{"id":85867,"date":"2020-10-28T11:30:51","date_gmt":"2020-10-28T04:30:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=85867"},"modified":"2022-01-07T17:01:36","modified_gmt":"2022-01-07T10:01:36","slug":"anime-netflix-bikin-wibu-susah-mendefinisikan-kata-anime-itu-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anime-netflix-bikin-wibu-susah-mendefinisikan-kata-anime-itu-sendiri\/","title":{"rendered":"Anime Netflix Bikin Wibu Susah Mendefinisikan Kata &#8216;Anime&#8217; Itu Sendiri"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedatangan Studio Ghibli dalam jagat dunia anime memang mengambil tempat amat banyak di hati penggemarnya dan kadung paripurna. Tidak hanya kualitas artwork Hayao Miyazaki, cara mereka mengolah seorang tokoh juga patut menjadi acuan. Muncul sebagai \u201cpenantang\u201d Disney, menjadikan Ghibli amat diminati. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada anime lain, Ghibli membuat anime menjadi patut diperhitungkan dalam pangsa pasar dunia. Ini baru anime versi Ghibli, lalu bagaimana dengan anime Netflix?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Muncul pertanyaan di hati para penggemar anime yang begitu prinsip dan syahdu, apa itu \u201canime\u201d? Sebuah pertanyaan yang filosofis sekali. Dirunut dari sejarah anime, perkara ini merupakan masalah terminologi. Berasal dari kata \u201canimation\u201d (atau \u201ccartoon\u201d) yang diucapkan oleh orang Jepang menjadi \u201canime-shon\u201d. Tak ada penjelas karakteristik anime secara mendalam dan resmi. Atau pembeda animasi di luar Jepang dan animasi \u201cproduk asli Jepang\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 1960, dalam masa ngosak-ngasiknya anime di pasaran, muncul sebuah perdebatan menarik. Cikal bakal sebuah perdebatan yang bergulir hingga saat ini. Kasusnya menarik, ketika Barat mengatakan anime adalah bentuk lain sebuah animasi (animation atau cartoon), menurut orang Jepang sendiri anime memiliki model ciri khas yang unik dan membedakannya dengan kartun. Pun mereka meletakan anime lebih dalam pada kehidupan mereka. Bahkan, sektor pendidikan pun bisa disokong oleh anime.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat pada 27 Oktober, Netflix mengadakan event besar dalam tajuk Festival Anime Netflix 2020 yang diadakan di Tokyo, Jepang. Mereka memperkenalkan judul-judul anime baru yang akan diudarakan dalam layanan streaming mereka dalam waktu dekat. Melalui rencana Netflix ini, saya meyakini perdebatan mengenai pendefinisian anime akan menjadi semakin gayeng. Mengapa? Begini, Lur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui statemennya, Taiki Sakurai selaku Netflix Anime Chief Producer mengatakan perihal yang unik bin menarik. Ia mengatakan anime itu seperti sushi, makanan khas Jepang. Baik ketika sushi diolah di Jepang, di Amerika, atau di belahan dunia mana pun, sushi tetaplah sushi. Tempat diolahnya di mana, bahannya didapat dari mana, tidak berpengaruh banyak dalam meluruhkan apa itu \u201csushi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sakurai menganalogikan sebuah sushi sebagaimana perkara anime dalam Netflix. Netflix memang hendak menggandeng beberapa negara untuk \u201cmengembangkan\u201d anime. Mulai dari tetek bengek studio sampai musik, mereka akan bekerja sama bersama negara-negara seperti Thailand hingga Australia. Tentu hal ini menjadi angin segar bagi perkembangan anime itu sendiri. Namun, apakah ini akan berpengaruh banyak pada hasil animenya? Lah, katanya anime itu khas Jepang, kok ini ada orang Thailand dan Australia yang ikutan. Mana Netflix perusahaan Amerika lagi. Pusing nggak pala berbi?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Barat sendiri pernah populer istilah \u201canime-influenced animation\u201d yang merupakan karya animasi non-Jepang yang terinspirasi dari anime. Tidak ada kesepakatan yang mengatakan anime adalah pabrikan yang seutuhnya berasal dari Jepang, namun jika mengacu kepada gaya animasi Jepang, saya manthuk-manthuk setuju. Anime-influenced animation inilah yang memunculkan visual animasi Barat dengan gaya anime.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya Toei Animation dengan perusahaan Amerika yang membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Transformers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> TV series. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Avatar: The Last Airbender<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> produksi Nickelodeon Animation Studio juga menghadirkan nuansa yang sama. Netflix, dalam line-up yang mereka keluarkan, terlihat seperti mengadopsi anime-influenced animation. Seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pacific Rim: The Black<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang merupakan produksi dari Legendary Entertainment dan Polygon Pictures.