{"id":85995,"date":"2020-10-30T06:23:34","date_gmt":"2020-10-29T23:23:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=85995"},"modified":"2020-10-29T23:04:09","modified_gmt":"2020-10-29T16:04:09","slug":"surat-cinta-buat-mas-dan-mbak-penonton-konser-yang-suka-peluk-pelukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-cinta-buat-mas-dan-mbak-penonton-konser-yang-suka-peluk-pelukan\/","title":{"rendered":"Surat Cinta buat Mas dan Mbak Penonton Konser yang suka Peluk-pelukan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Izin mini konser di Pilkada Serentak 2020 yang dibatalkan membuat saya masygul bukan kepalang bung. Padahal saat berita itu disampaikan, angin segar nan sepoi sudah sedikit saya rasakan. Namun, semua sirna. Walakin ritus harian pengobat rindu konser dengan berbagai varian dokumen di kanal YouTube kembali jadi solusi. Beberapa konser yang saya saksikan membawa ingatan saya menguar kemana-mana. Apalagi saat melihat dokumentasi Sheila on 7, saya jadi ingat jenis penonton konser yang menyebalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironis tapi, ingatan yang muncul bukan tentang nada dan syair Om Duta dkk.. Tapi, malah menyoal Mas dan Mbak penonton konser di dekat saya yang sedang kasmaran dan menafikkan penonton lain yang sama-sama bayar. Bagaimana saya bisa lupa, coba? Saya ingat betul posisi keduanya di arah jam 10 di depan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemesraan tidak pada tempatnya dan cenderung mengarah kepada hakikat yang merasa dunia ini hanya milik mereka berdua, sementara penonton lain ngontrak. Sebab baru lagu pembuka \u201cMelompat Lebih Tinggi\u201d dinyanyikan, keduanya sudah pada posisi berasyik masyuk saling berpeluk dengan posisi si Mbak di depan dan Masnya di belakang sama-sama menghadap panggung utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Logikanya dengan alunan distorsi gitar Om Eross Candra, ditambah betotan bass Om Adam, sama gebukan drum Om Brian, serta lengkingan vocal Om Duta yaaa harusnya lompat dong ya. Nah ini malahmasih asyik saling memeluk seperti mendengarkan komposisi \u201cF\u00fcr Elise\u201d milik Ludwig van Beethoven. Apa blio itu nggak mempertimbangkan banyak jomblo yang rawuh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu kita dengan mudah bisa menebak, Mas dan Mbak penonton konser yang peluk-pelukan tersebut tidak memiliki sisi humanis kepada sekitar. Saya nggak bisa bayangkan bila Mbak Kalis Mardiasih melihat kejadian itu. Bisa jadi, keduanya akan mendapat kultum tentang banyak hal. Dan Mbak yang pelukan akan dapat maido khasanah perihal urgensi wanita memiliki otoritas atas dirinya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mbak Kalis Mardiasih Mulyadi, sang pemerhati isu perempuan suatu ketika pernah bersabda: \u201cTubuh kita memang milik Allah. Tapi, sudah dititipkan kepada kita dan jadi amanah buat kita. Memastikan tubuhmu selalu sehat dengan memastikan masuknya segala sesuatu yang halal dan thayyib, adalah otoritasmu. Memastikan tubuhmu tidak dilecehkan, tidak ikutan tren yang merusak, dan tidak disakiti, adalah otoritasmu. Memastikan tubuhmu tidak mendapat kekerasan seksual oleh siapa pun adalah otoritasmu. Memastikan tubuhmu aman saat beraktivitas di ruang publik dan ruang privat dengan mendorong penciptaan ruang publik aman untuk semua orang adalah otoritasmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya walau Mas yang meluk mbaknya mungkin bakal punya alibi dengan dalih melindungi si Mbak dari tangan-tangan jahil penonton lain. Tahu sendirilah, kadang di konser-konser besar macam itu, ada aja tangan liar yang menyasar bagian tertentu. \u201cCari kesempatan dalam kesesakan konser\u201d kata seorang teman saya yang pernah jadi pelaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, Mbaknya mau dipeluk, Masnya niat ngelindungi, dan mereka sama-sama ridho. Kenapa saya heboh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, saya bukan lelaki jomblo yang sok dan iri dengan nasib mujur Mas itu lho ya. Saya cuma merasa tidak terima ingatan yang seharusnya tentang Sheila on 7 justru terdistraksi dengan aksi kedua penonton konser yang hingga saat ini masih lekat jelas dalam ingatan alam bawah sadar saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya pelajaran yang bisa dipetik menurut saya hanya satu: kalau mau nonton konser sebisa mungkin hindari posisi di belakang pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran macam ini. Minimal anda bisa menerapkan social distancing dengan penonton seperti itu, minimal lima meter dari TKP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup mudah sekali melihat tipe penonton macam ini. <\/span><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, memakai baju, jaket atau aksesoris lainnya yang kembar (couple). Baju yang digunakan pun bukan yang asal kembar. Tapi ada identitas khusus yang bertautan antar keduanya lho. Bisa yang cowok bertulis \u201cLO\u201d dan si cewek \u201cVE\u201d. Hadah hadaaah.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, gandengannya kaya orang nyebrang di Jalan Malioboro. Konser Sheila on 7 di Universitas Semarang (USM) itu bukan konser pertama yang saya tonton. Sebagai Sheilagank, garis lentur saya selalu menemui pasangan yang saling bergandengan tangan dalam setiap konser Om Duta dkk.. Tapi, pasti deh kalau tipe yang satu ini gandengannya bakal beda, Mypan.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, tidak hafal lagu sama sekali. Alasan ini yang paling sentimentil, entah saya nggak tahu harus ketawa apa nangis. Saat Om Duta dkk nyanyi, penonton lain akan ikut bersenandung. Tapi, kok ya yang dua ini masih di posisi yang sama. Kadang menggerakan bibirnya untuk nyanyi pun selalu terlambat beberapa detik. Kesannya malah kaya dukun yang komat-kamit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah bisa bayangkan, bila konser Sheila on 7 diisi dengan tipe penonton semacam ini. Bisa jadi Om Duta bakal makin keras saat nyanyi \u201cKau harus bisa-bisa berlapang dada, kau harus bisa-bisa ambil hikmahnya,\u201d sambil blio nunjuk saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah pesan ini ditujukan kepada Mas dan Mbak penonton konser sedunia yang suka peluk-pelukan, khususnya di Konser Sheila on 7. Semoga kalian masih bisa \u201cambil hikmahnya\u201d beneran.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-melulu-santet-banyuwangi-juga-gudang-musisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tak Melulu Santet, Banyuwangi Juga Gudang Musisi <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fareh-hariyanto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Fareh Hariyanto<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang a<\/em><em>pa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ironis, ingatan yang muncul bukan tentang serunya konser. Tapi, malah menyoal penonton konser yang sedang kasmaran.<\/p>\n","protected":false},"author":664,"featured_media":15544,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4126,248],"class_list":["post-85995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-konser-musik","tag-musik"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/664"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85995"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85995\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15544"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}