{"id":85509,"date":"2020-10-27T09:42:59","date_gmt":"2020-10-27T02:42:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=85509"},"modified":"2020-10-27T09:40:16","modified_gmt":"2020-10-27T02:40:16","slug":"tips-penting-untuk-pengendara-vespa-pemula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-penting-untuk-pengendara-vespa-pemula\/","title":{"rendered":"Tips Penting untuk Pengendara Vespa Pemula"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Vespa klasik selalu punya nilai mutu, historis, dan daya tarik tersendiri. Makanya kalau bicara soal harga, Vespa klasik harganya selalu melebihi second-nya motor jepangan. Beruntung bapak mertua saya punya Vespa Sprint tahun 1976. Pengalaman pertama saya jadi pengendara Vespa Sprint itu cukup menyenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lampunya kotak kayak model asbak, warnanya cream, peleknya berwarna merah, bannya dibalut dengan white wall, joknya independen\u2014nggak menjadi satu dengan boncengers, kelistrikannya tokcer: jangankan lampu utama kelaksonnya aja bisa bunyi, dan yang penting mesinnya josss. Cukup sekali slah, langsung jreng-jreng-jreng~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata jadi pengendarai Vespa tuh, nggak semudah yang saya bayangkan. Kadang saya melihat beberapa teman yang punya Vespa, mengendarainya tuh enak banget. Kelihatannya gampang. Nyatanya nggak segampang yang itu. Meskipun saya tahu cara mengendarai Vespa, tetap aja saya merasa kagok, dan cara yang saya ketahui itu dinilai nggak tepat oleh bapak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan berbagi tata cara mengendarai Vespa dengan baik dan benar. Baik buat kita\u2014pengendara\u2014baik juga buat Vespa itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>Menghidupkan mesin<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini adalah letak awal ketidaktepatan\u2014bagi para pemula\u2014dalam mengendarai Vespa. Biasanya main langsung nge-slah mesin aja. Main engkol aja, gitu. Tanpa mengucapkan salam hormat atau memberikan sikap takzim kepada Vespa itu sendiri. Ingat, Vespa itu motor tua. Harus memperlakukannya lebih santun dan kalem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum menghidupkan mesinnya, pertama, kita kudu pastikan lebih dulu bensinnya. Ini penting, biar nggak mogok di jalan. Kedua, pastikan kran bensin\u2014letaknya ada di bawah jok\u2014harus dalam posisi on. Soalnya beberapa pengendara Vespa memutar keran tersebut ke posisi off lantaran karburator-nya suka kebanjiran bensin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, kalau kondisi mesinnya masih dingin, masih pagi-pagi, atau udara di sekitar cukup dingin maka tariklah tuas cuknya\u2014letaknya berdekatan dengan keran bensin\u2014agar memudahkan kita pada saat menghidupkan mesin. Kalau kondisi mesin Vespa udah panas atau nggak perlu lagi dipanasin, maka skip langkah ketiga ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keempat, posisi berdiri kita harus di sebelah kanan Vespa. Ya, soalnya mesin Vespa ada di sebelah kanan. Kalau berdirinya di sebelah kiri, itu artinya kita cuma kepengin dibonceng. Bukan mengendarai. Lalu tarik handle gas sedikit aja. Nggak perlu gas pol, nanti mesinnya malah menjerit atau malah mogok karena terlalu banyak bensin yang masuk ke ruang bakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelima, gunakan kaki kanan saat kita nge-slah atau mengengkol mesin. Sementara kaki kiri menumpu badan saat berdiri. Pada saat tangan kanan sedang menahan handle gas, sebaiknya tangan kiri memegang jok belakang agar kuda-kuda kita kokoh dan nggak mudah roboh. Soalnya tuas kick starter Vespa bisa terhentak balik akibat kompresi mesin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keenam, perhatikan jarak telapak kaki kanan dengan ujung lantai\/dek Vespa\u2014yang sangat berdekatan antara tepong dan kick starter. Biasanya jarak yang terlalu dekat bisa bikin kaki lecet akibat tergores ujung lantai Vespa. Ketujuh, ketika mesin berhasil hidup, lepaslah secara perlahan tuas kick starter-nya. Jangan langsung dilepas, soalnya kick starter bisa rusak atau ngelos.