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artwork yang dibawakan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pacific Rim: The Black<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengadopsi pakem-pakem dalam anime. Namun, keterlibatan \u201cpihak lain\u201d membuat anime Netflix yang akan mengudara pada 2021 menjadi pertanyaan penting. Style dalam anime adalah hal yang utama. Namun, ketika mengatakan anime harus saklek dengan buatan di Jepang, kita perlu pertimbangkan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak diskusi anime yang mengatakan sebuah anime memiliki ciri khas tersendiri. Mulai dari style hingga demografi yang jelas. Melihat list yang dikeluarkan oleh Netflix, tentu kita akan terkejut kepada penggunakan gaya yang mereka gunakan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Resident Evil: Infinite Darkness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mengadopsi dari gim besutan Capcom dan akan diproduksi oleh TMS ini menjadi diskusi tersendiri dalam Netflix menggunakan istilah anime.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya pribadi, jika anime merujuk kepada penggunaan gaya sketching of characters, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Resident Evil: Infinite Darkness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak bisa dimasukan dalam kategori anime. Menyebutnya anime-influenced animation pun tidak memasuki kategori lantaran definisi ini merujuk kepada animasi Barat yang \u201cmeniru\u201d style dari anime.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih dalam anime berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rilakkuma\u2019s Theme Park Adventure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dirilis posternya oleh Netflix. Anime ini direncanakan akan diproduksi menggunakan format animasi stop-motion. Netflix memasukan animasi (yang mungkin bisa dimasukan ke dalam demografi kodomo) sebagai anime.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di sisi lain, mengatakan suatu hal dikatakan anime harus saklek \u201cdibuat\u201d di Jepang pun saya kurang setuju. Sedikit wagu. Studio yang digandeng oleh Netflix adalah generasi baru yang terbuka kepada perubahan. Mulai dari Production I.G dan Bones yang digandeng pada 2018, Sublimation dan David Production pada 2019, dan Science SARU, Studio MIR, dan MAPPA yang digandeng pada tahun 2020, merupakan generasi yang bisa mendobrak pakem-pakem lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti apa yang dikatakan oleh Taiki Sakurai, Netflix hendak mengembangkan ide-ide barunya. Mulai dari adaptasi novel, manga Seinen yang underrated, menyentuh kultur pop Jepang, hingga mengembangkan anime dan menggandeng entitas lain dari berbagai negara, tentu patut kita nanti. Toh tujuan akhirnya itu bisa menembus pangsa pasar yang lebih luas atau tidak. Apa lagi dalam kondisi pembajakan yang kian marak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya justru memiliki indikasi bahwa Netflix ini nggak mau repot menspesifikasikan animasi yang akan mereka angkat. Jadi tiap animasi dan budaya pop Jepang yang akan mereka angkat, mereka memasukan dalam kategori anime. Dengan konsekuensi pendefinisian anime akan bergerak amat liar. Pun membuka ruang diskusi tentang orang yang memandang anime sebagai style tertentu, definisi, atau hanya sebagai arti terjemahan \u201canimation\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anime Netflix digadang-gadang bakal bikin heboh wibu tahun depan. Dengan beberapa judul \u201cmenarik\u201d yang bakalan rilis, wibu mungkin sedikit goyah dan murtad dari ideologi anime lama yang saklek menganggap anime itu ya murni dari Jepang. Napas serial-serial yang dirilis Netflix mungkin bakal sedikit berbeda. Ibarat kata, anime bakal nggak terlalu ndakik-ndakik lagi. Sekarang masalahnya, wibu bakal makin gayeng atau malah spaneng? Ditunggu saja.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Dokumentasi Netflix 2020<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keheranan-moeldoko-kenapa-uu-cipta-kerja-terus-didemo-yang-bikin-saya-ikutan-heran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Keheranan Moeldoko Kenapa UU Cipta Kerja Terus Didemo yang Bikin Saya Ikutan Heran <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lah, katanya anime itu khas Jepang, tapi anime Netflix terasa lebih fleksibel dan menggandeng banyak negara. Jadi definisi anime itu apa?<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":85868,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12908],"tags":[2363,8995],"class_list":["post-85867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-anime","tag-netflix","tag-rekomendasi-anime"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85867"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85867\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85868"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}