{"id":85511,"date":"2020-10-30T07:32:44","date_gmt":"2020-10-30T00:32:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=85511"},"modified":"2020-10-28T20:54:05","modified_gmt":"2020-10-28T13:54:05","slug":"panduan-mengucapkan-baarakallaah-dan-tabaarakallaah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-mengucapkan-baarakallaah-dan-tabaarakallaah\/","title":{"rendered":"Panduan Mengucapkan &#8216;Baarakallaah&#8217; dan &#8216;Tabaarakallaah&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangsa kita memang bangsa yang terjajah. Setelah dijajah oleh Belanda dalam hal birokrasi, rupanya kita juga dijajah oleh bangsa Arab dalam hal agama dan bahasa. Sebagai negara mayoritas muslim, banyak kata dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Beberapa bertahan sesuai dengan kata aslinya, seperti: Insya Allah, adat, asli, jawab, dan sebagainya. Sebagian lagi disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, seperti: khatulistiwa dari dua kata \u201ckhattu\u201d dan \u201cal-istiwa\u201d, kalang kabut dari kata \u201cka\u201d dan \u201cal-ankabut\u201d berarti &#8220;seperti laba-laba&#8221;, dan mutakhir dari kata &#8220;muta&#8217;akhkhir&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran mulut saya pernah berbusa-busa akibat berurusan dengan nahwu, shorof, jurumiyah, dan alfiyah Ibnu Malik. Telinga saya cukup sensitif dengan hal-hal yang berkaitan dengan kaidah dan tata bahasa Arab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut ini dialog imajiner menggunakan bahasa antum-antuman dan ukhti-ukhtian.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ukhti 1 menggendong bayi<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLucu sekali ukhtiii! Tabaarakallaaah~\u201d<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ukhti 2 dan ukhti 3 kompak memuji bayi ukhti 1<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ukhti 1: Jazaakallaah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ikhwan (suaminya): Wabaarakallaah fiik<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Suami istri itu menjawab dua ukhti yang memuji bayi mereka)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebentar, ungkapan, &#8220;Tabaarakallaah&#8221; dijawab dengan \u201cJazaakallaah\u201d dan \u201cwabaarakallaah fiik\u201d? Jawaban atau balasan itu memang berlebihan jika dibilang salah, tapi jelas jawaban itu juga tidak sepenuhnya benar.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cJazaa(ka)llaah\u201d dan \u201cjazaa(kum)ullah\u201d adalah kata ganti untuk laki-laki dan banyak laki-laki. Jika objeknya adalah perempuan seperti di atas, kata gantinya menggunakan dhamir mu\u2019annats atau perempuan yakni \u201cjazaa(ki)llah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> ungkapan \u201cwabaarakallaah fiik\u201d sebagai jawaban dari \u201ctabaarakallaah\u201d, memang tidak sepenuhnya salah, tapi pada dasarnya tidak tepat. Bukannya ribet, pun kalau ada yang mau bilang saya ribet, silakan, saya izinkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mohon maaf, ya, akhi dan ukhti fillah, sebagai orang yang kurang kerjaan, saya merasa terpanggil untuk membicarakan dan mengkritisi kembali penggunaan istilah bahasa Arab tersebut sebagai ungkapan takjub dan kagum dalam percakapan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada salahnya dan ada baiknya jika kita mempelajari tentang makna, tujuan, dan fungsi dari kata atau kalimat Arab tersebut. Tidak lucu, kan? Kalau tujuanmu yang mulia sebagai doa kepada temanmu itu ternyata digunakan dalam konteks yang keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut ini penjelasan tentang Baarakallaah dan Tabaarakallaah sesuai pengetahuan dan pemahaman saya. Mohon antum koreksi jika salah.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Baarakallaah<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata Baarakallaah terdiri dari dua kata, \u201cbaaraka\u201d dan \u201cAllah\u201d. Adapun kata \u201cba(a)raka\u201d dengan tambahan &#8220;alif&#8221; setelah huruf &#8220;ba&#8221;, berasal dari fi&#8217;il madhi (kata kerja lampau) atau kata asli \u201cbaraka\u201d tanpa alif, yang berarti berkah. Apabila ditambah &#8220;alif&#8221; setelah &#8220;ba&#8221;, yakni \u201cBa(a)rakallaah\u201d artinya adalah semoga Allah memberkahi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini digunakan sebagai doa baik untuk laki-laki maupun perempuan. Menjadi keliru ketika ada yang mengatakan \u201cBaara(ki)llaah\u201d dengan alasan orang yang didoakan adalah perempuan. Kesalahan itu karena huruf \u201cka\u201d pada kata ini bukanlah dhamir atau kata ganti, melainkan huruf asli dari kata tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata Baarakallaah sebagai doa, agar lebih lengkap, ditambahkan kata ganti untuk menunjukkan kepada siapa doa itu ditujukan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk laki-laki, \u201cBaarakallaah fiika\u201d atau \u201claka\u201d dan \u201cBaarakallah fiikum\u201d atau \u201clakum\u201d berarti semoga Allah memberkahimu\/kalian (laki-laki).