<\/span><\/p>\n<h4><b>Menaikan standar dua Vespa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah mesin hidup, biasanya saya melihat beberapa pengendara Vespa langsung menaiki motor Vespa tanpa menurunkan standarnya lebih dulu. Lalu menarik kopling, masukin gigi satu, lepas kopling seraya menarik gas, maka Vespa akan meluncur dan secara otomatis standar dua akan naik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Bang Ravindra Trimahardika, dalam channel <\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=2tZZynEQJGA\"><span style=\"font-weight: 400;\">YouTube<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Ravespa ScooVlog-nya: 6 Cara Memperlakukan Vespa, perlakuan tersebut dinyatakan salah besar sebab lama-kelamaan akan merusak dek\/lantai Vespa. Pasalnya hentakan yang terjadi pada standar dua akan membentur dek tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi sebaiknya turunkan dengan perlahan. Dari Vlog itu juga Bang Ravindra memberi tips bagaimana menurunkan Vespa dengan tepat. Yakni apabila posisi kita ada di sebelah kanan Vespa, maka kaki kiri sebaiknya menahan standar dua itu, lalu kaki kanan mendorong Vespa dengan menggunakan lutut. Tentu saja tangan kita ini berfungsi buat megangin Vespa-nya. Ya, masak nggak dipegangin. Roboh, dong. Kemudian lepaskan standar Vespa dengan perlahan.<\/span><\/p>\n<h4><b>Mengendarai Vespa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah momen-momen yang paling mendebarkan bagi saya sebagai pengendara Vespa. Soalnya secara ergonomi, posisi berkendara kita akan sangat jauh berbeda ketika mengendarai motor jepangan. Sebab, posisi setang kemudi Vespa lebih rendah daripada motor jepangan, maka posisi berkendara kita akan sedikit membungkuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ditambah lagi, body Vespa Sprint milik bapak mertua saya cukup besar dibanding dengan Vespa jenis smallframe, jadi agak kagok aja dalam mengimbanginya. Hal yang bikin kagok lagi ketika saya melepas kopling seraya menarik gas, ternyata napas dari gigi satunya nggak begitu panjang layaknya motor jepangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau nggak mau kita harus sigap untuk segera memasukan gigi kedua. Nah, biar teman-teman nggak kagok kek saya saat pertama kali nyobain Vespa, sebaiknya perlu diketahui lebih dulu hal-hal berikut:<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, rem depan Vespa ada di handle sebelah kanan. Nah, pedal yang di kaki itu, bukan pedal kopling kayak di mobil. Tapi pedal rem belakang. Ingat, itu rem belakang yah. Oke, sekarang tahu kan rem depan ada di mana?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, teman-teman mesti tahu kalau operan gigi dan kopling Vespa ada di handle sebelah kiri. Buat masukin giginya, gigi satu: putar handle ke arah belakang. Buat gigi dua dan seterusnya putar handle ke arah depan. Buat posisi netral, titiknya berada di tengah-tengah antara gigi satu dan gigi dua. Nah, pada saat ngoper gigi satu ke gigi dua, sebaiknya nggak perlu ragu dan jangan tanggung biar nggak balik lagi ke posisi netral.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, tombol switch off mesin ada di sebelah kanan. Persisnya dekat saklar lampu. Bentuknya kecil banget. Nah, sebelum teman-teman mengendarai, tombol itu perlu diketahui sebab jangan sampai dikira sebagai tombol klakson, yah. Jangan sampai, tahu cara hidupin mesinnya tapi nggak tahu cara matiin mesinnya.<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sebaiknya siapkan keyakinan sebelum mencoba. Kalau hati kita udah yakin jadi pengendara Vespa yang baik, apa pun yang akan terjadi\u2014secara nggak sadar\u2014refleks kita akan lebih baik. Pun ketika mengoper dari gigi satu ke gigi dua. Feeling kita akan dengan mudah merasa \u201cwah, udah waktunya masuk gigi berikutnya, nih\u201d lalu tanpa pikir panjang tangan kiri akan menarik kopling terus memutar handle itu ke atas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seteleh semua tahap ini terlewati, saya ucapkan: selamat menikmati sensasi jadi pengendara Vespa untuk pemula. Saya berani jamin, teman-teman pasti bakal ketagihan. Selamat mencoba, yha~<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-asal-pakai-sabun-untuk-mencuci-motor-kalau-nggak-mau-bodi-motor-kusam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jangan Asal Pakai Sabun untuk Mencuci Motor kalau Nggak Mau Bodi Motor Kusam <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/allan-maullana\/\"><b>Allan Maullana<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya akan berbagi tata cara jadi pengendara Vespa yang baik dan benar. Baik buat kita, pengendara, baik juga buat Vespa itu sendiri<\/p>\n","protected":false},"author":65,"featured_media":81229,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1395,6728],"class_list":["post-85509","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anak-vespa","tag-otomojok"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85509","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/65"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85509"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85509\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81229"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85509"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85509"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85509"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}