{"id":84901,"date":"2020-10-29T06:08:14","date_gmt":"2020-10-28T23:08:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84901"},"modified":"2022-01-07T17:01:06","modified_gmt":"2022-01-07T10:01:06","slug":"getuk-pisang-oleh-oleh-khas-kediri-yang-bikin-nganjuk-insecure","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/getuk-pisang-oleh-oleh-khas-kediri-yang-bikin-nganjuk-insecure\/","title":{"rendered":"Getuk Pisang: Oleh-oleh Khas Kediri yang Bikin Nganjuk Insecure"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alkisah, terdapat sebuah oleh-oleh khas Kediri yang begitu terkenal, selain tahu kuning, dan pecel tumpang yang melegenda: getuk pisang. Oleh-oleh yang terbungkus daun pisang layaknya lontong ini konon akan membuat siapa pun yang memakannya akan mendapatkan umur panjang. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara mengenai getuk pisang, ingatan saya melayang pada kisah yang terjadi belasan tahun yang lalu. Bapak saya pernah nge-prank satu keluarga di sebuah mobil dalam perjalan pulang dari Kediri ke Nganjuk, rumah kami. Dari Kota Kediri kami sudah mewanti-wanti untuk pulang membawa oleh-oleh yang legendaris, apalagi kalau bukan getuk pisang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNanti di Purwoasri (sebuah kecamatan yang terletak di tengah Kota Kediri dan Kertosono) ada pusat getuk pisang besar, tenang saja,\u201d kata Bapak menenangkan kami yang sudah meronta-ronta untuk meminta berhenti. Akhirnya, kami diam menuruti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama ditunggu, akhirnya Bapak berkata, \u201cItu lho, getuk pisangnya!\u201d Bapak menunjuk papan reklame yang cukup besar bergambarkan getuk pisang yang juga tidak kalah besarnya, tertera tulisan yang cukup jelas, \u201cSelamat datang di Kota Getuk Pisang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, papan reklame itu membelakangi kami, artinya, \u201cAaarghhhh &#8230;!\u201d gerutu kami berjamaah. Bagaimana tidak, kami sadar betul dari daerah Purwoasri hingga rumah dapat dipastikan tidak akan ada toko oleh-oleh yang menyediakan getuk pisang. Sekali lagi, tidak akan ada lagi yang menyediakan getuk pisang. Akhirnya, kami harus menyiapkan mental terbaik untuk mengucapkan, \u201cTerima kasih, Bapak, we love you.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena langkanya getuk pisang juga menimpa saya sewindu yang lalu, kali ini tentang teman saya yang berkunjung ke Nganjuk sebelum mudik ke Garut. Sebelum kami berpamitan, saya ingin membelikan kepadanya oleh-oleh khas Nganjuk. Nahas, Nganjuk memang sebuah kabupaten yang nyaris tanpa makanan khas. Seluruh makanan khasnya sudah diklaim kota karesidenan, Kediri. Mencari getuk ini juga seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencari ke sana ke mari, dari terminal baru ke terminal lama, jalan Mastrip, hingga pedagang asongan, tidak ada satu pun yang membawa getuk pisang ini. dari sinilah saya sebagai warga negara bagian Nganjuk merasa insekyur dan malu sekaligus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini disebabkan Nganjuk memang ditakdirkan menjadi kabupaten agraris. Ini terbukti dengan industri yang jarang dibangun di Kota Angin ini, kecuali pasca kepemimpinan Taufiqurrahman, industrialisasi Nganjuk mulai menampilkan sebuah permulaan. Sebagai kabupaten agraris artinya Nganjuk juga penghasil buah pisang terbanyak tentu jauh di atas Kediri, kabupaten tetangga yang selalu tampil menyilaukan dengan Gudang Garam-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Produksi pisang yang banyak ini, sayangnya dimanfaatkan dengan sangat baik oleh tetangga sebelah. Ya, getuk pisang yang saya ceritakan panjang lebar tadi bahan bakunya diperoleh dari Nganjuk, tepatnya dari wilayah Prambon, sebuah kecamatan yang berada di perbatasan Nganjuk-Kediri. Selama ini, Nganjuk memang memasok hampir semua bahan baku getuk gedang nan legit itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika Nganjuk diperas sumber daya alam pisangnya, kami warga Nganjuk akhirnya hanya mendapat iming-imingi produknya. Siapa yang nggak merasa insecure, coba? Sudah pisang kami diborong habis, kami masih saja menjadi penonton mobilitas makanan itu ke sana ke mari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siksaan ini ditambah dengan produk yang sulit didapat di daerah penghasil pisang. Huft, pengin tak hih! Dan, seumpama warga Nganjuk yang merintis bisnis yang sama, pasti juga diberi label \u201coleh-oleh Khas Kediri\u201d. Kan gapleki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, kami akui saja lah, di tengah hingar-bingar getuk pisang yang siap merayu para pelancong saat melewati jalan lintas Madiun-Surabaya, kami warga Nganjuk hanya mampu berbangga diri manakala saat ada reklame \u201cgetuk pisang oleh-oleh khas Kediri\u201d, terselip rasa bangga yang memuncak manakala bahan bakunya diperoleh dari tetangga sebelah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa bangga yang kami angkat sedemikian tinggi untuk menutupi rasa inferior kami yang begitu dalam. Bukankah itu wajar? Lha wong Polygon merk sepeda terkenal itu saja masih banyak yang menyangka bahwa itu produk luar negeri, belum lagi produk elektronik lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupa, bukankah kita juga pernah begitu bangga manakala perusahaan raksasa semacam iPhone dan Samsung begitu mengistimewakan timah dari tanah air kita berkat kandungannya yang mencapai sembilan puluh sembilan koma sembilan karat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya curiga, jangan-jangan kita bangga itu karena hanya untuk menutupi rasa insekyur kita karena hanya menonton saja bahan kita digarap orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, iya. Ketika saya melintasi jalan Ahmad Yani Surabaya, mata saya tiba-tiba melototi sebuah warung yang tertulis di depannya \u201cWarung Pecel Khas Nganjuk\u201d. Saya lega akhirnya Nganjuk mempunyai makanan khas juga. Alhamdulillah.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seni-menghadapi-harta-dunia-melalui-peribahasa-madura-asel-ta-adina-asal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Seni Menghadapi Harta Dunia Melalui Peribahasa Madura Asel Ta\u2019 Adina Asal<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ahmad-natsir\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ahmad Natsir<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<div>\n<div><span class=\"ctaText\">Baca Juga:<\/span>\u00a0\u00a0<span class=\"postTitle\">Gara-Gara Menulis di Terminal Mojok Saya Dikira Wibu Gila yang Kaya<\/span><\/div>\n<\/div>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada oleh-oleh khas Kediri yang begitu terkenal selain tahu kuning dan pecel tumpang yang melegenda, yaitu getuk pisang.<\/p>\n","protected":false},"author":1049,"featured_media":85984,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[9348,6470,9349,479],"class_list":["post-84901","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-getuk-pisang","tag-kediri","tag-nganjuk","tag-oleh-oleh"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84901","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1049"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84901"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84901\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84901"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84901"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84901"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}