{"id":85721,"date":"2020-10-31T07:31:58","date_gmt":"2020-10-31T00:31:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=85721"},"modified":"2020-10-28T22:00:12","modified_gmt":"2020-10-28T15:00:12","slug":"makna-ungkapan-semongko-dan-filosofi-gambaru-di-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makna-ungkapan-semongko-dan-filosofi-gambaru-di-jepang\/","title":{"rendered":"Makna Ungkapan &#8216;Semongko&#8217; dan Filosofi Gambaru di Jepang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarik, Sissst, Semongkooo!!!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah ditelisik, ternyata kata &#8220;semongko&#8221; yang lagi booming akhir-akhir ini sama sekali nggak ada hubunganya dengan buah semangka. Penting atau tidaknya untuk dibahas nanti dulu, saya menulis ini demi memperkaya khazanah pengetahuan ilmiah dan filsafat dunia perkoploan tanah air. Sebagai ilmuwan dan pengkaji ilmu per-ambyar-an, saya merasa terpanggil untuk mengungkap kebenaran istilah ini agar tak terjadi simpang siur di tengah netizen Indonesia.<\/span><\/p>\n<h4><b>Sejarah viralnya, \u201cTarik, Sist, semongko!\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua akan koplo pada waktunya. Kalimat ini menggambarkan jika semua lagu di dunia ini suatu saat nanti akan koplo pada saat yang tepat. Istilah ini juga berlaku bagi lagu berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bunga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dipopulerkan oleh Thomas Arya. Lagu bergenre melayu yang pernah hits di awal tahun 2000-an ini, kemudian dibawakan ulang oleh Anggun Pramudita dengan aroma koplo yang mengundang siapa pun untuk berjoget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang paling fenomenal adalah penampilan Anggun Pramudita saat membawakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bunga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam acara 2nd Anniversary Pemuda Damlimo Community di Banyuwangi, Jawa Timur, yang kemudian diunggah salah satu akun YouTube resmi grup musik koplo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, lagu ini kembali mewabah di kalangan para TikTok-ers planet nameks dan diunggah ulang oleh akun-akun Instagram shitpost tanah air. Ia dijadikan backsound video penyegar timeline joget-joget cewek-cewek manis seksi nan aduhai, hingga kaum tulang lunak Kaefci yang ngebor ria sambil memutar lagu ini pada video pendek mereka. Yang paling menarik pada lagu ini adalah kalimat pembuka sebelum alunan gendang koplo yang khas masuk, \u201cTarik, Sist, semongko!\u201d kata mas-mas pengiring suara latar Anggun Pramudita dengan semangat koplonya yang khas, sehingga menjadi viral di dunia media sosial dan sangat melekat siang-malam hingga terbawa mimpi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus apa sebenarnya arti kata &#8220;semongko&#8221;? Bagi saya orang di luar Jawa yang sama sekali tak paham bahasa Jawa, awalnya beranggapan kata \u201csemongko\u201d ini bermakna buah semangka dalam bahasa Jawa. Istilah ini awalnya saya kira merujuk pada ajakan makan buah semangka. Atau barangkali ini merupakan ajakan untuk menggalang konsep vegetarian atau health culture. Asyik juga ya sekarang, koplo yang identik dengan ciu dan tuak tiba-tiba menyajikan konsep ini. Namun, ternyata istilah ini sama sekali tidak ada hubunganya dengan buah semangka. Ia merujuk pada hal yang jauh lebih bijaksana dan filsafat duhai, Saudara-saudara. Ia tentang ajakan berjuang tanpa lelah dalam menghadapi hidup.