{"id":84823,"date":"2020-10-25T06:58:39","date_gmt":"2020-10-24T23:58:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=84823"},"modified":"2020-10-24T00:56:51","modified_gmt":"2020-10-23T17:56:51","slug":"orang-yang-menumpuk-notifikasi-sebaiknya-dirukyah-ningsih-tinampi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-yang-menumpuk-notifikasi-sebaiknya-dirukyah-ningsih-tinampi\/","title":{"rendered":"Orang yang Menumpuk Notifikasi Sebaiknya Dirukyah Ningsih Tinampi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah menyangka bahwa saya ini seseorang yang tidak bisa lepas dari gawai. Sejak pekerjaan menuntut saya untuk selalu mantengin lini masa dan gonjang-ganjing yang lagi hangat diobrolin netizen, sejak saat itu pula, kayaknya, saya mendaku diri sebagai orang fast response. Ya gimana, lha wong pegang hape terus. Jujur saja, saya jauh dari predikat manusia yang suka menumpuk notifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak fitur-fitur messenger memfasilitasi orang kepo untuk tahu \u201clast seen\u201d orang lain, mengetahui apakah pesannya sudah dibaca atau belum, saya setuju kalau ini memang agak annoying. Walau saya adalah aliran WhatsApp centang biru, bagaimanapun, saya paham ketika orang lain lagi sok jaga privasi biar keberadaannya secara daring nggak diketahui orang lain. Namun, lagi-lagi, saya nggak pernah dengan sengaja menumpuk notifikasi dan pura-pura slow respons hanya perkara lagi malas atau kelupaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara pribadi saya mafhum betul orang-orang\u2014kecuali penipu dan stalker obsessive compulsive\u2014mengirimi saya pesan melalui WhatsApp, DM, bahkan email bukan tanpa alasan. Jika pesan itu isinya pertanyaan, butuh balasan, sebisa mungkin saya prioritaskan untuk dibalas. Kalau cuma ngirim emoticon atau pesan berantai ya mau berharap apa, Bwos. Saya nggak lagi ngalem diri sendiri, tapi sumpah, kalau suatu saat saya susah dihubungi dan nggak balas-balas pesan kalian ya berarti saya emang lagi sibuk main layangan atau jadi juri permainan gundu bocah-bocah kompleks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak pernah paham motivasi orang yang menumpuk notifikasi. Banyak dari kawan saya yang kadang membiarkan bulatan warna merah nangkring di simbol DM akun Instagram mereka. Kadang ada juga yang membiarkan titik merah nyantol begitu saja di logo WhatsApp. Katakanlah saya mungkin OCD, selalu gatel sama simbol-simbol mencolok itu. Saya pasti ngebukanya satu-satu. Kalau nggak, rasanya ngganjel banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya saya heran banget kok ya ada orang yang menumpuk DM Instagramnya sampai 20-an notifikasi. Woy, lah, emang beneran mereka semua yang mengirimi kalian pesan itu benar-benar nggak butuh balasan?!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Okelah kalau obrolan WhatsApp grup diabaikan, saya masih maklum, lha grup keluarga aja ada belasan. Belum grup alumni, grup kantor, grup kelas, grup berbagi video itu, sampai grup tongkrongan yang isinya cuma enam orang. Tapi, kalau japri seseorang dibiarkan itu kok kayak kebacut gitu. Semacam tidak memberi penghargaan sama orang lain yang berusaha \u201cmenyapa\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah ngobrol dengan teman via WhatsApp. Obrolan kami memang nggak sepenting penyebab kebakaran Kantor Kejaksaan Agung, tapi cukup perlu lah untuk dibalas. Sayangnya, si bocah ini membalas pesan saya seminggu kemudian. Hadeeeh, keburu saya glow up. Ketika membalas pun, dengan penuh rasa bersalah blio bilang, \u201cAduh maaf ya, chat-mu tenggelam!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Www-wait, what?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untung saya nggak kehabisan napas dan langsung dilemparin ban pelampung sama penjaga pantai ya, Wak. Punten nih, saya bahkan sampai lupa sama topik yang kami bicarakan tempo hari. Saya sampai mengabaikan beberapa hal yang seharusnya saya pastikan karena saat itu saya tidak dapat balasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baiklah, jangan suuzan. Mungkin teman saya ini memang kontaknya dijadikan kontak online shop juga. Orderan lagi membludak, saya dikira mau minta resi kali ah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemikiran jadi orang fast response itu memalukan juga wagu. Takut dianggap sebagai orang gabut yang mantengin hape 24 jam, takut dianggap sebagai entitas paling ngebet saat PDKT dan dianggap agresif, takut \u201cketahuan\u201d jam onlinenya. Ini pemikiran macam apa? Hanya orang-orang punya banyak utang yang dikejar debt collector yang takut fast response. Pak Johny G. Plate pun akan turut bersedih mengetahui fenomena ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Justru orang yang tidak menumpuk notifikasi, orang yang berusaha fast respons, dan yang nggak gengsi chat duluan kalau memang butuh dan kangen adalah golongan orang terpuji yang patut diapresiasi. Simpel, orang kayak gini sedang berusaha menghargai orang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu rasanya risih banget kalau notifikasi WhatsApp menumpuk banget. Tiba-tiba ada sebelas japri yang perlu dibalas, puluhan mention yang perlu ditanggapi, iya saya tahu banget. Saya juga risih. Tapi, bedanya, saya dan golongan orang fast response lainnya akan berusaha mengurainya satu per satu. Membalasnya dengan sabar walau sambil sambat kok nggak berhenti-berhenti pesan masuknya. Sedangkan golongan yang menumpuk notifikasi alih-alih \u201cmengurai\u201d mereka justru seolah lari. Lempar hape sambil bergumam, \u201cLuweh lah!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang lagi ruwet dan nggak ingin dikirimi pesan, mudah sekali, Yorobun. Kalian tinggal uninstall aplikasinya. Saya juga uninstall Facebook karena udah nggak kuat membalas mention dan messengernya, saya kadang juga uninstall Twitter kalau udah telanjur memancing twitwar. Kalau menumpuk notifikasi untuk melarikan diri, malas, dan enggan memberi penghargaan pada orang lain, tapi tiba-tiba update status, saya belum dan semoga saja nggak pernah. Kecuali kalau lusa saya jadi selebgram follower 800K. Beda soal.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<\/strong>\u00a0<strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebelum-takut-sama-pd-iii-takutlah-dulu-sama-bencana-alam-buatan-manusia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sebelum Takut sama PD III, Takutlah Dulu sama Bencana Alam Buatan Manusia<\/a>\u00a0dan artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/penulis\/ajr\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ajeng Rizka<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya nggak pernah paham motivasi orang yang menumpuk notifikasi. Biar apa gitu? Kalau numpuk emang harga hapenya jadi naik? <\/p>\n","protected":false},"author":530,"featured_media":84828,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4479,1093,9316,307],"class_list":["post-84823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-hp","tag-instagram","tag-notifikasi","tag-whatsapp"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/530"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=84823"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/84823\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/84828"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=84823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=84823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=84823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}