{"id":84880,"date":"2020-10-30T07:31:59","date_gmt":"2020-10-30T00:31:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84880"},"modified":"2020-10-28T20:47:27","modified_gmt":"2020-10-28T13:47:27","slug":"saya-dan-pacar-mulai-belajar-nulis-dengan-baik-di-pesan-whatsapp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-dan-pacar-mulai-belajar-nulis-dengan-baik-di-pesan-whatsapp\/","title":{"rendered":"Saya dan Pacar Mulai Belajar Nulis dengan Baik di Pesan WhatsApp"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu dimana sekarang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSayang, itu \u2018di\u2019 nya jangan disambung\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOke, aku ulangi lagi, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, ndang!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu di mana sekarang?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasih di jalan, tunggu sebentar!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percakapan di atas tentu sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi. Bagaimana tidak, saya dan pacar sudah hampir satu tahun mulai belajar mempraktikkan cara penulisan yang baik di pesan WhatsApp.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal mulanya ketika kami berdua sedang proses mengerjakan skripsi masing-masing. Sebagaimana mahasiswa pada umumnya yang tidak pernah belajar menulis dengan baik, kami selalu mendapatkan kritik yang sama setiap minggunya dari dosen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kritik yang selalu menjurus kepada tata cara penulisan, yang sebenarnya masalah ini sudah harus selesai ketika masa SMA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi\u201d yang disambung dan dipisah, \u201cpun\u201d yang disambung dan dipisah. Itu itu saja. Terkesan receh, tapi dosen pembimbing kami selalu muak dengan kesalahan yang selalu saya dan dia lakukan secara berulang-ulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu, kami mulai mempraktikkan cara menulis yang sesuai dengan yang kita tulis di skripsi. Bukan bertujuan ingin menjadi penulis terkenal, kami hanya ingin terbiasa dengan cara menulis yang baik. Supaya ketika kembali mengerjakan revisian dari dosen, kami sudah tidak canggung lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya, tidak ada paksaan di antara kami berdua. Saya tidak memaksa dia untuk melakukan hal konyol ini, begitu juga sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan yang mungkin tidak dilakukan banyak orang ini murni bertujuan supaya kami tidak lagi melakukan kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Masih banyak kesalahan-kesalahan baru yang tidak membosankan dan perlu kami coba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kalau Anda berpikir semua chat WhatsApp kami harus sesuai dengan PUEBI, Anda salah! Tentu kami tidak melakukan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dan dia bukan dosen dan mahasiswa yang menuntut kesempurnaan dalam mengirim pesan singkat. Kami tidak ingin kehilangan rasa dari pesan singkat, hanya demi untuk menyempurnakan kalimat kami. Kami hanya membiasakan, bukan menyempurnakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami sekadar membiasakan menulis \u201cdi\u201d yang disambung dan \u201cdi\u201d yang dipisah, \u201cpun\u201d yang disambung dan \u201cpun\u201d yang dipisah. Penggunaan huruf kapital di huruf pertama ketika nulis nama orang dan tata bahasa receh lainnya yang seharusnya sudah tidak pantas kami lakukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu akan menjadi sangat horor ketika kami berdua saling menuntut kalimat sempurna dalam pesan singkat kami di WhatsApp. Selain menghilangkan rasa dalam pesan singkat (romantis) kami, kami tentu akan kesulitan saat mengirim pesan di waktu-waktu yang mendesak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya sedang ditilang polisi di jalan, \u201cSayang aku lagi ditilang polisi, jemput dong!\u201d Kemudian dia jawab, \u201cKamu salah, seharusnya sebelum kata \u2018dong\u2019 ada komanya. Ulangi!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja percakapan di atas adalah bohong. Namun, andaikata kejadian di atas benar-benar kami lakukan, mungkin tidak lama lagi hubungan kami akan seperti redaktur dan kontributor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Spesies orang macam apa yang ingin melakukan hal itu? Kalau saya, sih, nggak mau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena \u201cdi\u201d yang disambung dan dipisah saat ini memang menjadi momok bagi para penulis, baik penulis skripsi maupun penulis esai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, ketika penulis fokus pada masalah itu-itu saja, maka mereka akan melupakan aspek yang juga sangat penting, yaitu isi dan gagasan. Di satu sisi kita sedang menulis tulisan yang teoritis dan njelimet, tapi di saat yang sama kita juga dituntut untuk menulis dengan ejaan yang baik dan benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat menulis skripsi, tentu kita sedang menulis karya yang ilmiah, akademis, dan memaparkan analisis yang logis. Ketika kita terus disibukkan dengan penulisan \u201cdi\u201d yang disambung atau dipisah, dan bahkan coretan revisi kita hanya berkutat pada masalah itu, maka porsi waktu kita untuk memikirkan gagasan dan teori akan jauh berkurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu kita semua tidak ingin hal itu terjadi. Maka salah satu cara yang bisa dilakukan supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama adalah dengan sesering mungkin membiasakan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, membiasakan diri berbahasa yang baik tidak lantas membuat kita menjadi hansip bahasa secara mendadak. Sehingga kita mengkritik semua tulisan yang kita rasa kurang tepat di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan sangat tidak asyik ketika kita hanya fokus ke kesalahan ejaan, sedangkan isi dan gagasan tulisan cenderung kita kesampingkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pungkasnya, kalau kita tidak ingin coretan skripsi hanya berkutat pada kesalahan ejaan, biasakan menulis dengan baik di mana saja. Bahkan kalau pacar Anda dengan sukarela membantu Anda untuk membentuk kebiasaan baru, lakukanlah! Itu akan lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun selain pacar, selingkuhan juga diajak juga nggak apa-apa. Eh.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/grup-whatsapp-adalah-tempat-debat-kusir-paling-brutal-kedua-setelah-twitter\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Grup WhatsApp Adalah Tempat Debat Kusir Paling Brutal Kedua Setelah Twitter<\/a><\/strong> <strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?s=Muhammad+Farih+Fanani\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Farih Fanani<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau Anda berpikir semua chat WhatsApp kami harus sesuai dengan PUEBI, Anda salah! Tentu kami tidak melakukan itu.<\/p>\n","protected":false},"author":615,"featured_media":85939,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9340,307],"class_list":["post-84880","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-eyd","tag-whatsapp"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84880","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/615"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84880"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84880\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85939"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84880"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84880"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84880"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}