{"id":84831,"date":"2020-10-25T06:32:30","date_gmt":"2020-10-24T23:32:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84831"},"modified":"2022-01-07T17:03:35","modified_gmt":"2022-01-07T10:03:35","slug":"orang-jogja-solo-memang-suka-mempelesetkan-umpatan-jadi-misuh-versi-lite","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jogja-solo-memang-suka-mempelesetkan-umpatan-jadi-misuh-versi-lite\/","title":{"rendered":"Orang Jogja-Solo Memang Suka Mempelesetkan Umpatan Jadi Misuh Versi Lite"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Anjay&#8221; adalah satu contoh populer sebuah umpatan yang dipelesetkan, tentu dengan maksud terdengar lebih sopan. Setuju atau tidak, tapi kalian paham lah maksud kata ini diciptakan sebenarnya untuk menyamarkan versi lebih galaknya, bukan untuk konotasi yang kasar. Di Jogja dan Solo pelesetan-pelesetan ini adalah hal yang sangat umum, lumrah, biasa, Nda. Orang Jogja dan Solo yang dikenal sebagai daerah yang memiliki kedekatan dengan keraton, tentu memiliki pakem dan bahasa yang lebih halus. Begitu pun dengan mengumpat. Ada kalanya orang Jogja dan Solo literally mengumpat dengan nada yang kasar, tapi untuk situasi yang biasa-biasa saja, pelesetan umpatan adalah opsi pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi jika kalian terbiasa dengan kultur Jawa Timuran, harap maklum kalau beberapa pisuhan (umpatan) terdengar tidak wangun. Setidaknya ini disampaikan oleh Mas <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-kata-umpatan-di-jogja-yang-nggak-ada-serem-seremnya\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">M. Afiqul Abidin<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tempo hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sarankan jika kalian merasa risih dengan misuh sopan ala Jogja-Solo, coba saja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ngeplak<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kepala sembarang orang, heuheu. Niscaya umpatan mereka akan terdengar lebih sangar. Kalian akan merasakan unsur garang di balik kelembutan orang Jogja-Solo. Sebenarnya saking halusnya orang Jogja-Solo, mungkin hampir setiap kata kasar dan umpatan memiliki pelesetan-nya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang lahir dan besar di sebuah daerah yang masuk dalam eks Karesidenan Surakarta alias besar dengan budaya yang \u201cnyolo\u201d, tentu terbiasa dengan peleset-mempelesetkan umpatan. Apalagi ketika saya masih duduk di bangku sekolah, jangankan anak sekolah, lha wong orang dewasa saja kadang sering ditegur ketika kedapatan mengumpat. Walau kini sering menerima banyak budaya baru dari luar yang lebih keras dalam urusan mengumpat, urusan peleset-mempelesetkan tak lantas hilang, baik sengaja atau tidak. Mungkin lidah ini kadung terbiasa dengan masakan manis serta umpatan yang manis pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katakanlah kata \u201casu\u201d yang di daerah Jawa Tengah dan DIY menempati kasta tertinggi dalam urusan misuh. Sebagai kata yang dianggap amat kasar, \u201casu\u201d sering dipelesetkan menjadi \u201casem\u201d atau untuk sedikit mendapatkan cita rasa yang lebih \u201casu\u201d digunakan pula pelesetan lain seperti \u201casyu\u201d. Atau di Jogja sendiri populer dengan kata \u201cpabu\u201d, jika kalian pendengar musik NDX AKA mungkin tak asing dengan kata ini. Diambil dari aksara Jawa, \u201cpabu\u201d sendiri berarti berarti \u201canjing\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian ada lagi \u201cbajingan\u201d yang menurut saya pribadi memiliki level yang sama dengan \u201casu\u201d. Pelesetan yang lahir dari \u201cbajingan\u201d sendiri adalah: bajilak, bajigur, bajingseng, dan bajing-bajing lainnya. Toh sekalipun kalian menegur orang yang mengumpat \u201cbajingan\u201d, orang Jogja-Solo selalu punya pembelaan, \u201cLha bajingan itu tukang dorong gerobak kok.\u201d Untuk menjembatani dua kata kasar ini lahir pula istilah \u201cMbah Jiman ngasu\u201d yang berarti \u201cbajingseng asem\u201d eh maksudnya \u201cbajingan asu\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada lagi kata \u201cmatamu\u201d yang juga memiliki banyak versi, seperti: matarap, mataram, matraman, dll.. Jadi, seandainya daerah Matraman itu nggak ada, lagu \u201cMatraman\u201d dari The Uptairs malah bisa jadi tambah romantis kok, lha wong bisa berarti matamu. \u201cAku di matraman (matamu), kau di Kota Kembang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara khusus, di Solo sendiri memiliki pisuhan-pisuhan khas dan mungkin karena lebih dipahami orang Solo, umpatan-umpatan ini di bawah level misuh \u201casu bajingan\u201d. Misalnya kata \u201cndlogok\u201d. Sekalipun terdengar biasa-biasa aja, umpatan itutetap memiliki pelesetan menjadi \u201cndlegek\u201d, \u201cndligik\u201d, dll.. Atau kata \u201clonte\u201d, walau bukan hanya di Solo, saya kira umpatan ini lebih sering digunakan orang Solo. Dari kata itulah muncul istilah seperti \u201clonteng\u201d. Bahkan, untuk saat ini bisa dibilang \u201clonteng\u201d sedang mendominasi lidah orang Solo buat misuh.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah penjelasan kenapa bagi orang luar, misuhnya orang Jogja-Solo dianggap nggak mashook, ra wangun dan wagu. Jadi mashook nggak mashook, setuju dan tidak setuju, orang Mataraman pada dasarnya tetap bisa kasar. Cuma penggunaannya tidak sesering orang di daerah Jawa Timur. Untuk itulah lahir misuh \u201cversi lite\u201d yang ke depannya mungkin masih akan bertambah lagi. Sebab kata-kata itu lahir sebagai parodi, kata-kata itu akan lebih sering kalian temui di momen-momen yang santuy, bukan di momen yang beneran misuh. Walau di momen santai lainnya kadang juga ada misuh beneran. Ngalah, ngaleh, ngamuk. Misuh pelesetan, misuh beneran.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dari-buka-sitik-jos-hingga-semongko-senggakan-adalah-unsur-penting-dangdut-koplo-jawa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dari \u2018Buka Sitik Jos!\u2019 hingga \u2018Semongko\u2019: Senggakan Adalah Unsur Penting Dangdut Koplo Jawa <\/a><\/strong><strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n<p><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika kalian terbiasa dengan kultur Jawa Timuraan, harap maklum kalau beberapa pisuhan atau umpatan ala Jogja-Solo terdengar tidak wangun.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":78741,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,2895],"class_list":["post-84831","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-budaya-jawa"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84831","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84831"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84831\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78741"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84831"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84831"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84831"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}