<\/span><\/p>\n<h4><b>Kajian makna dan filsafat \u201csemongko\u201d dengan filosofi gambaru Jepang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semongko yang kerap disuarakan ini ternyata merupakan singkatan dari kata, &#8220;semangato sampe bongko&#8221;. Ia kosakata bahasa Jawa yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia akan bermakna, &#8220;semangatlah sampai mati&#8221;. Sebuah ajakan untuk terus berjuang dan pantang menyerah. Sebenarnya kosakata ajakan semangat pantang menyerah seperti ini justru sering kali muncul dalam anime dan kartun Jepang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkatan \u201csemongko\u201d (semangato sampe bongko) kurang lebih hampir bermakna sama dengan budaya gambaru di Jepang yang terkenal berbunyi, &#8220;Doko made mo nintai shite doryoku suru (bertahan sampai ke mana pun juga dan berusaha habis-habisan). Ia sangat melekat dalam budaya kehidupan dan etos kerja masyarakat Jepang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gambaru merupakan falsafah hidup yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan, sejak usia 3 tahun, anak-anak Jepang sudah diajarkan filosofi gambaru di sekolahnya. Misalnya, belajar memakai pakaian berbahan tipis di musim dingin, agar tidak manja terhadap cuaca dingin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gambaru merupakan impresi dari \u201cganbatte kudasai\u201d yang berarti \u201clakukan sebaik mungkin\u201d, \u201cjangan menyerah\u201d, atau \u201cberikan usaha terbaik\u201d. Ungkapan ini mengandung unsur motivasi dan semangat untuk terus berjuang dan pantang menyerah sampai titik penghabisan. Filosofi gambaru yang melahirkan ganbatte merupakan perwujudan dari filosofi bushido yang berkembang pada masa samurai. Ia mengajarkan sikap moral positif seperti keberanian, kehormatan, dan harga diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semangat pantang menyerah inilah yang kemudian membangun karakter bangsa Jepang yang tangguh, teliti, rajin, dan pantang menyerah. Hasilnya adalah apa yang kita lihat sekarang di mana Jepang, sebuah negara satu-satunya di dunia yang pernah \u201cmenerima\u201d bom atom dan porak-poranda akibat Perang Dunia II, bangkit kembali menjadi sebuah raksasa ekonomi dan teknologi dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, prestasi yang dicapai oleh Jepang tidaklah semudah yang dikira. Mereka berusaha melalui proses yang panjang. Yang menarik adalah ketika semua proses mereka lalui dengan ketekunan dan kesabaran, bukan mencari jalan pintas untuk kesuksesan semu. Proses ini juga bukan tanpa halangan dan kegagalan. Namun, dengan ketekunan dan kesabaran, Jepang mampu menghadapi dan kemudian mengalahkan hambatan-hambatan seperti minimnya sumber daya alam yang kemudian memacu bangsa Jepang untuk mencari alternatif penyelesaiannya. Hasilnya adalah inovasi teknologi yang luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ternyata \u201cTarik, Sist, semongko\u201d tidak sesederhana pameo jogat-joget belaka. Ia juga memiliki makna dan filsafat yang sejajar dengan filosofi gambaru di Jepang yang dipakai masyarakat Jepang sebagai pegangan hidup dan mendoktrin positif diri dan orang sekitar agar pantang menyerah untuk terus menjadi bangsa yang maju dan berkembang. Semoga saja viral dan memasyarakatnya istilah \u201csemongko\u201d ini juga berbanding lurus dengan semangat pantang menyerah bangsa kita untuk terus maju ya, Bund.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dari-buka-sitik-jos-hingga-semongko-senggakan-adalah-unsur-penting-dangdut-koplo-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Dari \u2018Buka Sitik Jos!\u2019 hingga \u2018Semongko\u2019: Senggakan Adalah Unsur Penting Dangdut Koplo Jawa<\/strong><\/a> <b><\/b><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/thariq-munthaha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Thariq Munthaha<\/a>\u00a0lainnya<\/strong>.<\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cTarik, Sist, semongko\u201d tidak sesederhana pameo jogat-joget belaka. Ia memiliki makna yang sejajar dengan filosofi gambaru di Jepang.<\/p>\n","protected":false},"author":1085,"featured_media":85954,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9343,4320,9268],"class_list":["post-85721","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gambaru","tag-koplo","tag-semongko"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1085"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85721"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85721\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85954"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}