{"id":85081,"date":"2020-11-01T06:46:14","date_gmt":"2020-10-31T23:46:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=85081"},"modified":"2022-02-11T20:22:05","modified_gmt":"2022-02-11T13:22:05","slug":"kok-bisa-kemendikbud-nggak-masukin-situs-jurnal-ilmiah-dalam-daftar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kok-bisa-kemendikbud-nggak-masukin-situs-jurnal-ilmiah-dalam-daftar\/","title":{"rendered":"Kok Bisa Kemendikbud Nggak Masukin Situs Jurnal Ilmiah dalam Daftar?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minggu ini merupakan minggu terakhir bulan Oktober yang artinya kuota belajar dari Kementerian Pendidikan &amp; Kebudayaan akan memasuki pembagian bulan kedua. Sebetulnya saya cukup mengapresiasi kebijakan ini yang tentu saja akan sangat membantu keberjalanan belajar online<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seperti yang sudah diutarakan Mbak Ayu Octavi Anjani di artikelnya untuk Mojok bertanggal 24 Oktober lalu, saya rasa pembagian untuk pemakaiannya masih belum tepat. Ada banyak hal yang mungkin sudah banyak dijabarkan oleh Mbak Ayu, tetapi di sini saya akan mencoba melihat dari kacamata mahasiswa menjelang tua, eh tingkat akhir maksudnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang kita tahu,\u00a0 dari total 50 GB kuota yang diberikan rinciannya dipecah menjadi 45 + 5 GB. 45 GB dapat digunakan untuk mengakses website<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">pendidikan, aplikasi video conference<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">serta situs kampus dan situs Kemendikbud. Sedangkan lima GB dapat digunakan untuk membuka apa saja, terserah silahkan kalau mau akses Instagram, Twitter, Fantasy Premier League<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan lain-lain. Oiya, untuk website<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">pendidikan sendiri ada 61 alamat situs dalam <a href=\"https:\/\/kuota-belajar.kemdikbud.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">daftar rilisan<\/a> Kemendikbud, termasuk di antaranya adalah WhatsApp.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di sinilah letak permasalahannya. Dari sembilan belas alamat situs itu tidak ada satu pun yang merupakan alamat situs jurnal ilmiah. Padahal bagi mahasiswa tingkat akhir seperti saya, membuka situs jurnal-jurnal ilmiah sudah jadi makanan sehari-hari. Ditambah lagi, dosen pengajar maupun pembimbing selalu menuntut referensi dari jurnal internasional yang punya reputasi seperti Scopus atau ScienceDirect.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencari bahan bacaan di jurnal internasional bukanlah sesuatu yang mudah. Berbeda dengan mesin pencari Google yang apabila Anda melakukan pencarian dengan keyword<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">\u201cbakso enak\u201d akan langsung muncul daftar sekaligus lokasi bakso enak di sekitar anda, jurnal internasional tidak demikian. Anda perlu menggunakan keyword<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">setepat mungkin agar langsung menemukan judul yang sesuai dengan tema penelitian. Tentu kuota yang diperlukan tidak sedikit jumlahnya. Saya sendiri mencari literatur mengenai kategori \u201cmarginalized communities\u201d saja belum juga bertemu. Hehe<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">jadi curhat, tolong saya kalau ada yang bisa menemukan selain dari Badshah, tenks<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu ya, tapi masa iya satu gedung Kemendikbud yang letaknya dekat dengan Teater JKT48 itu pegawainya semuanya lupa jika universitas adalah institusi keilmuan. Tentu sebagai institusi ilmiah, kegiatan riset adalah hal mutlak dan itu membutuhkan akses ke sebanyak mungkin judul artikel jurnal. Kampus saya sendiri bahkan sudah berlangganan beberapa jurnal internasional bereputasi sehingga mahasiswanya bisa mengurangi penggunaan SciHub untuk bisa mengakses jurnal secara gratis. Tapi, ya tetap saja mengakses harus dengan kuota utama yang hanya lima giga itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi lebih lucu mengingat dari 61 situs tersebut terdapat beberapa website<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">pendidikan yang merupakan bimbel online. Kemendikbud seperti terinspirasi dari ungkapan \u201ctuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina\u201d dengan membuka akses seluas mungkin ke sumber pembelajaran non-formal sekaligus menjadi makelar bimbel online<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu hal yang bagus dan tidak salah juga untuk mempromosikan produk pendidikan alternatif (lah udah kaya dukun), tapi itu untuk pelajar SD sampai SMA dan bukan untuk mahasiswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan memecah kuota saja sudah mengindikasikan bahwa Kemendikbud semacam mempunyai trust issue<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">ke mahasiswa. Kemendikbud berpikir jika tidak dipecah kuota justru lebih banyak digunakan untuk menonton film ataupun bermain game. Hey hey hey<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">saya sendiri belajar bahasa asing, sejarah, dan kulturnya malah dari game<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dan film yang saya tonton. Salah satu platform<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">bimbel online yang bisa diakses dengan kuota 45 GB\u2014yang kebetulan waktu SMA saya gunakan\u2014bahkan menyarankan penggunanya untuk menonton film setidaknya seminggu sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berharap sekali Kemendikbud segera memasukan dua atau tiga situs jurnal internasional kedalam daftar situs yang dapat diakses dengan kuota pendidikan 45 GB. Bahkan mungkin hal ini jangan hanya jadi harapan, tapi juga kenyataan apabila Kemendikbud benar-benar ingin mewujudkan pendidikan yang adil. Kebutuhan membaca artikel ilmiah sebetulnya bukan hanya kebutuhan mahasiswa tingkat akhir seperti saya, tetapi seharusnya juga seluruh mahasiswa di segala tingkat. Apalagi kampus-kampus yang dalamnya visinya berkata akan mengedepankan riset.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/inilah-5-merk-fried-chicken-paling-enak-di-tembalang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Inilah 5 Merek Fried Chicken Paling Enak di Tembalang<\/a><\/b><b>\u00a0dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/valian-aulia-pradana\/\"><b>Valian Aulia Pradana<\/b><\/a>\u00a0<b>lainnya.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari sembilan belas alamat situs rilisan Kemendikbud, tidak ada satu pun yang merupakan alamat situs jurnal ilmiah. Gimana sih, Ngab?<\/p>\n","protected":false},"author":994,"featured_media":86210,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[5223,8821,8746,34],"class_list":["post-85081","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-jurnal-ilmiah","tag-kemendikbud","tag-kuota","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85081","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/994"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=85081"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/85081\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/86210"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=85081"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=85081"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=85081"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}