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk perempuan, &#8220;Baarakallaah laki\u201d atau \u201clakunna\u201d, artinya semoga Allah memberkahimu\/kalian). Begitupun di kalangan ikhwan dan akhwat, kita biasa mendengar \u201cBaarakallaah, akhi\u201d atau \u201cBaarakallaah, ukhti\u201d, artinya semoga Allah memberkahi saudara(i)ku.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk orang ketiga, \u201cBaarakallaah lahu\/lahum\u201d, untuk laki-laki atau banyak laki-laki. Dan \u201cBaarakallaah lahaa\/lahunna, untuk perempuan atau banyak perempuan.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang yang sedang berulang tahun, kamu bisa mengatakan, \u201cBaarakallaah fii umrik\u201d, yang artinya semoga Allah memberkahi umurmu atau sisa umurmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ditujukan untuk dua orang, khususnya bagi pasangan yang menikah maka dhamir-nya diubah menjadi \u201cBaa~rakallaahu lakuma~ wa baaraka~ \u2018alaykuma~\u201d seperti di lagu Maher Zain, yang berarti semoga Allah memberkahi kalian berdua. Kalau mau lengkapnya, putar saja lagu Maher Zain, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mendapat ungkapan atau doa seperti itu, bisa dijawab dengan mengembalikan doa itu, \u201cjazaakallaah\u201d (semoga Allah membalasmu) atau \u201cwabaarakallaah fiik\u201d. Atau cukup dengan \u201cwa fiika(i\/kum\/kunna) berarti \u201cdan bagimu\/kalian juga\u201d.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Tabaarakallaah<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cTabaarakallaah\u201d adalah wazan tashrif \u201ctafaa&#8217;ala\u201d, dengan penambahan \u201cta\u201d di awal dan \u201calif\u201d setelah huruf \u201cba\u201d \u201ctaba(a)raka\u201d. Hal ini memberikan makna \u201cyang maha\u201d sebagaimana kata \u201cAllah subhana wa ta&#8217;aalaa,&#8221; bermakna yang maha suci dan maha tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cTabaarakallaah\u201d lebih dekat bermakna atas berkah Allah. Kata ini digunakan sebagai ungkapan takjub dan kagum atas ciptaan Allah dengan mengembalikan kepada-Nya, agar terhindar dari penyakit \u2018ain. Biasanya disertakan dengan ungkapan \u201cMasyaAllah\u201d, seperti, \u201cMasyaAllah Tabaarakallaah~\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata ini terdapat pada QS Ar-Rahman (yang biasa dijadikan sebagai mahar pernikahan), \u201cTabaarakasmu rabbik\u201d Juga pada QS. Al-Mu&#8217;minun, \u201cFatabaarakallaahu ahsan al-khaaliqiin\u201d. Pada kedua ayat itu, kata \u201cTabaaraka-allaah\u201d memiliki makna sama dengan ungkapan \u201cSubhaanallah\u201d yang berarti Maha suci Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ungkapan ini biasa digunakan saat mendapat kabar gembira seperti kelulusan, pernikahan, kelahiran, ditraktir teman, Omnibus Law dibatalkan, Naruto tidak jadi mati, Pevita Pearce ngajak saya balikan, dan hal-hal membahagiakan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana jawaban dari ungkapan ini? Seperti yang saya jelaskan tadi, kata ini adalah ungkapan takjub dan kagum untuk mengagungkan Allah, maka tentu tidak membutuhkan jawaban sebagaimana kata \u201cBaarakallaah fiik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ada yang menjawab kata \u201cTabaarakallaah\u201d dengan \u201cWabaarakallaah fiik\u201d saya jadi heran, Begimane ceritanye? Ini, kan, ungkapan takjub atas ciptaan Allah, jika dijawab begitu, konteksnya aja berbeda, jadinya, kan, nggak nyambung. Eh, atau gimana, yak?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pesantren-dan-romantisme-hidup-santri-saat-hafalan-wazan-fa-a-la\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pesantren dan Romantisme Hidup Santri Saat Hafalan Wazan Fa, \u2018A, La<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-dzal-anshar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Dzal Anshar<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata \u201cTabaarakallaah\u201d lebih dekat bermakna atas berkah Allah. Kata ini digunakan sebagai ungkapan takjub dan kagum atas ciptaan Allah.<\/p>\n","protected":false},"author":647,"featured_media":85941,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9341],"class_list":["post-85511","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-tabaarakallaah"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/647"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85511"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85511\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85941"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}