi, bisa jadi berbeda ketika sedang merespons berita kematian orang terkaya, tentu berita kematian yang kita dapatkan tidak hanya bersumber dari pengumuman masjid setempat atau gereja sekitar. Seringnya masyarakat mengetahui berita itu dari media online dan media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kolom komentar platform media sosial yang menampilkan berita kematian sosok orang terkaya di dunia atau di Indonesia saja misalnya tersaji ratusan tanggapan. Tidak hanya di media sosial, hal itu bisa terjadi di lingkup obrolan pertemanan kita bahkan keluarga kita sendiri. Ketika mengetahui berita kematian orang terkaya tanggapan yang sering dilontarkan adalah menyoroti soal harta yang ditinggalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, respons yang muncul bukan hanya dukacita. Tanggapan itu berwujud semi teori, kurang lebih seperti ini, \u201cHarta tidak dibawa mati\u201d. Loh, harta memang tidak dibawa mati, tapi kalau hidup lalu tidak punya harta itu juga rasanya mau mati, mau ngapa-ngapain susah. Ingatlah ini, uang memang tidak menjamin kebahagiaan, sedangkan punya uang banyak memudahkan kita untuk mengakses kebahagiaan dengan jauh lebih leluasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan berikan alasan mengapa tanggapan tersebut ngeselin, kurang lebih seperti ini. Dengan tanggapan tersebut seolah-olah kita berasumsi bahwa harta yang ia usahakan dengan jerih payahnya itu tidak ada gunanya ketika si orang kaya sudah meninggal dunia. Padahal, tidak demikian. Boleh jadi orang terkaya ini semasa hidupnya punya harta berlimpah yang dengan apa yang ia miliki, ia mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi ribuan bahkan jutaan pengangguran. Ia sudah memberikan kesempatan nafkah bagi karyawan yang dipekerjakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tidak mengetahui keseluruhan hidup orang terkaya, apa yang kita lihat dan apa yang kita ketahui mungkin sebatas pemberitaan di media. Banyak sumbangsih yang sudah diberikan kepada masyarakat luas di sekitarnya yang mungkin tidak kita ketahui. Tidak menutup kemungkinan orang-orang terkaya itu memiliki jiwa sosial yang tinggi dengan cara mendirikan yayasan amal, sosial, atau pendidikan. Dengan harta yang dimiliki, mereka mungkin lebih memilih untuk melakukan empowering dengan menyalurkan dana secara langsung pada yang membutuhkan. Ia bisa jadi memberikannya langsung pada masyarakat tanpa harus menjilat dan mepet-mepet penguasa atau pemerintah untuk melanggengkan kekayaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidakkah kita melihat kematian orang kaya dari sisi tersebut?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pak, Buk, Mas, Mbak, Dik,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">mari melihat dari sudut pandang lain. Harta memang tidak dibawa mati, tapi bagaimanapun harta tersebut telah memberikan manfaat bagi banyak orang. Ketika memiliki harta banyak skala manfaatnya juga bisa lebih luas. Kalau dalam Islam hal itu kan bisa menjadi pahala juga bagi dirinya sekalipun sudah meninggal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanggapan \u201charta tidak dibawa mati\u201d pada orang yang sudah meninggal juga berpengaruh pada mindset kita dalam melihat suatu pekerjaan. Kita bisa menjadi malas dan tidak terlalu giat bekerja karena dalam pikiran sudah tertanam, \u201cNgapain punya harta banyak jika pada akhirnya meninggal dan harta menjadi sia-sia?\u201d Lah bukan begitu, Bund konspenya, bukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam merespons berita kematian hendaknya, kita menyikapinya dengan tiga hal berikut, yaitu mengetahui situasi yang sedang dihadapi, menunjukkan keprihatinan, dan bersikap tulus. Jangan sampai pada situasi yang penuh dukacita kita justru menjadi penasihat kematian spesialis soal harta yang ditinggalkan. Alih-alih menyampaikan rasa kehilangan, kita justru tampak sebagai orang iri yang tidak mampu mencapai harta sebanyak yang pernah didapatkan si mendiang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian orang-orang kaya itu tidak meninggal karena ditenggelamkan atau terkubur hidup-hidup dengan harta mereka sebagaimana yang menimpa Qarun sebab kerakusannya. Justru track record orang terkaya semasa hidupnya itu bisa kita jadikan teladan supaya kita bisa menjadi the next orang kaya yang hartanya tidak akan habis tujuh turunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya kalau mau menyampaikan belasungkawa mbok ya yang tulus. Nggak perlu mengutuki tentang harta yang ditinggalkan. Cukup ambil hikmah saja bahwa kematian memang keniscayaan buat semua orang, termasuk orang kaya. Kehidupan nggak bisa dibeli. Begitulah kira-kira maksudnya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pembelaan-atas-stigma-orang-tua-yang-menyekolahkan-anaknya-di-pondok-pesantren\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pembelaan Atas Stigma Orang Tua yang Menyekolahkan Anaknya di Pondok Pesantren<\/a> dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/hypatia-sabti-abdullah\/\">Hypatia Sabti Abdullah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang mengatakan \u201cHarta tidak dibawa mati\u201d di berita kematian orang kaya. Loh, memang, tapi hidup tak punya harta juga rasanya mau mati.<\/p>\n","protected":false},"author":779,"featured_media":36252,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5395,1680],"class_list":["post-86041","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-belasungkawa","tag-orang-kaya"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/779"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=86041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/86041\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/36252"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=86041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=86041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=86041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}